Karya Sufi Nusantara Segera Hadir

Ilustrasi

Oleh : Alfathri Adlin

Istri saya pernah bercerita bahwa anak-anak muda di Belanda, terutama teman-teman kuliahnya yang Londo asli, alias anak cucu para kompeni, heran kenapa Indonesia ngotot ingin memberhentikan hubungan dagang kedua negara tersebut sehingga menjadi negara yang morat marit seperti sekarang.

Dalam pelajaran sejarah di sekolah, mereka diajarkan bahwa Belanda tidak menjajah Indonesia. Toh yang turun tangan pun VOC, utusan dagang dari Belanda. Karenanya, mereka sama sekali tidak pernah meyakini bahwa Belanda menjajah Indonesia.

Nah, karena beberapa waktu yang lalu saya diminta membuat makalah tentang kajian sosial dan budaya dalam kaitannya dengan psikologi di forum HIMPSI, saya jadi membuka kembali sedikit sejarah tak mengenakkan ihwal antropologi yang pada awalnya berkembang untuk kepentingan kolonialisme. Di titik ini, penjajahan pun menjadi tersamarkan dan sejarah pun terbiaskan.

Misalnya, pernah dalam kelas kajian Serambi Suluk, salah seorang peserta menanggapi pemaparan saya soal “Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Yang Rahmat-Nya mendahului Murka-Nya, dan tak pernah menciptakan manusia hanya untuk dipermainkan-Nya sehingga tak ada tempat bagi kita untuk berkeluh kesah” itu merupakan doktrin yang disusupkan oleh Belanda ke dalam Islam.

Saya terkejut. Bagaimana bisa peserta ini berpikiran seperti itu? Di pengajian apa dia mendapatkan doktrin semacam itu, sehingga Allah yang diperkenalkan adalah Tuhan yang sebaliknya? Apakah itu juga alasan kenapa kekerasan atas nama agama malah seperti mendapatkan pembenaran? (Biasanya pandangan semacam ini lahir dari sterilnya lingkungan tersebut dari literatur tashawwuf yang memperkenalkan Allah sebagai Rahman dan Rahim, atau sebagaimana yang Rumi katakan: 'Banyak jalan menuju Tuhan; aku memilih jalan Cinta.')

Kembali kepada antropologi, dan bagaimana pemanfaatannya dalam kolonialisme, kita bisa melihat bagaimana kompeni menjadikan pengajaran agama begitu sulit karena tak bisa diakses oleh bahasa ibu. Karya para wali dan murid-muridnya yang nota bene ditulis dalam bahasa daerah diganti dengan buku-buku berbahasa Arab. Al-Quran tak boleh diterjemahkan, dan masuknya Wahhabi serta, yang paling mutakhir, adalah romantisme bubarnya Turki Utsmani.

Saat menjalani masa luntang lantung kuliah di ITB, saya sempat menenggelamkan diri dalam penelusuran berbagai literatur sufi Nusantara. Luar biasa. Annemarie Schimmel harus menarik ucapannya bahwa para sufi Nusantara hanyalah epigon Al-Ghazali, Ibn ‘Arabi atau para wali dari negeri seberang.

Kita ingat bahwa pendidikan umum baru dibuka oleh Belanda setelah Politik Pintu Terbuka, ketika para intelektual Belanda menang di parlemen negerinya. Lalu, sebagaimana umumnya kalangan intelektual, mereka lebih humanis (karena sebelumnya, penjajahan Indonesia dipegang oleh orang Belanda kelas dua, juga tentara dan para pedagang yang ingin hidup lebih baik di Hindia Belanda, dan mereka cenderung kasar, bahkan bengis). Makanya, sebelum kita mengenal para founding father yang nota bene lahir dari pendidikan umum, kita hanya tahu satu jalur pendidikan, yaitu pesantren. Dan di pesantren, seringkali hanya dibolehkan buku berbahasa Arab. Nyaris tak ada buku agama berbahasa ibu.

Silakan tengok perpustakaan Leiden. Semua karya sufi Nusantara diboyong ke sana sehingga masyarakat Indonesia pun akhirnya tidak mengenal khazanah para sufi dari tanah airnya sendiri. Makanya, wajar jika Islam yang akhirnya lebih dikenali di sini adalah Islam import. Islam menjadi agama yang sepertinya tak bisa beradaptasi dengan budaya Nusantara. Makanya, saat wacana Islam Nusantara diusung, banyak korban doktrin import sewot dan dengan naifnya bertanya: "Apakah istilah Islam Nusantara ada dalam hadits?"

Duh, kok sebegitunya amat sih?

Nah, melalui jurnal tashawwuf yang sedang saya tangani, Insya Allah saya dan teman-teman seperjalanan akan mencoba mengupas karya para sufi Nusantara, semata untuk menunjukkan bahwa di negeri ini pun banyak karya orisinal yang menyimpan khazanah luar biasa dan bisa mengalihkan kita dari doktrin import negara teokrasi versi anu atau anu, romantisme Baghdad dan sakit hati atas bubarnya Turki Utsmani, serta kesibukan mengkafir-kafirkan orang lain sambil lupa ‘siapa dirimu dan untuk apa kau lahir ke muka bumi ini?’....

Karena itu, upaya pengembalian serat-serat tashawwuf nusantara yang Belanda boyong ke Leiden, sebagaimana yang pernah Soeharto lakoni saat Orde Baru dulu, seharusnya diteruskan. Masih banyak serat-serat sufi nusantara di sana yang belum kembali ke tangan kita...

Sumber : Status Facebook Alfathri Adlin

Friday, January 26, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: