Karena Ulah Panama Paper PM Islandia Mengundurkan Diri, Bagaimana Nasib Sandiaga Uno?

Oleh: Pebrianov

Akhirnya 'Panama Paper' menelan korban pertama. Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson yang namanya tercantum dalam 'Panama Paper' sebagai orang yang ''bermasalah dengan pajak' akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya. Di dalam dokumen itu juga tercantum nama istrinya, Anna Sigurlaug Palsdottir, maka lengkaplah 'dosa' pejabat ini.

Panama Papers adalah dokumen rahasia yang memuat daftar banyak orang penting sejagat yang menyembunyikan uang mereka dari endusan pajak di masing-masing negaranya. Dokumen rahasia bocor ke media masa dari pusat data firma hukum Mossack Fonseca yang berbasis di Panama.(Sumber kompas.com).

Sejumlah nama orang penting dan super kaya baik pengusaha maupun politikus dari Indonesia seperti James Riyadi-Boss Lippo, Franciskus Welirang (pengusaha), Muhammad Riza Chalid (pengusaha minyak), Djoko Soegiarto Tjandra (pengusaha dan buron kasus Bank Bali) , dan Sandiaga Uno (pengusaha dan politisi Gerindra) juga tercantum di dokumen itu sehingga bikin heboh. Konon, total jumlah orang Indonesia 800 orang.

Melihat Reaksi si Santun Sandiaga Uno

Satu nama yang sedang naik daun dalam politik negeri ini adalah Sandiaga Uno. Saat ini dia digadang-gadangkan akan ikut pemilihan gubernur DKI 2017. Dengan keluarnya data 'Panama Paper' tentu mengejutkan banyak pihak. Tak terkecuali Sandiaga Uno sendiri dan partai Gerindra tempat dia bernaung.

Partai Gerindra identik dengan Prabowo, salah satu sosok politik yang berkarakter di negeri ini. Sementara Sandiaga Uno merupakan salah satu anak emas Prabowo di Partai Gerindra. Oleh Prabowo, dia diharapkan bisa 'mengalahkan' Ahok pada Pilgub DKI2017. Karakter Sandiaga Uno yang tenang, santun dan terdidik menjadi andalan yang bisa 'dijual' ke masyarakat pemilih. Karakter itu merupakan kebalikan Ahok, sang petahana yang akan dilawan Sandiaga Uno. Gerindra berharap karakter ini menjadi pilihan masyarakat DKI yang 'rindu' pemimpin santun.

 Sebenarnya, sosok Sandiaga Uno saat ini sangat mumpuni untuk tampil di Pilgub DKI2017. Namun disaat dia sedang bersiap-siap tampil, muncul bocoran 'Panama Paper' yang mencoreng nama Sandiaga Uno dan Partai Gerindra.

Konteks 'Panama Paper' memunculkan asumsi publik bahwa Sandiaga Uno 'berbuat jahat' pada negara ini. Dengan menghindari pajak maka integritasnya diragukan. Hal ini tentu sangat merugikan citra dirinya secara dan Partai Gerindra. Terlebih partai Gerindra sedang terpukul setelah kadernya santun lainnya yakni M. Sanusi tertangkap tangan KPK perkara Korupsi.

Seperti 'kebiasaan' para tokoh kuat dan berpengaruh di negeri ini bila mendapat 'pemberitaan miring' umumnya menuntut balik 'pencemaran nama baik' atau dengan segala cara 'memukul balik' si Sumber berita miring. Kalau perlu memenjarakannya.

Hal tersebut bisa dilakukan bila si Sumber pemberitaan adalah orang atau lembaga itu berbasis di negeri ini. Kekuatan uang, kecerdasan, kelicikan dan pengaruh politik bisa mengendalikan undang-undang negeri ini. Tokoh kuat akan memenangkan perkara dan citranya kembali mentereng sseolah tak pern berbuat salah.

Kali ini 'Kebiasaan' tersebut sulit dilakukan Sandiaga Uno dan timnya karena sumber 'Panama Paper' berbasis di luar negeri. Apa yang ditampilkan telah menjadi konsumsi global, milik publik Internasional dan telah jadi persoalan bersama dunia karena melibatkan para pesohor dunia.

Tingkat validitas 'Panama Paper' sangat kuat yang membuat para tokoh kuat dunia pun tak bisa berkutik di negaranya masing-masing. Salah satu korban pertama adalam PM Islandia yang 'terpaksa mundur' dari jabatannya.

Kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukan Sandiaga Uno?

Bila dia terus 'ngeles' dengan beragam argumentasi 'aneh' bisa membuat blunder besar karena publik tak mudah percaya. Blunder itu bisa membuat Sandiaga Uno dan Partai Gerindra tampak konyol dimata publik. Bagaimanapun, publik menggunakan 'contoh soal' reaksi dan aksi tokoh negara lain yang mengalami hal sama sebagai barometernya.

Kalau di negara lain yang sistem hukumnya sudah kuat saja tidak bisa 'menolong' tokohnya, lalu apa yang bisa dilakukan seorang Sandiaga Uno dan tim-nya? Tidak ada, dan jangan membuat pernyataan 'ngeles dan aneh' yang berpotensi blunder dan menjadi tertawaan publik. Jalan terbaik adalah perlahan-lahan mundur dari gaung pencalonan Pilgub DKI207 untuk menyelamatkan citra politiknya secara pribadi, sekaligus meringankan beban politik Partai Gerindra.

 Kalau Sandiaga Uno si Santun yang sukses ini masih ngotot 'ngeles sana-sini' demi Pilgub DKI2017 (yang sebenarnya 'tak seberapa' dibandingkan kesuksesan yang dia raih) maka partai Gerindra akan kehabisan waktu menyiapkan kader pengganti untuk Pilgub DKI. Sandiaga Uno sebagai pribadi harus mundur dari gaung Pilgub DKI, sembari mengharapkan kambuhnya 'sakit amnesia' publik negeri ini terhadap sejumlah 'ulah tokoh besar' yang pernah terjadi. Satu hal yang mesti diingat saat perlahan-lahan mundur dari gaung pIlgub DKI, jangan lupa pakai celana. ** (ak)

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :blokberita.com

 

Thursday, April 7, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: