Kartun Nabi dalam Perspektif Macron

Di sinilah pentingnya mereka, dan juga kita, belajar dan akhirnya menghormati nilai kepercayaan dan budaya orang lain (padahal ini ilmu sosiologi yang dikembangkan oleh sains Barat, dan ini membuktikan adanya standar ganda dalam pengambilan sudut pandang).

Islam, sejak awal diturunkan, memiliki ciri teologi monoteisme yang khas, salah satunya adalah penolakan tegas terhadap visualisasi dan personifikasi keTuhanan dan simbol-simbol agama dalam bentuk makhluk hidup. Sehingga salah satu upaya untuk menghindari upaya-upaya ke arah sana, maka visualisasi nabi Muhammad SAW (apalagi Allah swt) baik dalam bentuk gambar maupun patung sangat diharamkan, karena jelas, kecenderungan sifat manusia secara umum dalam melakukan ritual itu juga khas: lebih suka memilih yang lebih gampang ditangkap indera. syukur-syukur bisa dilihat bahkan dipegang-pegang. Dan dari situ, bisa ditebak kelanjutannya, benda itu akan dikultuskan layaknya Tuhan atau nabi itu sendiri, dan inilah yang dicegah Islam sejak awal.

Dan kedua, dan mungkin karena alasan pertama pula, visualisasi makhluk hidup, kecuali ada alasan mendesak, tidaklah populer dalam yurisprudensi Islam.

Sehingga, sebenarnya mudah untuk disimpulkan, kecuali bagi yang tak mau dan tak mau tahu, visualisasi nabi Muhammad SAW, apalagi dalam bentuk karikatur yang tentunya menonjolkan ketak sempurnaan fisik, atau kelucuan, melanggar banyak nilai tadi dan juga, saya kira tak sulit dipahami bahwa ketika kita begitu mencintai sosok seseorang, tentunya akan merasa tersakiti ketika ada yang melakukan tindakan yang berpotensi mengurangi bahkan menafikan penghormatan dan kecintaan kita pada sosok tersebut dengan mendegradasi dan menghumiliasinya.

Sesederhana itu, monsieur Macron.

Sumber : Status Facebook Atoillah Isvandiary

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *