Kasus Toto Sudarto

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Sedih membaca berita Toto Sudarto ditangkap Polisi di Sumatera Barat, karena laporan beberapa orang atas postingan Sudarto yang dianggap melakukan tindakan pidana yang menimbulkan rasa kebencian melalui medsos.

Apa yang dilakukan Toto dalam postingan fb-nya, bagi saya, memang juga out of control. Karena diposting di medsos, tapi hanya berisi pernyataan verbal. Tanpa bangunan argumentasi mengapa pernyataan itu perlu disampaikan, dan apa maksud serta tujuannya.

 

Ini juga peringatan untuk banyak teman aktivis medsos, untuk pandai menyisati bagaimana menyampaikan pendapat secara tertulis. Karena UU-ITE, jika diterapkan hanya mengacu pasal-pasalnya, akan banyak memakan korban. Bahkan pada yang tidak bermaksud sebagaimana larangan pasal-pasal aturan itu.

Tentu saja, lain halnya jika hal itu sengaja dilakukan Toto, karena ingin agar masalah ini muncul ke permukaan, secara hukum, meski dengan dirinya menjadi korban. Senyampang itu, ada ketidakadilan penanganan, bagaimana persekusi atas nama agama dibiarkan karena hukum dijalankan secara tidak adil sejak dari bangun tidur atau takut kehilangan pangkat. 

Mestinya hal tersebut bisa disudahi, jika Negara (aparat hukum, Polisi, juga Menteri Agama dalam konteks ini) mampu melihat masalah secara proporsional dan komprehensif. Mengenai akar masalah dan bagaimana kebijakan untuk melakukan de-radikalisasi yang dicanangkan Pemerintah dilaksanakan secara persisten. 

Jangan kemudian justeru sebaliknya, masalah utama relasi antara majoritas dan minoritas tetap saja soal intoleransi. Dan endingnya, hukum tunduk pada tekanan majoritas, dan culas pada minoritas. Sementara Negara sudah berjanji akan melindungi semua warga negaranya, tanpa memandang bulu ketek atau bulu hidung. 

Lantas buat apa Presiden mengangkat Menteri Agama dengan latar belakang seorang Jenderal Tentara, dan mengaku sebagai menteri semua agama, jika seperti bumbu masak miwon? Sami mawon! Atau bumbu masak sasa? Sama saja! Malah promosi!

Tentu kita tak perlu takut menyampaikan data dan fakta kebenaran, apalagi menyangkut ketidakadilan, dan lebih apalagi penindasan. Namun medsos kayak fesbuk, bukan media yang tepat untuk pernyataan tanpa argumentasi dan penjelasan mengenai latar belakang masalahnya. Betapa benarnya pun pernyataan itu.

Dan ssttt, ini pesan lainnya: Jangan sampai kasus ini dibesar-besarkan untuk menenggelamkan kebaikan seseorang dan memunculkan jagoan baru yang hendak digelembungkan bercitarasa presiden. Lho, siapa tahu to, wong namanya saja upaya. 

 

(Sumber: facebook Sunardian W)

Wednesday, January 8, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: