Karma

Oleh: Sahat Siagian

 

Saya tidak tahu apa nama camilan dalam gambar ini. Tadi sore, sehabis makan malam di kedai pinggir sungai, saya mampir di bakery bermaksud membeli cake. Tapi mata saya tertambat pada camilan ini.

Ibu pemilik bakery tidak tahu berbahasa Inggris. Dia hanya menjawab singkat bahwa itu coklat ketika saya tanya.

 

 

Coklat..., berwarna putih?

It's chocolate, ucapnya tegas tak sabaran. Negeri ini memang terkenal dengan coklatnya yang super-duper-yummy.

Saya nyerah, memutuskan untuk membeli. Dia menunjukkan angka di kalkulator sebagai harga. Kira-kira Rp. 75.000.

Sesampai di kamar saya amati bentuknya. Dua bilah biskuit Oreo berhadapan dengan posisi agak bersilang. Entah apa maksudnya. Tiba-tiba saya teringat kepada filosofi karma.

Seorang rahib Budhisme di Paris pernah bertutur pada saya bahwa karma adalah bagian dari filosofi keseimbangan, bukan pembalasan--semacam komplementari sebab-akibat.

Apa pun yang Anda lakukan pasti ada penyebabnya. Dan apa pun yang Anda lakukan juga jadi penyebab bagi akibat yang menjadi kelak.

Kalau Anda mencuri, di suatu saat mungkin Anda akan tertangkap. Kadang itu menerus hingga sesuatu dicuri dari Anda. Tapi ingatlah, pencurian yang terjadi pada Anda di pekan atau tahun depan bukanlah balasan bagi pencurian yang Anda lakukan kemarin. Anda sedang melempar kerikil ke pantai yang lalu menghasilkan riak. Percaya atau tidak, riak itu akan kembali pada Anda.

Prabowo mengeluh karena guyonnya di Boyolali menghasilkan keriuhan besar pada hari Minggu kemarin. Dia lupa, dia dan partai pengusungnyalah yang menciptakan itu ketika menjungkalkan Ahok.

Boyolali bukan balasan. Prabowo, Sandiaga, Anies, Gerindra, Demokrat, PKS dan PAN menyambit kerikil ke pantai, menghasilkan riak pada November-Desember 2016. Riak itu membesar, menjadi gelombang, mengarungi lautan tak bertepi dan sekarang kembali ke mereka.

Di titik inilah ucapan Ahok menemukan wujudnya. Bukan di Jaksa yang tewas pada penerbangan JT610. Penolakan di Boyolali adalah permulaan. Ia berkemungkinan menerus dari kota ke kota. Gelombang itu tak akan berakhir. Dalam iman Kristen gelombang ini hanya bisa dihentikan oleh pengampunan.

Saya termenung di hadapan dua bilah biskuit coklat.

(Sumber: Facebook Sahat Siagian/
sayapesansatu.com)

Wednesday, November 7, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: