Kasus Kerabat Prabowo Sangat Mengerikan

ilustrasi

Oleh : Savitra Warokka

Kerabat Prabowo ditangkap karena membobol ATM Bank BCA. Polisi sudah mengamankan barang-barang bukti terkait aksinya selama ini. Publik pun heboh, kita kompak bertanya kok bisa? Bukankah Prabowo masih kaya raya? Membobol uang ratusan juta rupiah jelas tak sebanding dengan harga kuda-kuda Prabowo.

Yang paling menarik menurut saya, justru bukan aksi maling kerabat Prabowo. Tapi cara mereka menyembunyikan kebusukannya selama ini terbilang canggih. Ini menarik, kasus yang sudah terjadi pada bulan Februari lalu, ditangkap pada 26 Februari, tapi baru hari ini diberitakan di media-media mainstream.

Lebih menarik lagi, berita penangkapan RP kerabat Prabowo ini justru dibongkar oleh blog abal-abal. Dengan nama website yang tak pernah kita tahu sebelumnya.

Setelah menyebar di banyak grup WA dan sosial media, barulah polisi bicara, media pun memberitakannya. Unik. Jelas tidak mudah bagi blog baru atau yang tak familiar, tiba-tiba memuat tulisan yang sangat akurat dan sensitif: keponakan Prabowo ditangkap karena membobol ATM BCA.

Di saat orang lain berspekulasi soal uang hasil aksi pembobolan ATM, ada yang bilang untuk kampanye, ada yang bilang untuk membiayai ormas tertentu, entah kenapa saya lebih tertarik pada pengendalian pemberitaan.

Di jaman serba digital seperti sekarang, rasanya hampir mustahil ada yang bisa kita sembunyikan. Apalagi menyangkut keluarga ketum Partai. Tapi pada kenyataannya, kerabat Prabowo yang ditangkap karena membobol ATM ini berhasil lolos dari cibiran dan cacian selama hampir sebulan. Karena publik tidak tahu.

Jujur saya kagum. Hebat juga keluarga Prabowo menyembunyikan kebusukannya. Karena andai portal-indonesia atau rekat-indonesia tidak menurunkan artikel investigasi, maka pasti hari ini kita tak akan tahu tentang kasus ini.

Pengendalian media ataupun pengkondisian berita seperti ini sebenarnya jauh lebih mengerikan dari kasus pembobolan ATM itu sendiri. Karena pembobolan ATM ini hanya soal uang yang tak seberapa. Kecil lah. Sementara cara mengkondisikan agar kerabat Prabowo tak masuk dalam berita media, ini pasti melibatkan uang, kekuasaan serta cara-cara lama di rezim orde baru.

Saya tiba-tiba teringat dengan rezim Soeharto, mertuanya Prabowo. Media di jamannya, hanya akan memuat berita positif tentang pemerintah. Tidak ada kritikan, kebusukan atau kasus korupsi. Pemerintah selalu dicitrakan bersih dari apapun. Dan kalau sampai ada yang berani mengkritik, apalagi menghujat Soeharto, hampir bisa dipastikan yang bersangkutan akan hilang keesokan harinya. Mati tergantung di hutan, atau tenggelam di lautan.

Bagaimanapun saya coba melihat kasus ini dari sudut berbeda. Mungkinkah pihak BCA sengaja meminta agar tidak ada peliputan? Atau sebenarnya ada berita tapi tidak diketahui orang? dari semua imajinasi tersebut, saya tak menemukan satu alasan yang logis dan mungkin bisa diterapkan dalam kasus ini.

Sebab kasus pembobolan ATM sudah sering terjadi, artinya kalau terjadi pembobolan lagi, maka sudah sewajarnya publik mendapat beritanya. Dan tidak mungkin kita tak tahu sama sekali soal kasus ini, apalagi menyangkut hubungan si maling dengan Prabowo yang masih kerabat. Karena jangankan membobol ATM, kerabat Prabowo membobol pelacur pun kita dapat kok link videonya. Hahaha

Sehingga saya berkesimpulan bahwa kasus pembobolan ATM yang baru diketahui publik sebulan setelah kejadian, adalah hasil dari kerja senyap ‘pembungkaman’ secara terstruktur terhadap media. Dan ini sangat-sangat mengerikan.

Silahkan dibayangkan, dengan kekuasaan terbatas saja, kebusukan keluarga Prabowo bisa luput dari pemberitaan, apalagi kalau mereka diberi kekuasaan memimpin Indonesia? mungkin pembunuhan dan penculikan seperti tahun 98 akan kembali terulang dan media dibungkam agar tak memberitakannya.

Lebih mengerikan lagi karena ternyata blog yang memuat investigasi penangkapan kerabat Prabowo, yang sebelumnya bebas diakses publik, kini sudah limited atau terbatas untuk kalangan tertentu saja. Nampaknya pemilik blog pun sedang ketakutan dengan efek yang ditimbulkan dan membuat banyak politisi dan polisi angkat bicara karenanya.

Dengan kejadian ini, maka semakin jelaslah betapa ancaman orde baru atau pemerintahan ala rezim Soeharto itu tak boleh terulang lagi, tak boleh terjadi lagi. Dan untuk alasan apapun, kita tidak boleh memilih untuk kembali ke rezim diktator dan korup. Begitulah kura-kura.

Sumber : Status Facebook Savitra Warokka

Saturday, March 23, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: