Kartun Sesat Kereta Cepat

Ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Onan Hiroshi mengeluarkan 2 kartun tambahan mengenai HSR (High Speed Railway/Kereta Cepat). Sayangnya, alih2 sebagai kritik, kartunnya justru menyajikan informasi yg menyesatkan dan bahkan melenceng dari kenyataan. Bahkan memutar balikkan fakta.

1. Betul awalnya tahun 2011-2012 Indonesia bekerja sama dengan Jepang dalam membuat studi kelayakan HSR Jakarta - Bandung yg dibiayai oleh Jepang. Tapi jangan lupa, konsultannya pun dari Jepang. Sehingga secara tidak langsung, mayoritas uang jelas kembali ke mereka sendiri. Praktis hanya biaya akomodasi dan tenaga kerja lokal saja yg "mampir" ke Indonesia.

2. Tahun 2011/2012, dunia belum merasakan krisis ekonomi. Komoditi dan harga minyak masih tinggi. Secara logika masih dapat diterima jika Indonesia menyetujui prasyarat proyek yg meminta jaminan pemerintah, yg jika proyek merugi, maka pemerintah wajib menutup kerugian proyek.

3. Tapi ceritanya jadi berbeda saat Jokowi naik tahta. Harga minyak anjlok, komoditi jeblok, ditambah China pun "mengerem" belanja, Rupiah melemah. Kasarnya, situasinya seolah terbalik 180 derajat dibanding saat studi kelayakan.

4. Jokowi lalu memutuskan untuk mengajukan syarat tanpa jaminan pemerintah bagi proyek HSR. Tentu saja ini sangat wajar. Di tengah carut marut kondisi APBN akibat tingginya beban subsidi dan buruknya infrastruktur, penambahan jaminan APBN untuk proyek canggih semisal HSR bisa memakan porsi tidak sedikit. Sementara infrastruktur dasar di luar Jawa masih memperihatinkan. Skala prioritas.

5. Kenapa tidak dibatalkan? Kalau dibatalkan justru bisa jadi bumerang baru. Nanti bisa saja timbul persepsi kalau di Indonesia tidak memiliki iklim kepastian berinvestasi. Ganti presiden bisa menyebabkan gagalnya investasi. Tidak ada kesinambungan. Fatal.

6. Jadi sangat logis kalau sebagai jalan tengah dilakukan tender terbuka. Artinya, kepastian investasi tetap bisa terjaga, inisiasi SBY bisa tetap dilanjutkan, tapi tanpa membebani APBN karena syaratnya diubah. Silahkan ajukan tawaran, tapi tidak ada jaminan pemerintah. Murni bisnis, B (business) to B, bukan G (government) to G atau G to B.

7. Indonesia menawarkan ini secara terbuka. Jepang, China menyatakan tertarik. Adakah proses tender bisa disebut mengemis? Silahkan mau ikut, kalau tidak berminat ya tidak dipaksa. Inikah definisi mengemis? Catat, inilah sesat yg pertama dari kartun Onan.

8. Setelah proses tender selesai, ternyata hanya China yg bersedia menjalankan proyek tanpa jaminan. Dalam kartun digambarkan Indonesia memberikan data ke China. Anggap saja ini betul terjadi. Apakah salah? Tentu tidak. Data telah menjadi milik pemerintah. Jadi mau diapakan data tersebut, entah dibakar atau dijadikan kertas gorengan, sudah merupakan hak pemerintah. Apalagi di beberapa berita disebutkan bahwa China pun juga melakukan studi kelayakannya sendiri. Ini sesat yg kedua dari framing kartun Onan.

9. Framing berikutnya digambarkan bahwa Indonesia kembali "mengemis" kepada Jepang karena masalah ketersediaan dana dari China. Padahal penundaan pencairan terjadi karena terkendala masalah progres pembebasan lahan. China malah mendesak Indonesia agar lebih bisa mempercepat progres HSR. Ini menjadi sesat yg ketiga.

10. Akibat salah tafsir tersebut, ia menggambarkan seolah Indonesia kemudian beralih "mengemis" agar Jepang mau membiayai proyek HSR Jakarta Surabaya. Lagi2 salah besar. Justru yg nampak di lapangan malah sebaliknya. Jepanglah yg sempat dag dig dug.

11. Ini terjadi karena mereka melihat menteri perhubungan sempat menyatakan masih membuka diri terhadap investor lain walaupun saat ini baru Jepang yg serius mendekat. Seorang pejabat Jepang mengatakan bahwa mereka masih trauma akibat kekalahan di waktu proyek HSR Jakarta-Bandung. Ini sesat yg keempat dari rangkaian kartun Onan.

12. Secara umum, apakah ada sentimen negatif terhadap Jepang? Mustahil. Proyek kereta di Indonesia justru masih didominasi oleh Jepang. Contoh nyata adalah MRT dan LRT, semua bekerja sama dengan Jepang, bukan China. Pun kereta Jakarta Surabaya kembali Jepang yg berpeluang.

13. Artinya semua keputusan diambil murni karena kepentingan nasional. Apalagi di dalam bisnis semua pihak adalah setara, semua saling memerlukan. Satu pihak tidak lebih superior dibanding pihak lain. Semua berdiri sejajar. Jangan baper.

14. Yang saya sayangkan justru sebagian masyarakat Indonesia malah mendukung "penghinaan" terhadap bangsa sendiri melalui kartun tersebut. Hanya karena syahwat politik, mereka tak segan "menjual" harga diri sebagai sebagai sesama anak bangsa dan memihak asing.

15. Sejatinya sosok Jokowi adalah penggambaran yg mewakili bangsa Indonesia. Hanya karena yg nampak kasat mata adalah buli terhadap Jokowi, mereka lantas bersorak sorai. Lagi2, walaupun bukan hal yg baru, mereka gagal membaca konteks sebuah permasalahan. Miris.

Padahal kalau mau, kita sangat mampu membiayai sendiri kereta Jakarta Surabaya. Butuh piro? Satus triliun?? Lima ngatus triliun?? Nyoooh!!! Nyooh!!! Seneng toh kowe? Nyoohhh ambil sak karepmu!!! Aku ra butuh!!! #ThePowerOfBuDendy

Sumber : Status Facebook Aldie El Kaezzar

Monday, February 26, 2018 - 23:30
Kategori Rubrik: