Kasus Sum Kuning : Saat Pelaku Perkosaan adalah Para Anak Pejabat

Oleh : Aji Prasetyo

21 September 1970, sekelompok anak pejabat (bahkan konon salah satunya adalah anak mendiang jendral pahlawan revolusi) menyergap seorang gadis miskin penjual telur yang ditemui di tepi jalan, menyeretnya kedalam mobil, memperkosanya bergantian sambil bernyanyi-nyanyi, merampok seluruh uang dagangannya, lantas mencampakkannya di pinggir jalan.

Sum Kuning adalah gadis malang itu. Usianya baru 17 tahun. Dan rupanya dia korban kedua dari kasus yang modusnya sama yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Ciri-ciri pelaku, jenis dan warna mobil yang digunakan mengindikasikan bahwa para pelakunya pun sama.

Kenapa begitu mudah pelaku bisa diidentifikasi? Karena di masa itu hanya anak orang yang sangat kaya saja yang bisa memiliki mobil pribadi. Dan geng anak pejabat ini di kalangan tertentu memang cukup populer kebrengsekannya.

Kasus Sum Kuning meledak dan menarik perhatian masyarakat. Banyak desakan agar kasus itu diusut tuntas tak peduli siapapun pelakunya. Mungkin ini kasus pemerkosaan pertama yang membuat Presiden ikut turun tangan, menginstruksikan agar kasus ini ditangani langsung oleh Kopkamtib. Jadi cukup unik, lembaga TNI AD seperti Kodim pun turut diterjunkan. Hasilnya, mereka berhasil menciduk beberapa tersangka yang tidak satupun merupakan pelaku yang sesungguhnya.

Lantas, mampukah penegak hukum kita menjebloskan para anak petinggi ini ke penjara?

Boro-boro, saudara. Sum Kuning yang baru saja pulih dari perawatan justru dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi. Dia dipaksa mengaku telah berbohong. Dia dianiaya dan diancam akan disetrum jika tidak menurut. Sum juga diminta untuk melucuti pakaiannya agar polisi bisa mencari tatoo palu arit di tubuhnya, karena Sum diduga anggota Gerwani yang berusaha memfitnah tokoh masyarakat.

Sum akhirnya diseret ke pengadilan atas tuduhan memberi laporan palsu dan menyebarkan fitnah. Jurnalis yang berusaha memuat berita yang sebenarnya pada diciduk aparat. Dan Jendral Hoegeng, Kapolri paling jujur dalam sejarah NKRI, rela lengser karena tidak mau kompromi dengan lobi para petinggi.

Setelah merenungi Kisah Sum Kuning, masihkah ada di antara kita yang merasa kangen dengan indahnya dipimpin rejim tempo hari? Mereka yang membina moral anaknya saja tidak becus, tapi dipercaya mengontrol moral bangsa.

* pagi-pagi sarapan buku cetakan 1971. Mengupas kasus Sum Kuning dengan tajam, dan syukurlah selamat dari pembredelan waktu itu.
Sayangnya cuma satu eksemplar, sudah dipesan orang, lagi. Nanti siang fotokopi ah..** (ak)

Sumber : Facebook Aji Prasetyo

Friday, May 20, 2016 - 11:30
Kategori Rubrik: