Karantina

ilustrasi
Oleh : Leliya Almuhsin
 
Saat dalam karantina begini, salah satu yang kutakuti barangkali merasa sepi. Karena di ruang RS sendiri, tak bisa ditengok, tidak terhubung secara "wajar" dengan orang lain.
Memang terhubung dengan petugas kesehatan dan petugas kebersihan yang sekian jam sekali masuk ruangan. Aku tidak pernah lihat wajah mereka karena berpakaian APD lengkap. Apakah dia yang kemarin atau ganti orang.
Petugas masuk hanya sebentar, seperlunya untuk bertanya perkembangan, antar makanan, atau membersihkan ruangan. Sepertinya berganti-ganti. Ada yang dengan tenang mendekatiku, ada yang buru-buru dan berjarak. Ada yang bertanya dari pintu saja, tidak mendekat. Tentu aku paham, kondisi batin orang berbeda-beda dalam berinteraksi langsung dengan Covid-19. Semua orang perlu menjaga diri masing-masing.
Kalau ada petugas yang khawatir berinteraksi dengan pasien Covid, jaga jarak, tentu aku bisa mengerti. Mereka sudah bekerja bertaruh nyawa, tiap hari harus mengurus pasien Covid-19. Pulang bisa berbahaya buat keluarganya. Ada yang harus terpisah sementara dengan anaknya. Belum lagi tetangga yang kadang memberikan stigma negatif.
Pagi kemarin aku mendapati petugas yang ngepel dengan santai di kamarku. Tidak terburu-buru seperti yang sudah-sudah. Aku ingin tahu,
"Mas, tidak takut dengan saya?"
"Tidak, Bu. Sudah biasa."
"Mas sebelumnya yang ke sini? Atau baru?"
"Belum pernah, baru ini."
"Petugasnya yang masuk ganti-ganti?" tanyaku. Mereka berpakaian APD berlapis, tentu aku tidak mengenali wajah satu persatu.
"Iya. Ganti-ganti."
"Sepertinya ada yang buru-buru. Mungkin takut ya?"
"Memang banyak orang yang takut Bu,"
"Ya, saya bisa paham. Terima kasih ya."
Sebenarnya aku bisa ngepel ruangan sendiri, sekalian buat olah raga. Meskipun masih tetap seret-seret tiang infus ke mana-mana. Biar petugas kebersihan juga gak berulangkali masuk ruangan. Mereka cukup ambil sampah saja. Barusan aku izin RS untuk bawa alat pel sendiri dan dibolehkan. Di sini boleh terima titipan barang melalui satpam rawat inap. Tentu akan diperiksa dulu, makanya perlu izin.
Situasi ini memang luar biasa. Di seluruh penjuru dunia kita sedang melawan virus ini.
Virus Corona ini nyata, bisa menyerang siapa saja. Bisa destruktif, melemahkan tubuh. Apalagi bagi yang punya penyakit penyerta. Ini bukan flu biasa. Bisa menyerang paru-paru dan melemahkan fungsinya.
Sayangi diri sendiri dan keluarga. Dengan tidak berkumpul-kumpul, jangan dulu saling berkunjung, tidak salaman, jika harus keluar rumah disiplin pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun, kebersihan ruang dan makanan diperhatikan. Saya pun selama pandemi ini cukup disiplin demikian, masih bisa terpapar juga. Apalagi yang abai, sangat riskan membawa virus dan menularkan.
Banyak orang masih berpikir, virus Corona itu jauh. Itu mah di Jakarta. Jangan abaikan. Dulu bagiku virus itu juga jauh, itu di Wuhan sana. Jauh banget dari Depok. Sekarang lihat, semakin dekat. Bahkan, di tubuhku. Meski begitu, aku tetap merawat rasa optimis mampu melewati ini semua.
 
Sumber : Status Facebook Leliya Almuhsin
Wednesday, September 23, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: