Kasihan Sekali Ahok

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Ada beberapa hal prinsipil yang membuat kita perlu mengasihani Ahok. Namun bukan karena dia Cina dan Kristen, bukan. Soal kasus hukum yang menimpanya? Tidak juga. Ahok sudah minta maaf dan siap dihukum. Dia tidak mengemis minta dikasihani, playing victim dizalimi. Dia laki-laki, bersikap selayaknya laki-laki sejati.

Yang patut dikasihani adalah mengenai perjuangannya dalam Pilkada Jakarta, Ahok terlihat berjalan sendiri.

Ada beberapa partai pendukung, sebut saja PDIP. Namun sejak dulu, anggota partai banteng banyak yang sinis pada Ahok. Sebenarnya tidak hanya Ahok, Jokowi juga mengalami nasib yang sama, ketika baru menanjak namanya. Entah apa yang melatari hal itu, kecemburuan? Saya tidak tahu. PDIP seolah-olah terbelah. Ahok terlihat dibiarkan bergerak sendiri, melawan gelombang kebencian dari lawan politik yang menghantamnya secara bertubi-tubi.

Ada relawan. Namun kita juga sadar, calon lain juga punya. Relawan adalah mesin yang bergerak di bawah kendali calon gubernur. Baik langsung maupun tidak. Relawan bergerak dengan konsep, target, rencana. Mereka muncul sesuai momentum. Bukan diciptakan mendahului momentum. Bahkan Teman Ahok sekalipun.

Agus-Silvy berlindung di balik punggung SBY. Bagaimanapun juga, nama SBY masih cukup dipandang. Banyak yang tidak suka, tapi loyalisnya juga tak kurang. Kalaupun SBY punya salah, orang-orang kita terkenal pemaaf dan mudah lupa. Apalagi SBY pandai bersilat lidah. Soal Hambalang saja dengan ringan ia mengelak, bangunan itu tak mau disebut mangkrak.

Agus sang kuda hitam, memiliki cukup waktu untuk menyiapkan serangan. Tinggal moshing (atau diving) dan tebar janji, elektabilitasnya sudah melejit tinggi. Tahun-tahun kemenangan Demokrat bisa diulang lagi. Dengan menghalalkan segala cara tentunya. Dapat dilihat, dengan sangat terlambat partai itu sedang beregenerasi.

Dan baru saja Prabowo turun gunung. Kabar yang tentu saja mengagetkan. Namun bisa dimaklumi. Nomor Anies-Sandi jadi yang paling buncit, dalam arti sebenarnya. “Tenun Kebangsaan” yang dijadikan slogan indah itu tak cukup diminati. Janji Agus jauh lebih meninabobokan. Direalisasikan atau tidak janji itu, rakyat berhak bermimpi.

Anies hanya pandai berkata-kata. Di atas podium ia adalah rajanya. Namun langkah politiknya sering menimbulkan blunder. Sementara Sandi tak cukup lincah. Dalam bisnis bisa jadi ia jagoan, tapi di rimba politik ia benar-benar buta. Menghapus tudingan sekular dan membranding diri anti syiah tidak lantas melahirkan simpati. Apalagi mereka terlambat merangkul FPI. Jauh-jauh hari, saat ormas gemar main pentungan itu masih kelas coro, SBY sudah lebih dulu menjalin hubungan mesra.

Kebetawian telah dijual Silvy. Sandiaga juga tak cukup beruntung merapat ke FPI. Maka suara FPI dan Betawi telah jelas jadi milik siapa.

Untuk itulah sang begawan turun gunung. Prabowo yang telah berhasil diSoekarnokan itu tiba-tiba ikut blusukan. Orang-orang tidak perduli jika ayah Prabowo (Soemitro) adalah “musuh” Soekarno. Seperti yang saya katakan tadi, orang kita mudah memaafkan dan lupa. Maka gambar Soekarno itu dibawakan Prabowo saat berada di podium dan blusukan. Mulai pakaian, cara berpidato, sampai mikropon, sangat Soekarno sekali.

Di tangan Prabowolah Jokowi-Ahok lahir. Kita tak bisa menghapus sejarah ini. Namun tentunya yang pertama diingat adalah karena jasa media, dan Megawati tentunya. Prabowo hanya pandai melihat peluang. Jika tidak jadi media darling dan karena jiwa besar Megawati, Jokowi-Ahok mungkin tak pernah muncul.

Di kubu Ahok, tidak ada begawan yang turun ke gelanggang perang membelanya. Jika pilkada DKI Jakarta adalah perang Baratayuda, Ahok tak mewakili kepentingan Pandawa maupun Kurawa. Ahok justru persis seperti Puntadewa. Tokoh yang dipaksa ikut berperang. Dan di medan perang itu ia bergerak sendiri. Di sana ia melihat Begawan Salya ada di kubu Kurawa, sementara Krisna menjadi sais kereta dan juru taktik Pandawa. Dua orang begawan yang punya tujuan saling mengalahkan.

Puntadewa, ia memang berada di kubu Pandawa, tapi tak ada niat berperang dalam dirinya. Karena kemurnian hatinya itulah, ia menjadi satu-satunya kelemahan bagi kesaktian Salya, Candrabirawa. Seperti Puntadewa, Ahok juga berlaga sendiri. Ia punya kepentingan, betul, tapi bukan “ambisi membunuh.”

Dalam laga Pilkada DKI Jakarta, dua calon lain mirip anak TK. Mereka harus dibimbing dan diantarkan oleh orang tua mereka. Karena mereka terlalu “kecil” untuk menunjukkan dirinya sendiri. Mereka tak punya sikap untuk mandiri. Sementara Ahok mengangkat wajah dan berjalan sendiri. Tidak ada punggung Pepo sebagai tempat sembunyi. Tidak ada Soekarno KW yang melindungi.

Megawati konon dikabarkan mau ikut turun gunung. Menurut saya itu tidak perlu. Biarlah dua calon lain yang begitu. Ahok telah berlaga sebagai laki-laki sejati. Berdiri di atas kaki sendiri. Membuang jauh-jauh sifat manja dan minta dilindungi. Ia benar-benar sendiri. Oleh sebab itulah kasihan Ahok, kasihan sekali dia ini….

(Sumber: https://seword.com/politik/kasihan-sekali-ahok/ & Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Tuesday, January 10, 2017 - 05:30
Kategori Rubrik: