Kategorisasi Ulama

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kemarin saya menemukan sesuatu hal di luar rencana . Pagi saya isi dengan kegiatan fisik yang menyehatkan. menyapu halaman, memotong batang pohon yang mengganggu rumah tetangga.

Lalu ini, diskusi agama/filsafat yang mencerdaskan bersama WA group alumni kampung kos, sebelah barat kampus Ganesha (yang sudah digusur untuk Sabuga).
Asli saya belum pernah diskusi agama yang sebebas dan secerdas ini. Saya belum pernah ketemu secara fisik dengan sebagian besar anggota group tetapi diskusi berlangsung seru tanpa label mengkafirkan atau menyalahkan (hebat to?, itu ciri kedewasaan manusia).
.
Pancingan awal. Saat ini..dikesankan ilmu agama itu sulit. Jadi sebagian besar waktu manusia Indonesia muslim dihabiskan untuk belajar ilmu agama. Karyawan BUMN beberapa, lebih asik ngomongin agama daripada meningkatkan profit. Mahasiswa juga asik membicarakan strategi dakwah, sementara strategi pengembangan teknologi jarang dibicarakan.Ibu RT asik menghafal dan melafalkan surat tanpa tahu maknanya. Kadang hanya gara-gara ucapan 'ainnya salah, sama ustadz ditakuti nggak akan masuk surga.

Padahal agama itu soal pengamalan, berbuat baik untuk sesama, tidak mengganggu orang, bermanfaat bagi sesama. Nggak perlu dibuat rumit dengan hal-hal kecil yang nggak punya efek bagi kehidupan bersama.

Arah atau mainstream umat Islam sangat ditentukan oleh guru ngaji/ulama yang mengeksplorasi masalah ketauhidan dan keimanan semata-mata... Bisa jadi, karena para ustadz kurang paham ilmu alam, matematika, ekonomi dan ilmu lainnya...

Karenanya, sulit diharapkan akan keluar ide-ide tentang solusi terhadap persoalan masyarakat.Solusi yang dihasilkan hanya masalah tauhid dan keimanan.Tapi, setelah itu mau apa? Yang dibahas ya tauhid dan iman ( setelah itu membicarakan agama orang, membicarakan pilihan politik, surga neraka) .

Ada 2 kategori ulama ditinjau dari fokus bahasannya.
1. Ulama Zahir, yaitu ulama yang menguasai ilmu syariah, mereka menganggap penting hal-hal yang berkaitan dengan tingkah laku, seperti makan dengan 3 jari,memelihara jenggot dan memakai celana cingkrang, kalau tidak memilih pemimpin muslim masuk neraka da banyak hal-hal yang menakutkan lain..
2. Ulama tasawuf, yaitu ulama yang mementingkan aspek pengolahan batin melalui dzikir (perenungan, kontemplasi), yang muncul dalam bentuk akhlaq seperti tutur kata yang lemah lembut sebagai cerminan hati yang tentram, mengayomi, membantu sesama, dsb.

"Pertentangan" antara 2 kelompok ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, dan dendam para zahir masih membara sampai sekarang. Syech Zarruq misalnya, seorang wali di Libya yang hidup pada abad ke-17, pada tahun 2012 kuburnya dibongkar oleh pengikut salafi-wahabi !! Zarruq dicatat pernah mengatakan _"hati-hati dengan para ulama zahir, sebab pada umumnya mereka dikuasai oleh hawa nafsu".

Representasi ulama zahir kontemporer Indonesia adalah kelompok salafi-wahabi misalnya fékaès dan haté-i. Muhammadiyah sebenarnya termasuk aliran zahir, mereka adalah wahabi gelombang ke-2 yang masuk Nusantara lewat Ahmad Dahlan, tetapi menjadi lembut karena Ahmad Dahlan punya dasar tasawuf sebelum belajar ke Saudi bareng Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Para ulama tasawuf, seperti semua orang mafhum, berkumpul di Nahdlatul Ulama.

Orang Islam berhenti pada dua pilar besar, yaitu Rukun Iman dan Rukun islam. Tidak punya rukun ihsan. Rukun Islam seperti zakat pun lebih dimaknai dari sisi syariah, dosa, pahala, bukan kemanfaatan bagi distribusi kekayaan, penggunaan yang lebih berdaya guna, dsb.
Kalangan katholik beda, mereka menggabung 7 virtue menjadi semacam rukun ihsannya. Ada empat virtue (kebajikan) Socrates yaitu wisdom, courage, temperance_ dan justice (kebjaksanaan , keberanian, kesederhanaan dan keadilan) . Ditambah tiga virtue Judaism yaitu faith, hope dan charity. Thomas Aquinas meringkasnya di buku master piece Summa Theologia, bacaan wajib intelektual Eropa abad pertengahan, sebelum renaissance.

Itulah 7 "rukun ihsan" di Katholik yang tidak ada padanannya di Islam. Ketiadaan "rukun ihsan" membuat tidak adanya ukuran baku tentang seberapa ihsan seorang muslim (yang ada hanya seberapa islam dan seberapa beriman). Jadinya yang keluar seringnya adalah ibadah mahdoh atau vertikal yang tidak ada efek sosialnya.

Seorang intelektual Islam Indonesia pernah bilang, di negeri yang peran negara sangat dominan mengurusi kesejahteraan warga, agama apapun nggak laku, atheism dominan. Negara punya program kesejahteraan dan keselamatan sosial untuk warga yang kurang beruntung.

Di negeri yang yang Pemerintahnya sangat di-drive oleh agama, seperti Saudi Arabia dan Iran, atheism akan meluas. Persentase orang atheis di Saudi konon lebih besar ketimbang Indonesia.
Di negara seperti Indonesia, dimana Pemerintah tidak terlalu di-drive agama dan kesejahteraan sosial belum bagus, agama sangat laku.
Orang mencari kebahagiaan dengan mengikuti kegiatan keagamaan. Meskipun sering isi kegiatan keagamaannya tidak menyentuh persoalan yang dihadapi. Di sana lebih banyak membicarakan alam akherat dengan mengutamakan hal-hal kecil dan halal haramnya..

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Monday, March 25, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: