Karya Tokoh Politik Yang Masuk Penjara

Ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

GUE gak pernah bermimpi mantan bos gue yg baik hati, suatu hari bakal masuk penjara untuk kesalahan yg gak sengaja anak buahnya lakukan. Tentu saja kami shock. Sedih. Kasihan. Dan sulit membayangkan bagaimana dia bakal menghadapi hari2 di penjara.

Seiring berlalunya waktu hari demi hari dr balik penjara itulah bos gue ini, Arswendo Atmowiloto menulis beberapa novel. Tapi yg paling berkesan buat gue, lahirnya buku bergenre humor "Menghitung Hari". Buku saku tipis berisi pengalamannya selama mendekam di penjara Cipinang. Pengalaman yang lucu, naïf, unik, konyol tapi juga mengundang rasa haru.

Pada awalnya dia berpikir bahwa dijerumuskannya dirinya ke penjara hanyalah ‘guyonan sesaat,’ tetapi pada perjalanannya ia menyadari bahwa kenyataan berkata lain.

Yang luar biasa buat gue dia gak lagi dendam pada masa lalu. Juga gak mau mencari kambing hitam kayak banyak koruptor atau politikus kelas banci saat ini yg masuk bui. Penjara malah dia jadikan sebagai tempat belajar lagi tentang apa arti hidup. Bukan malah hidup seperti di rumah tp jiwa merana.

Cerita tentang orang hebat yg lahir dr penjara tapi tetap dipuja dan melahirkan karya2 hebat bukan cerita baru. Di Afrika ada Nelson Mandela yg selama dibui 27 tahun menulis buku "Conversation with My self" yg berlanjut dgn buku "Long walk for Freedom".

Di negeri kita ada Bung Hatta setelah dipenjara tahun 1927, lewat pledoinya yg dibacakan di Den Haag 22 Maret 1928 lahirlah "Indonesia Merdeka". Kemudian Bung Karno selama 9 bulan di penjara Bandung menulis "Indonesia Menggugat". Tan Malaka melahirkan "Madilog" (1946). Ada Pramoedya Ananta Toer dgn tetralogi Pulau Burunya.

Dan terakhir ulama favorit gue, Buya Hamka yg oleh geng orde lama dipenjarakan selama 2 tahun 4 bulan tanpa diadili dgn tuduhan palsu. Selama dalam tahanan dia mengisi hari2nya menyelesaikan "Tafsir Al Azhar" yg monumental.

Beberapa hari yg lalu gue denger Ahok di penjara selain rajin mengontrol pembangunan Masjid Mbah Priok, konon dia berkontemplasi dan berintrospeksi diri dgn cara menulis buku juga. Bahkan sampai tiga buku. Kalo betul, ini jelas luar biasa buat seseorang yg gak pernah menulis seperti orang2 hebat di atas. Sebuah pencapaian yg gak mungkin sanggup Ahok lakukan di luar penjara.

Dan yg lebih mengejutkan, Ahok juga menolak pembebasan bersyarat atas dirinya. Dia lebih suka bebas murni. Artinya dia akan menghabiskan masa hukumannya tanpa keringanan yg jadi impian para napi. Bahkan yg melarikan diri malah ngotot bolak balik minta SP3.

Seperti banyak tokoh dunia yg masuk penjara karena tuduhan palsu, penistaan, penghinaan, atas perjuangan mereka membela kebenaran, mereka menerima dgn lapang dada. Tulus. Iklas. Badan boleh terpenjara di tempat gelap tp pikiran bisa melanglang ke mana2 ke tempat penuh cahaya.

Apa Ahok atau tokoh2 dunia betah di penjara yg sangat berbeda dgn di rumahnya? Ya gaklah. Arswendo pernah berujar begini. "Yang bilang penjara itu enak, orang gila. Tapi yang bilang penjara itu gak enak, bisa gila."

Gue cuma mau bilang, berhati-hatilah buat yg rajin menghina, memfitnah atau memvonis seseorang. Bisa jadi orang-orang yang saat ini kalian fitnah dan dihinakan kelak jadi tokoh/pemimpin negeri. Sejarah sudah membuktikan dan akan terus berulang.

Bukan mustahil Ahok akan kembali seperti Mahathir utk membenahi DKI yg pernah ditatanya dgn baik sekarang silakan saksikan sendiri. Atau malah jadi Presiden RI? Siapa tahu.

Gue tunggu bukunya, Pak Ahok.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syakur

Saturday, July 14, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: