Kasihan vs Mengasihi

Oleh: Setyo Hajar Dewantoro

 

Ada seseorang sakit, dan itu buah lakunya sendiri. Kita tersentuh emosinya. Lalu karena kita punya kemampuan healing, kita sembuhkan tanpa mendorong dia untuk belajar dari sakitnya itu Dia sembuh tapi jiwanya tak bertumbuh. Ini nananya kasihan, bukan mengasihi. Orang yang mengasihi, membantu proses penyembuhan sekaligus pertumbuhan jiwa: kita bantu dia mentransformasi kesadaran dan sembuh adalah bonusnya. 

Kita mengkondisikan anak-anak kita untuk tidak mengenyam rasa susah sama sekali. Kita membuat semuanya serba ada, serba gampang didapatkan, tak membuat mereka berjuang ini namanya kasihan yang didasari kemelekatan. Mengasihi anak berarti memfasilitasi anak secukupnya. Membuat anak tetap bisa survive sembari tergembleng mentalnya. 

 

Ada seseorang yang bercerita, dia sedang punya bisnis, butuh investasi.. Dan dia cerita itu betul-betul harapan dia untuk mengubah nasib. Kita terenyuh... Kita berpikir kalau kita tak kasih dana dia hidupnya akan terus susah.. Sembari kita tak mengecek dia sebenarnya jujur apa tidak, bisnisnya layak apa tidak. Itu namanya kasihan, yang pasti menjerumuskan kedua belah pihak. 

Saya, dihubungi beberapa orang yang butuh uang. Sebelum saya bantu, saya hening dulu Sehingga saya tahu mana yang harus diberi bantuan dengan jumlah berapa, dan mana yang tidak. Ini namanya mengasihi dalam tuntunan Guru Sejati. Soal nanti uang balik atau tidak, sama sekali gak penting. Kita juga perlu melatih diri melepas kemelekatan pada uang. Saatnya uang berpindah, biarkan berpindah, jangan digondeli 

Ada orang yang bicaranya dibuat lembut dan bijaksana. Pikiran Anda membuat Anda simpati padanya. Sementara dari pusat hati muncul sinyal, Anda, merasa gak nyaman... Ada dorongan untuk waspada pada orang ini. Tapi Anda mengabaikan sinyal dari pusat hati. Anda kasihan... Anda berpikir Anda punya kewajiban moral untuk tetap berbuat baik padanya, menolongnya. Dan Anda dah tak tahu bahwa anda sedang coba di perangkap olehnya. Inilah yang membuat orang-orang yang baik hati, naif, sering jadi korban para penjahat berwajah dan bertutur manis. Kasih dalam kasus ini adalah waspada, tidak tertipu, dan jika kita bisa, kita lebur angkara murka orang ini agar jiwanya selamat. 

Jadi, jelas bedanya :

Kasihan muncul dari persepsi bahkan prasangka, potensial mencelakakan.  
Kasih murni muncul dari rasa sejati pasti menyelamatkan... 

Kamu mengerti kan sayang? Hi Hi Hi

 

(Sumber: Facebook Setyo Hajar Dewantoro)

Wednesday, September 18, 2019 - 16:00
Kategori Rubrik: