Kasihan VS Kasihan

ilustrasi

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Sahabatku sering bilang kasihan. Iya kasihan lihat saudara seiman dan sebangsanya cuma jadi pasukan penggembira. Geruduk sana geruduk sini...lalu mengepalkan tangan sambil teriak "allahu akbar"!! lalu "betul!" Di saat yang lain berteriak "amin"...dan menyahut apa saja kata pimpinan pasukan baju putih itu. Mereka seperti tidak punya kesadaran atau menggunakan sedikit akalnya untuk mencerna dengan kritis ucapan-ucapan imam besarnya. Semua disahut "iya, amin" dan "takbir." Seperti sekumpulan orang yang tidak punya harga diri, nggak punya kebanggaan.

Setelah mereka pulang ke rumah nasibnya tidak berubah. Ya yang nganggur tetap nganggur, yang tukang ojek yang tukang ojek, yang satpam tetap satpam...Mungkin hatinya puas sudah berjuang dengan bergerombol dan berteriak-teriak memberi dukungan pada imamnya. Mungkin imam dan para pimpinan lain dapat imbalan finansial dari kegiatannya. Karena sering ada order dari pihak lain untuk membuat kerumunan, membuat demo, membuat arak-arakan yang mengesankan negara tidak aman, mengesankan massanya banyak. Tapi para pengikutnya itu mungkin hanya dapat nasi bungkus.

Sahabatku tidak benci pada mereka, cuma kasihan. Kasihan anak-anak bangsa ini dijadikan mainan bahkan oleh dia yang datang dari tanah gurun yang budayanya saja kalah dengan budaya kita. Menurut sahabatku, tidak ada value positif yang sebenarnya diajarkan selain diajak membenci, diajak merasa paling benar, diajak memusuhi kelompok lain yang tidak sejalan, diajari playing victim, diajari menyalahkan pihak lain. Saya perhatikan hampir tidak pernah mereka belajar bagaimana membangun karakter kerja keras, jujur, telaten, kreatif dan inovatif di era digital. Nggak pernah mereka membahas bagaimana menghadapi hidup di masa depan yang penuh tantangan, bagaimana sains bisa membantu kehidupan, bagaimana lingkungan harus dirawat, bagaimana polusi dikurangi. Adanya hanya teriak Allah, bela agama, hormati nabi. Retorika tanpa makna selain perasaan membenci, merasa benar dan seperti pahlawan yang baru saja menang entah melawan siapa.

Saya mencoba merenungi kata-kata sahabatku itu. Lalu saya berpikir jangan-jangan sebenarnya para pengikutnya itu memang pada dasarnya value yang dianutnya begitu, lalu menemukan orang yang tepat yang bisa menyuarakan perasaannya? Jadi memang mereka itu kumpulan orang yang value-nya sama.
Tapi sahabatku itu kadang geli karena mereka juga merasa kasihan melihat kita. Kata mereka kita tidak melakukan amar ma'ruf nahi mungkar versi mereka....Ya jadi ternyata kasihan vs kasihan.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Sunday, November 22, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: