Karakter dan Corona

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Tadi pas perjalanan pulang, lewat di sebuah jalan sempit di mana ada sebuah rumah bagi-bagi takjil gratis. Ada anak-anak muda mengurus pembagian makanan. Mereka bermasker. Para penerima takjil juga rata-rata bermasker, tapi antrian yang mengular panjang itu cukup menyedihkan. Jangankan jaga jarak satu meter, mereka dempet-dempetan bahkan. Saling lengket baju dan lengan.

Kalian tahu apa yang jadi masalah besar dari karakter orang-orang kita? Tak mau mengikuti prosedur, tak sabar menjalani proses. Jika untuk sampai ke satu tujuan ada empat tahapan proses yang harus dilewati, mereka akan berpikir untuk menjalani yang termudah. Contohnya ya di atas. Pakai masker iya, jaga jaraknya diabaikan. Lalu carilah pembenaran terdekat, kita butuh makan. Salah panitianya yang tidak bisa mengatur antrean. Ya benar. Tapi salah pengantre yang tidak sadar risiko yang mereka hadapi. Toh kalau terjadi apa-apa dengan mereka, tidak mungkin juga panitia turun tangan mengurusi mereka. Akhirnya, kembali ke kesimpulan sederhana. Kita memang abai pada diri sendiri sekaligus pada orang lain.

Padahal jika kita mau disiplin menjalankan proses, kita justru akan menerima manfaat yang meluas. Seberapa pentingnya pembagian takjil dibandingkan menjaga keselamatan diri orang banyak? Coba pikirkan baik-baik jawabannya. Seberapa pentingnya berbaju baru di hari lebaran kali ini dibandingkan bersabar supaya tahun depan kita semua bisa merayakan bersama dengan gembira tanpa lapisan masker di wajah?

Saya sudah berhenti menceramahi driver ojol soal penggunaan masker yang baik dan benar, serta apa alasan penting mendasarinya. Sebab rasanya percuma, mereka melihat contoh yang bertolak belakang sangaaatt banyak di luar sana bahwa tidak apa-apa orang bercengkrama secara bebas. Tak ada yang jatuh sakit kok di sekitar mereka. Belum. Mungkin jika waktunya tiba, mereka baru menyesal. Tapi bukannya para penguasa juga membiarkan masyarakat yang abai, tak ada sanksi bagi yang bandel, bahkan ijin pengoperasian tempat usaha pun bisa sedemikian plin-plan diatur oleh mereka. Ke mana Bapak Gubernur yang terhormat waktu wabah corona ini mulai mengancam? Pergi ikut memanen jagung dan menengok proses pengerjaan jalan di daerah. Ke mana beliau sekarang waktu ada banyak driver ojol yang sampai sore tidak kunjung dapat pesanan antar? Sedang foto-foto dengan Rizal -anak korban perundungan-, bahkan menghadiahinya sebuah motor. Di depan toko bahkan setiap hari kini ada banyak sekali pemulung anak-anak yang berkeliaran. Bisa jadi semua orang susah berpikir mereka lebih baik dirundung dan ada yang merekam lalu viral, keberuntungan cepat berbalik ke arah mereka secara instan.

Jaga diri sendiri saja, ya itu nasihat bijak terdekat. Syukur-syukur saya sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan berita di timeline walaupun berita sedih satu-dua ada juga yang sempat terbaca. Seorang perawat yang meninggal karena terlambat mendapat bantuan ventilator misalnya. Mengandung empat bulan, bagaimana tidak semakin sedih membacanya? Pengandaiannya jelas, jika saja orang sakit berkurang, si perawat tentu akan mendapat jatah pertolongan lebih cepat. Tapi mau diapa? Kita cuma jelata yang tak punya kuasa mengontrol banyak hal.

Sampai kapan urusan pandemi ini berakhir? Saya rasa target akhir tahun yang dulunya terasa sangat lama itu, kini rasanya terlalu singkat. Sepertinya masih akan sangat lama. Kita sudah terbiasa begini, bermain-main di antara risiko dan bijak mengambil hikmah jika kemudian ada korban. Lalu setelahnya, kita kembali lupa harus bagaimana sebaiknya. Kita kembali mulai saling tidak peduli.

Saya tahu, diam-diam para relawan tanpa tanda jasa yang setiap hari selama masa pandemi ini berusaha sekuatnya membantu meringankan beban sesama di sekitar mereka, sebenarnya sedih dan muak. Entah itu para nakes, entah itu dermawan yang rutin membagikan sebagian rezekinya, entah itu mereka yang menyumbangkan tenaga dan waktu membantu menyalurkan donasi dari para dermawan. Kerja mereka menjadi semakin berat, semakin penuh tantangan sebab di sekitar mereka terlalu banyak orang yang butuh dibantu tapi lebih banyak orang mampu yang abai dan membuat urusan wabah ini menjadi semakin panjang kisahnya.

Esok lusa, saya memikirkan menjual stok terakhir dari dapur kami yang sedang kami produksi selama dua hari ini. Tapi, saya pikir saya tidak akan menjualnya demi memuaskan keinginan para pelanggan demi berlebaran dengan sajian kue-kue enak semata. Saya akan menaikkan harganya, khusus pada satu hari penjualan. Selisihnya akan disalurkan kepada siapa-siapa di sekitar yang membutuhkan. Jika kamu merasa harganya terlalu mahal, jangan beli. Jika kamu merasa masih bisa membayarnya, bayarlah dengan niat membantu orang lain biarpun orang-orang itu tidak kamu kenal. Jika kamu tidak percaya saya bisa amanah menyalurkannya, sekali lagi jangan keluarkan uangmu. Simpan saja untuk kepentingan dirimu sendiri dan keluargamu, tapi jangan memaksa mendapatkan kue-kue dari dapur kami.

Berapa besaran kenaikannya? Saya masih mempertimbangkannya. Saya sudah punya 24 stoples kue donasi dari pelanggan untuk dibagikan, ada pelanggan luar kota yang tak jadi mengambil pesanannya dan lebih memilih meminta saya menyalurkannya. Tapi lalu saya pikir ada baiknya jika kue-kue tersebut saya uangkan kembali senilai harga kue yang berlaku saat ini. Saya kembalikan semua keuntungannya ke bentuk tunai kemudian bisa dipakai membeli sembako. Kue-kue ini memang menyenangkan, pengalaman mendapatkan penganan mewah pasti cukup berkesan tapi sepertinya ada banyak keluarga yang lebih butuh sembako daripada sestoples kue mewah. Maka jika kamu punya ide yang lebih baik, mohon jangan ragu mengatakannya kepada saya.

Saya ingin menutup penjualan lebaran tahun ini dengan rasa syukur bersama mereka-mereka yang terkena dampak pandemi tapi sayangnya kurang viral sampai ke penglihatan para penguasa. Sebab berharap kepada penguasa sepertinya sudah terlalu naif. Kita lakukan saja apa yang bisa kita kerjakan dari tempat kita berada. Sebisanya, semampu-mampunya.

Produk terakhir bulan Mei 2020 dari dapur kami rencananya akan saya bandroll di harga yang cukup mahal, yang angkanya bisa jadi bikin kalian yang tidak mengerti mungkin saja misuh, tapi insya Allah sedikit banyak bisa membantu melapangkan hidup orang lain yang tidak pernah tahu apa makna kemewahan yang kalian mampu bayar dengan begitu mudahnya. Tidak untuk waktu yang panjang, tapi minimal memberi mereka sedikit harapan dan kekuatan untuk bertahan.

Jikalau menurut kalian produk kue buatan Sumi dkk memang berharga dan kebetulan kalian punya keleluasaan dalam urusan finansial, saya rasa kalian tidak akan keberatan membantu saya.

Tapi, mohon pikirkan dulu baik-baik, ya. Saya tidak menyasar uang kalian. Seluruh hasil keuntungannya juga akan saya sumbangkan bersama selisih kue yang kalian bayarkan. Sederhananya saya hanya ingin mengajak kalian berbagi sedikit keleluasaan yang kalian miliki kepada mereka yang sulit sekali beroleh kesempatan baik.

Saya sudah menahan sedapatnya hari ini meniadakan penjualan, lapak kami di marketplace sudah dikosongkan seluruh stoknya, saya tidak menjawab pesan-pesan orderan yang masuk sepanjang hari, semoga jumlah kue yang tersedia dua hari ke depan cukup memadai. Semoga para pelanggan yang terus mendesak untuk mendapatkan kue-kue dari dapur kami tidak tergiring murka, sebab saya pun mengemban amanah untuk tidak boleh lupa diri, alasan mengapa saya mendirikan dapur kecil ini yaitu bukan semata-mata untuk mengenyangkan perut sendiri.

Mudah-mudahan lusa sudah bisa terealisasi, ya.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Wednesday, May 20, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: