Ke Islaman Indonesia Memang Unik

ilustrasi
Oleh : Abdul Munib
Bukan Islam sebagai manifesto risalah. Kalau yang itu satu dan tetap begitu, sejak Kanjeng Nabi Muhammad bahkan sejak Kanjeng Nabi Adam sekalipun.
Yang dimaksud unik disini yakni dari sisi persepsi suatu bangsa terhadap manifesto risalah itu. Yakni bagaimana Bangsa Indonesia memandang atau menalar Islam sehingga ia utuh dan nyata dalam sosok diri bangsanya itu. Karena setiap jiwa yang bukan entitas nabi atau rasul tidak akan mampu masuk dalam dimensi frekuwensi
nalar nubuat maupun nalar risalah.
Orang Islam tidak akan mampu seperti Nabi Muhamamad menyelami kedalaman Kitab Al Quran. Begitupun orang Yahudi, tak akan bisa seperti Nabi Musa menghayati Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Juga orang Kristen tak akan dapat mendalami Kitab Injil sedalam pemahaman Nabi Isa.
Umat memang entitas yang lain. Disamping Nabi dan risalahnya sebagai entitas yang lain juga. Sehingga kalau ada umat yang mengklaim paling mengerti dan paling mendalam atau paling asli dan paling sesuai dengan manifesto risalah, itu sudah istikbar (arogansi). Jelas tipu. Karena umat bukan lah nabi.
Lha terus bagaimana dengan kita Kang Mat, yang tidak mungkin mengerti penuh seluruh terhadap manifesto risalah ?
Apa diperbolehkan beragama dengan pemahaman yang tidak presisi dengan kedalaman pemahaman nabi ?
Kang Mat : Justru kita yang bukan nabi tak mungkin sampai pada dimensi dan frekwensi pemahaman nabi tentang kitab suci. Kita tak punya dimensi wahyu. Yang ada di tengah kita adalah realitas pelbagai agama umat. Bagaimana umat mempersepsi
manifesto risalah itu. Yang tentu satu sama lain cita rasanya akan berbeda-beda.
Untuk menjadi ajang kompetisi, siapa yang amalnya terbaik. Li yabluakum ayukum ahsanu amala. Fastabiqul khairat. Juri kompetisinya siapa ? Ya Allah sendiri, nabi dan para walinya. Yang jelas jurinya bukan umat. Apapagi anggota FPI, yang katanya sedang ular ganti kulit.
Ular ganti kulit bagaimana, Kang ?
Kang Mid : Tanya Fadli Zon sama Hidayat Nur Wakit sana. Suruh Emha Ainun Nadjib jangan baper. Harus berani tentukan sikap, kalau Keluara Cemara ya Cemara saja. Jangan mau Cemara juga mau Cendana juga, kan kaco akhirnya. Jadi Gak jelas semua. Aja di Pek kabeh. Nggarahi ketok Pek Kai.
Tajuk Fesbuk
 
Sumber : Status Facebook Abdul Munib
Saturday, January 16, 2021 - 14:00
Kategori Rubrik: