Katanya Rakyat Hidup Susah, Siapa Yang Biayai Reuni 212?

Ilustrasi

Oleh : Daniella Rowakomba

Minggu 2 Desember 2019, sekelompok orang berkumpul di seputaran Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Mereka mengklaim sebagai masyarakat muslim yang memperjuangkan nilai-nilai Islam. Hingga hari ini tidak ada yang tahu bahkan hingga tulisan ini dibuat, apa yang sesungguhnya mereka perjuangkan. Seperti kita tahu, Islam di Indonesia baik-baik saja bahkan 2 organisasi Islam terbesar NU dan Muhammadiyah mendapat terhormat oleh pemerintah. Belum pernah 2 ormas ini bisa merasakan perjuangan mereka dihargai.

Lihat saja, ada berapa orang dari Muhammadiyah maupun NU yang menjadi menteri atau penasehat presiden? Ada berapa pondok pesantren yang dibangun atau direnovasi dari APBN? Ada berapa santri dan masyarakat lingkungan pesantren menerima kucuran pinjaman waqaf mikro yang digagas pemerintah? Ada berapa tambahan kuota haji yang berhasil diperjuangkan? Dan masih banyak yang lainnya. Ini menandakan bahwa umat Islam di Indonesia bukan umat kelas dua apalagi tuduhan kriminalisasi.

Disisi lain, pertemuan reuni alumni 212 adalah hal yang aneh. Tidak ada hal substansial yang sedang mereka perjuangkan. Dalih memperjuangkan Islam hanyalah kedok belaka. Kepentingan sejatinya ya Pilpres 2019. Reuni 212 hanya alat, bargaining, pertaruhan para broker-broker politik kepada pasangan Capres Cawapres Prabowo Sandiaga. Buktinya hingga siang hari bukan hanya Anies Baswedan dan orang-orang 212 yang mengisi acara namun juga Prabowo yang turut hadir. Massa juga bolak-balik teriakkan Prabowo Presiden. Ini bukan Islam yang sesungguhnya, bukan jihad tapi perjuangan hawa nafsu.

Lha bagaimana tidak perjuangan hawa nafsu kalau ternyata sebagian massa semalam tidurnya di Istiqlal namun sholat subuh di Monas. Pun beredar meme orang-orang yang sholat dengan berdiri di kereta api. Itu menandakan bahwa ilmu atau pengetahuan agama mereka masih sempit.

Nah soal biaya, kita bisa kalkulasikan tuh. Sebelumnya Prabowo menyampaikan 99 persen rakyat hidupnya susah. Namun kenapa mereka bisa datang ke Jakarta? Pasti ada orang berduit yang bersedia menguarkan dananya puluhan miliar hanya untuk reuni 212. Para peserta yang datang diperkirakan sekitar 800 ribu orang. Jika kita pakai rata-rata kebutuhan biaya transport per orang baik yang dari Jakarta, Jabar atau Jateng dipukul rata perorang Rp 100.000 jumlahnya sudah Rp 80.000.000.000 atau Rp 80 M. Belum snack jika dihitung tiap orang mendapat Rp 15.000 dibutuhkan dana Rp 2,3 M. Kemudian biaya konsumsi atau makan jika perorang butuh Rp 20.000 akan menghabiskan anggaran Rp 16 M. Belum biaya panggung, biaya pengamanan, biaya property seragam pengamanan, biaya koordinasi, transport panitia dan lain sebagainya diperkirakan menghabiskan anggaran Rp 130 M.

Siapa yang bersedia keluarkan dana sebesar itu? Benarkah orang akan rela mengeluarkan dana sebesar itu tanpa motif apapun? Lantas jika yang mengeluarkan dana itu tidak muncul dipanggung apa mungkin? Pastilah yang mengeluarkan biaya itu yang mendapat tempat istimewa diatas panggung, dan dengan mudah kita lihat siapa yang seharian ini muncul disana. Siapa yang paling istimewa mendapat pengawalan? Atau pertanyaan sederhana, nama siapa yang diteriakkan bolak balik oleh pembawa acara? Itulah yang membiayai reuni 212.

 

Sunday, December 2, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: