Keadilan Sosial Bagi Penghayat

Ilustrasi

Oleh : Aan Anshori

Bagi orang-orang seperti ini, kemenangan kontestasi antarkeyakinan harus ditandai oleh aspek kuantitatif; yang menang adalah yang paling banyak jumlahnya. Angka statistik merupakan segalanya.

Cara beragama yang penuh keresahan dan kekuatiran berkurangnya jumlah pemeluk ini seakan mengkonfirmasi kritik WF Wertheim yang menyebut Muslim Indonesia terjangkit sindrom
“majority with minority complex”.

Sindrom ini acapkali memaksa penderitanya merasa berkewajiban mencari pengikut sebanyak mungkin, bahkan kalau perlu, dengan menabraki prinsip kemerdekaan beragama sekalipun. 

Dengan memanfaatkan “ajaran klasik”, mereka menerapkan beragam sanksi bagi pengikutnya yang berpindah keyakinan; dari pencoretan hak waris dan eksklusi keluarga hingga ancaman hukuman mati.

Bagi saya, alih-alih meminta Penghayat kembali ke pangkuan Islam atau merasa kecewa jumlah umat Islam akan berkurang, kita sebagai Muslim justru berkewajiban melindungi Penghayat dari ancaman diskriminasi, termasuk diskriminasi dalam pencatatan agama di KTP. 

Biarlah kolom "Agama" di KTP terisi dengan aliran yang menjadi identitas mereka; Sumarah, Ilmu Sejati, Kepribadhen, Sapta Darma, atau lainnya. Wallohu a'lam.

 
Sumber : Geotimes
Friday, January 26, 2018 - 13:15
Kategori Rubrik: