Kartun Nabi dalam Perspektif Macron

ilustrasi

Oleh : Atoillah Isvandiary

Saya tidak mengomentari apa yang dilakukan majalah Charlie Hebdo dengan gambar karikatur nabi Muhammad SAW nya yang mengundang kontroversi hingga detik ini, yang memantik gelombang seruan boikot produk Prancis yang sudah menderita akibat pandemi covid-19 sebelumnya.

Terlepas dari kegusaran individual yang subyektif, secara obyektif saya nilai yang dilakukan Cahrlie Hebdo hanyalah sensasi murahan untuk menaikkan oplah. Kebebasan omong kosong, yang sungguh naif bagi yang percaya di satu sisi, sementara di sisi lain juga percaya kapitalisme industri. Seni? Meh.

Yang ingin saya komentari adalah respon dari Macron.

Entah apa yang sebenarnya Macron, atau sebagian warga Perancis, atau bahkan Eropa, atau lebih luas lagi: Orang Barat pikirkan: apakah kebencian pada ideologi Islam (mungkin tidak benci muslim, tetapi kalau benci pada ideologinya tentu akan ada stigma yang mengiringi terhadap pemeluknya), ataukah betul-betul karena begitulah persepsi mereka terhadap kebebasan berekspresi: seharusnya tidak dibatasi.

Seandainya yang terjadi adalah yang terakhir, maka di sinilah letak absurditas nilai-nilai kebebasan Eropa. Bandingkan dengan kebebasan yang diajarkan guru Pancasila kita: Kebebasan kita itu ada batasnya, yaitu: orang lain. Karena itu, saya bahagia jadi orang Indonesia, karena kebahagiaan sesungguhnya itu adalah ketika kita bahagia dan yang lain ikut bahagia. Apa artinya kalau kita bahagia tetapi menyebabkan orang lain tidak.

Tentu orang Barat, dan bahkan sebagian kita, heran dan bertanya-tanya. Mengapa orang Islam bisa tersinggung berat hanya gara-gara karikatur?

Di sinilah pentingnya mereka, dan juga kita, belajar dan akhirnya menghormati nilai kepercayaan dan budaya orang lain (padahal ini ilmu sosiologi yang dikembangkan oleh sains Barat, dan ini membuktikan adanya standar ganda dalam pengambilan sudut pandang).

Islam, sejak awal diturunkan, memiliki ciri teologi monoteisme yang khas, salah satunya adalah penolakan tegas terhadap visualisasi dan personifikasi keTuhanan dan simbol-simbol agama dalam bentuk makhluk hidup. Sehingga salah satu upaya untuk menghindari upaya-upaya ke arah sana, maka visualisasi nabi Muhammad SAW (apalagi Allah swt) baik dalam bentuk gambar maupun patung sangat diharamkan, karena jelas, kecenderungan sifat manusia secara umum dalam melakukan ritual itu juga khas: lebih suka memilih yang lebih gampang ditangkap indera. syukur-syukur bisa dilihat bahkan dipegang-pegang. Dan dari situ, bisa ditebak kelanjutannya, benda itu akan dikultuskan layaknya Tuhan atau nabi itu sendiri, dan inilah yang dicegah Islam sejak awal.

Dan kedua, dan mungkin karena alasan pertama pula, visualisasi makhluk hidup, kecuali ada alasan mendesak, tidaklah populer dalam yurisprudensi Islam.

Sehingga, sebenarnya mudah untuk disimpulkan, kecuali bagi yang tak mau dan tak mau tahu, visualisasi nabi Muhammad SAW, apalagi dalam bentuk karikatur yang tentunya menonjolkan ketak sempurnaan fisik, atau kelucuan, melanggar banyak nilai tadi dan juga, saya kira tak sulit dipahami bahwa ketika kita begitu mencintai sosok seseorang, tentunya akan merasa tersakiti ketika ada yang melakukan tindakan yang berpotensi mengurangi bahkan menafikan penghormatan dan kecintaan kita pada sosok tersebut dengan mendegradasi dan menghumiliasinya.

Sesederhana itu, monsieur Macron.

Sumber : Status Facebook Atoillah Isvandiary

Saturday, October 31, 2020 - 13:45
Kategori Rubrik: