Kaum Terbuka vs Kaum Dungu

Oleh: Sahat Siagian
Kapan hari, saya pernah menulis bahwa kalau diperhadapkan terang-terangan maka pertarungan antara kaum terbuka dan kaum tertutup selalu akan dimenangkan kaum tertutup.
Itu telah terbukti secara matematik. Beberapa persamaan menyodorkan hasil serupa. Jadi, secara kuantitatif itu jelas.
 
Bagaimana secara kualitatif?
Kalau bergerak ke arah absolut, kaum terbuka pelan-pelan akan membuka diri bagi kehadiran kaum tertutup, bahkan bagi pandangan-pandangan mereka. Pikiran kaum tertutup kemudian menjadi bagian dari pandangan kaum terbuka.
Sebaliknya, kalau bergerak ke arah absolut, kaum tertutup pelan-pelan dan pasti akan semakin menutup diri bagi pandangan lain dan yang berbeda dengan dirinya. Pada tingkat ekstrem itu melahirkan komunitas eksklusif dan terbatas.
Artinya di dalam komunitas tertutup tidak akan kita temukan kehadiran kaum terbuka. Di lain pihak, dalam komunitas kaum terbuka tak jarang kita temukan kehadiran kaum tertutup.
Saya pernah menjelaskan pendekatan Snajzd's model untuk menerangkan hal ini, males ngulang-ngulang lagi. Longok aja sendiri. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209693338488665&id=1786077330
Dalam kasus paling sederhana, hal itu terlihat pada pertumbuhan Cina yang gigantik.
Pertumbuhan mereka dikerek teknologi informasi. Kalau dulu barang-barang Cina harus melakukan upaya diplomasi tertentu untuk masuk ke negara lain, sekarang mereka bisa bebas melakukannya dengan menggunakan e-commerce platform.
Alibaba beredar dimana-mana. Orang mengimpor barang dari China dengan menggunakan platform tersebut. Realisasinya tidak perlu didahului dengan kesepakatan dagang. Siapa saja bebas membeli barang dari China melalui Alibaba.
Sebaliknya, Facebook tidak bisa beredar di Cina. Demikian juga dengan Google, Amazon, Wall Street Journal, dan semua apps dunia lainnya. Cina menutup diri.
Pertarungan jadi gak seimbang, 'kan? Tentu saja pertumbuhan ekonomi China terkerek tinggi. Sudah upah buruh di sana lebih murah, demokrasi dikadali dengan mimpi bersama tentang kesejahteraan sosial, ditambah lagi dengan perlakuan yang tidak adil dari dunia kepada Cina dibandingkan dengan Cina kepada dunia.
Buat saya, Trump terlambat kalau baru menghardik China saat ini. Dan harusnya Trump tidak sendirian. Presiden Jokowi perlu melarang Alibaba beredar di Indonesia sebelum China membukadiri bagi kehadiran Blibli, Tokopedia, Shopee, dan lain-lain.
China bisa saja berkilah bahwa mereka membuka Alibaba bagi kehadiran produk Indonesia. Fine, ujung-ujungnya Cina juga yang bakal lebih kaya.
Pertanyaan penting: haruskah kita bersikap terbuka kepada kaum tertutup? Jika tidak, maka sebetulnya kita tidak lagi menjadi kaum terbuka.
Jika ya, kita bakal melongo melihat kaum tertutup memimpin peradaban.
Sebagai pemenang, mereka akan memaksa kita untuk jadi kaum tertutup.

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Tuesday, August 11, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: