Karim vs Hisahito

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

“Kepolisian Jepang meningkatkan keamanan pada cucu Kaisar Akihito yang berusia 12 tahun, setelah dua pisau ditemukan di dekat mejanya di sekolah, beberapa hari menjelang pengunduran diri Kaisar Akihito” (kompas online, 30/4/2019).

Pangeran Hisahito, bisa dipastikan menjadi penerus tahta kekaisaran Jepang, meski bukan anak Naruhito (yang belum lama lalu menggantikan Kaisar Emiritus Akihito). Hisahito anak lelaki dari Pangeran Fumihito, adik dari Naruhito yang 'bakal menggantikan Naruhito, untuk kemudian kelak diteruskan pada Hisahito. Hal itu karena kekaisaran Jepang harus dipegang anak lelaki, sementara Naruhito beranak tunggal putri bernama Aiko.

 

Pada hari yang sama di media Kompas (29/4), juga ditulis tentang anak sebaya bernama Karim Maullah. Siapakah dia? Pangeran cilik juga? Calon pewaris tahta kaisar atau raja jugakah? Karim Maullah (10), bocah kelas 3 SD yang sendirian menempuh perjalanan dari rumahnya di Kemayoran menuju Sekolah Masjid Terminal (Master) di Depok. 

Sehari-hari, Karim pergi ke sekolah menggunakan KRL commuter line. Melintas batas dari Jakarta Pusat ke wilayah Jawa Barat. Berseragam kedodoran, beralaskan sandal karena tak punya sepatu. Ia berangkat sendiri ke sekolah, karena Diana (61) nenek yang biasa mengantar, lagi sakit.

Berangkat subuh Karim diantar kakeknya yang bekerja sebagai tukang ojek. “Kakeknya mah nganter sampai stasiun. Nanti dia beli tiket sendiri dan jalan sendiri sampai sekolahan,” cerita Diana. Dari Stasiun Kemayoran, Karim menempuh perjalanan 1,5 jam ke Stasiun Depok Baru. Dari stasiun, masih jalan kaki sejauh 550 meter. 

Sekolahnya tentu berbeda dengan Hisahito yang sekolah khusus para bangsawan. "Kami hidup di tengah-tengah alam," begitu tulis tangan Pangeran Hisahito dalam sebuah esai, seperti dikutip Japan Times.

Saat masih bayi Karim kerap keluar masuk rumah sakit akibat gizi buruk. Badannya kurus banget, dan sejak kecil tak diperhatikan orangtuanya. “Makanya langsung saya ambil dan urus dia sejak bayi," tutur Diana. Awalnya, mereka tinggal di Situ Lio, Depok. Namun, sejak 2016, mereka pindah ke Kemayoran. Pekerjaan Diana, menjadi pemulung botol-botol bekas.

Bagi seorang kreatif Pramoedya Ananta Toer, kontradiksi semacam itu melahirkan karya Bumi Manusia (1980). Memparadokskan Minke dengan Ratu Juliana, lahir pada hari yang sama, namun dengan nasib berbeda.

Kita akan melihat kelak, bagaimana nasib Karim dan Hisahito. Menurut Badan Rumah Tangga Kekaisaran, Hisahito bertanggung jawab merawat kelinci dan hamparan bunga sekolah pada masa-masa terakhir di SD-nya. Tapi bisa dipastikan, kekaisaran dari Naruhito akan diteruskan Fumihito, untuk kemudian ke Pangeran Hisahito. Sedang Karim Maullah? Apakah akan menjadi tentara, sebagaimana telah dicita-citakannya?

 

(Sumber: facebook SUnardian W)

Wednesday, May 8, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: