Karena Medsos Pejabat Milik Rakyat, Ganjar Buka Endorse tak Berbayar

ilustrasi

Oleh : Sulfas Erts Anto

Hari Minggu (12/7) kemarin pelaku UMKM di Jawa Tengah berpesta. Produk mereka ramai-ramai diendorse atau dipromosikan oleh Ganjar Pranowo di akun instagramnya yang berfollower 2,9 juta. Dibanding gubernur lain di Tanah Air, Ganjar memang melakukan seribu cara untuk terus menaikkan kelas usaha warganya. Karena instruksi saja tidak cukup untuk menggerakkan perekonomian kerakyatan.

Promosi gratis tersebut diberi nama *#LapakGanjar*. Pelaku UMKM Jateng cukup mengunggah produknya di insta story dengan menyertakan tagar #LapakGanjar serta nge-tag akun @ganjar_pranowo. Tanpa protokoler, tanpa proposal tanpa surat kerjasama. Ratusan produk akhirnya dipilih Ganjar kemudian direpost di insta story. Meski bermula di insta story, saat ini justru banyak pelaku UMKM menyertakan tagar #LapakGanjar setiap kali mereka mengunggah produknya. Ribuan produk terpampang di sana, dari kuliner, produk mebel, fashion sampai kerajinan tangan.

Cara Ganjar mempromosikan produk UMKM warganya itu sangat berkelas. Ibarat kata, baru satu pintu dibuka oleh Ganjar, tapi warganya bisa melihat dan masuk ke banyak ruang. Ruang digital, ruang promosi sekaligus ruang menaikkan kelas. Ruang yang semestinya dilakukan bertahap dalam kurun waktu lumayan lama, Ganjar pangkas dengan satu kali gerakan. Seolah-olah Ganjar sadar, jika cara-cara konvensional dia pilih untuk menaikkan kelas 4.174.210 unit UMKM di Jawa Tengah, jangankan dua, tiga sampai lima periode kepemimpinan pun tidak akan cukup.

Tiga ruang itu memang sering jadi kendala bagi pelaku UMKM. Tidak jarang pula mereka memilih balik kanan atau minimal usahanya hanya jalan di tempat. Memang banyak gubernur atau pemimpin daerah yang sering mengatakan telah mendorong UMKM di wilayahnya untuk memasuki dunia digital. Tapi realitanya banyak pelaku UMKM justru mengalami kemandekan, stagnasi karena dorongan itu hanya berwujud instruksi. Belum lagi persoalan promosi yang sering jadi hantu menakutkan bagi mereka. Selain tarif yang mahal, mereka seringkali kehilangan daya kreativitas. Kalaupun telah lulus memasuki fase promosi dan berhasil meraup untung, zona nyaman dan merasa cukup akan jadi momok selanjutnya. Itulah sebabnya mereka harus melakukan upgrade, harus menginjak satu tangga untuk naik kelas.

Untuk memasuki ruang digital, telah bertahun-tahun Ganjar mengajak (bukan menginstruksikan) agar pelaku UMKM memasarkan produk minimal di media sosial. Tak terhitung lagi berapa produk UMKM yang Ganjar unggah di akun media sosialnya, berapa vlog yang dia hasilkan untuk mempromosikan karya-karya warganya. Cara itu memang telah membuahkan hasil, namun ternyata Ganjar tidak cukup puas sehingga harus melahirkan jurus baru lagi yaitu #LapakGanjar#LapakGanjar ini memang formula baru agar seluruh yang dia promosikan tersimpan dalam satu kode (tagar) sehingga sampai kapanpun masyarakat mencari akan tetap bisa menemukannya. Pelaku UMKM pun merasa senang karena ada ruang promosi baru yang besar.

Netizen, khususnya yang biasa menjual produk di media sosial pasti mafhum dengan istilah endorse. Yaitu jurus memasarkan barang dagangan dengan menggandeng netizen lain khususnya yang memiliki follower besar. Media sosial yang banyak dipilih netizen untuk memasarkan produk salah satunya adalah instagram. Tampilannya yang eye catching jadi kegemaran tersendiri bagi netizen khususnya para milenial. Karena penikmatnya banyak dari kalangan milenial, tidak mengherankan jika bertebaran akun-akun yang khusus memosting hal-hal yang disukai mereka. Dari tempat wisata, kuliner, info perkotaan sampai postingan pergosipan. Hal itulah yang membuat akun-akun seperti itu semakin gemuk. Hal itu pula yang membuka kesempatan bagi pemilik akun untuk mempromosikan hal-hal lain sesuai pesanan. Dan tentunya tidak gratis. Semakin banyak follower akun yang dipilih untuk promosi, semakin banyak pula uang yang dibayarkan. Seperti ada sebuah kesepakatan tak tertulis dari pemilik akun-akun berfollower besar, mereka pun sadar berapa tarif untuk satu unggahan promosi. Pilihan diunggah di beranda atau stori pun memiliki tarif yang berbeda pula.

Akun berfollower 100-500 k, biasanya berada di level kota. Tarif untuk satu unggahannya berkisar ratusan ribu. Sementara untuk level 500k - 1m, yang berada di level provinsi untuk satu unggahan di beranda biasanya berkisar satu sampai dua juta dan harga akan turun setengah jika hanya diunggah di stori. Sementara untuk akun berfollower 1-3m, yang sudah mulai merambah netizen nasional, tarif satu unggahan promosi bisa mencapai 5-10 juta dan setengah harga jika hanya di stori. Dan akan semakin besar tarifnya jika pemilik akun itu adalah tokoh publik. Nah, untuk #LapakGanjar pelaku UMKM tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Program itu pun akan terus Ganjar lakukan setiap hari Minggu dan tidak menutup kemungkinan akan membuka peluang bagi UMKM dari luar Jateng.

Apakah gubernur lain memanfaatkan akunmedia sosialnya untuk kepentingan warganya? Punya perhatian detail terhadap perkembangan ekonomi warganya? Silakan Anda menilai. Saya hanya menilai, Tuanku Ya Rakyat, Gubernur Cuma Mandat.

Sumber : Status Facebook Sulfas Erts Anto

Wednesday, July 15, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: