Kapitalis-Kuminis, Kuminis-Kapitalis

Ilustrasi

Oleh : Nugraha Fahrul

Landasan terbesar kami untuk traveling dan backpacking ke China ada 2 :
1. Komunisphobia – Sedari kecil nonton pilem G30S membuat saya bisa dibilang sangat takut dengan kebangkitan dan kehadiran kuminis. ( kata sun tzu sih kenali musuhmu, dari kawanmu ) 
2. Ketakutan membludaknya barang China . (Kami semua yang berangkat adalah Wiraswasta / UKM ) Dan mencoba mempelajari bagaimana sih mereka (China) itu. Negeri Kuminis kok bisa maju.

Setelah menimbang, Kami berempat memilih wisata mandiri, tanpa agen atau travel agar irit dan murah, tanpa menyadari luasnya China “Main Land”. Ngapain kalo ke China lihat Tembok dan Istana ? , Udah biasa laahh. Dan kepedean kami bisa gugling sama beli tiket secara online, akhirnya opsi Back Packer dilakukan.

- Lolos Imigrasi
Sempat ditanya, Mau apa ke china ? saya jawab belajar . Apakah belajar komunis ? agak bingung njawab, lalu saya teringat tokoh Chen chen ( Jet li ) yang belajar ke Jepang untuk ATM, Ambil Tiru Modifikasi. Ya saya jawab, Mau niru Industri di sana... eh bapak nya imigrasi malah nyalamin. Lha emang harus gitu kalo ke luar negeri. Dan pasporpun beres. 

- Lolos Visa
Kami menggunakan trik akal akalan mau membeli barang di sejumlah pabrik di China, Via chat Alibaba untuk mendapat surat undangan produsen. Yang kita teruskan ke Kedubes China di Jakarta. Lolos juga, emang kok tampang kita agak ke Taipan taipannan getu... hayyahh.

Saran temen sih mengambil tiket patahan ( Beda Maskapai) agar murah, Tidak tiket dari satu maskapai. Yang pasti harus siap hangus lho ya... Sembrono juga, tapi asik lho. ( Kalau gak ketinggalan) 5 juta per orang. 

- Transit di Singapore 
Waktuk transit 09.00-01.00 Malam ( 16 Jam ) Untung deh dengan “kelicikan” dan koneksi temen kami “ngakali” 2 Orang Singapore ( pengusaha Melayu dan Chinese ), 2 mingg yang lalu udah janjian. Berpura pura membeli Ford Mustang th 1967 bekas ( siap kapal ) seharga 250 juta rupiah udah di box kayu di pelabuhan. Dari bandara kita di jemput, diajak muter muter, di ajak makan, ealah.... pakek Mercy lagi. Di Singapore saya terkagum bagaimana Lee Kuan Yu membangun Singapore. Heeeebaat bener. Di sini kebanyakan orang lanjut usia masih kerja di fasilitas umum. Kebersihan dll.

Dikantor eksporter tersebut saya baru menyadari bahwa hakekat orang Singapore adalah Kapitalis Makelar. Mereka adalah agen penjualan dari negara negara besar. Ngutip bongkar muat pelabuhan. Jadi Distributor barang Amerika, Inggris dan merk merk besar lainnya. Kapitalis yang sempurna.
Teman saya ( sebut saja Priyo ) dengan gaya yang ngenglish nawar nawar mobil Mustang tersebut. Kedua orang Singapore itu ( sebut aja Rahmaan dan Lie ) menyombongkan diri bagaimana tiap bulan mereka bertemu Luhut, Prabowo, atau pejabat pejabat Indonesia.

Priyo dengan liciknya juga gak keder, Saya sempat tertawa ketika Priyo selalu menyebut , Sampaikan salam buat pak Luhut dari Priyo ....pasti dia ngerti, Katanya. Emang si Luhut tahu Priyo yang mana ? mungkin pak Luhut mengira Priyo adalah Hendropriyono... wkwkwkwk. Sayapun tahu harus berbuat apa kalo teman saya Priyo ini Ngibul ( kami teman SMA bro) . Kalo dia ke kiri, Saya harus ke Kanan dong...

Saya pun tahu kenapa Priyo nge “trick” mau beli mobil rongsok itu. Yang akhirnya Priyo menyarankan akan pikir pikir dulu setelah “hampir tercapai harga” . Kurang 5 juta azaaa lho. Bonus “akan” membeli mobil itu akhirnya kita diajak ngupi di Bugis road, Lupa saya nama cafenya. Ditraktir lagi. Saya cuma mbayangin Pak Rahmaan dan Mr Lie termakan oleh kesombongannya sendiri yang meng-"underestimate" Indonesia. “ In Indonesia, Everything is money” katanya... OK, Wait our call ya , If u meet Mr. Luhut say greeting from Mr Priyo and the ganks...He will understand. Ujar Priyo dengan Pedenya , Diamput cuk !!!.

Saya saranken teman teman jangan mencoba trik ini ya...Nggak bagus, Jangan ditiru.

Dan jangan heran inggris kami acak adut, Prinsip kami, Kamu mudeng, I seneng. Go to hell with grammar.

- Mengexplore Guangzhou
Tiba di Guang ( biar pendek) subuh, membuat kami bingung, harus kemana dan ngapain. Setelah berembug kami putuskan mencari “penerjemah”, Gak semua orang China bisa bahasa Inggris. Skala yang bisa kami hitung adalah 10:1. Akhirnya setelah mencari taksi kami menemukan “kamerad kecil” bernama Chen.Seorang makelar Taksi, yang sebetulnya hanya bisa bahasa Inggris “Can i help u dan Ok..Ok..Ok..” saja. Kami “menculik” dia selama 5 hari. 
Saya tidak bisa menceritakan kelucuan dan kekonyolan selama 5 hari menunggu “jemputan pabrik” disini. Saya baru bisa bertanya total bagaimana China sebenarnya, setelah tidak sengaja diantar paman Chen kepada bosnya yang orang INDONESIA asli dari Menado.Namanya Mr Adi, Pengusaha pengapalan sukses ( Punya Mobil dan Gudang gede ) di Guang. 

Pak Adi menceritakan kepada kami bagaimana tahun 96, saat beliau memutuskan mengadu nasib ke China setelah merasa masa depannya di Indonesia Suram. Tapi dia masih “mudik” setiap lebaran ke Manado dan Jakarta.

- Berubahnya Komunis China
Bagaimana seorang Deng Xiao Ping "meReformasi" partai komunis terjawab di sini setelah pak Adi menceritakan pelan pelan (tapi cepet, #eh ) China bangkit dan Maju seperti sekarang ini. Saya merasakan “kerinduan dan kebanggaan pak Adi terhadap Indonesia”. Menurut saya sih Deng adalah Kamerad yang lucu. Bahan bacaan saya tentang Deng sejak 97 saat Hongkong mau di kembalikan ke Inggris. Saya akan bahas di tulisan ke 2 saja.

- Dijemput Produsen China
Akhirnya setelah menunggu, Tiba pula jemputan ke pabrik pembuatan Kamar Cat berskala Internasional di daerah Industri Guang. Nama penerjemah dan Marketing mereka Mrs Daisy. Cantik, muda dan energik, sopan pula. Eh..kalau di China, Kita ini disebut Yitney ( Tulisannya gimana , saya gak tau ) berarti Saudara tua. Mereka menyebut kita Kamerad, baik Si Chen ( Penerjemah dadakan ) dan Daisy serta yang lain. Saya merasakan sebutan ini akrab dan seperti saudara jauh. Tapi jangan sebut Yitney di Hongkong ya, Pandangan merendahkan akan anda dapat jika anda bilang Yitney. ( Besok aja penjelasannya )

- Bingungnya Sistem Negara / Partai
Saya memperkenalkan Priyo sebagai distributor dari Kompetitor Daisy. Saya bilang Priyo sebagai “My Big bos” , dan jumlah “My big bos” jual selama setahun dengan produk yang sama. Maaf, Trick ini paten kami lakukan sejak SMA bro... Makanya kami leluasa slonang slonong di pabrik tersebut. Ada beberapa hal yang harus kita ketahui bersama.
1. UMR pekerja pertama di seluruh China Rp.6 juta, Makanya Daisy hampir pingsan setelah mendengar UMR Jateng di angka Rp.1,5 Juta... Whaaaattt , You’re Crazy katanya.” All of u exploit the workers”. Ah ini pasti nyenggol kesetaraan buruh dah. Even we’re communist we respect them kata Daisy. ( lho piye to ? Kapitalis emang gitu bu Daisy..) lalu dia nyerocos tentang “kelas pekerja” ...ya ya ya.. We got the point Mrs Daisy, We are so cruel .Kami berempat tersenyum kecut, Kecut sekali. “Damn the kapitalis !” ujar Adik saya. Dan semua di ruangan terbahak bahak...dengan canggung tentunya.
2. Upah untuk Tukang las Ahli (welder) Rp 20 Juta sebulan. Makanya kami berempat langsung gebrak meja...Whatttt. You’re crazy semprot saya. Bagaimana dengan total gaji kalo begitu Bisa bangkrut sebuah usaha kalo pengeluaran sebesar itu. Dan Daisy dengan tawa kecut ( Apalagi dia seorang kepala Manager ) sambil bilang , Ask my boss...He knew about that, Sambil nunjuk lantai atas. Pakde saya bilang... Yeah we want your boss. ( biar bisa curi ilmu dong ), Dasar..
3. Pemerintah membantu semuanya.
Disinilah prinsip Deng ( Deng Xiao Ping) bekerja, Bagaimana partai mengatur sewa lahan ( gak boleh di beli ) jangka pendek 30 tahun dan panjang 50 tahun. Bagaimana pemerintah membantu sistem sertifikasi produk, standarisasi produk, ijin dan pameran.Gratis lho.. Juga bagaimana pemerintah membantu “membayar” 50% biaya marketing di Alibaba. Daisy bercerita setiap tahun mereka membayar Ali Pay 750 juta dan pemerintah membayar separuhnya. Whatttt kami menggebrak meja lagi..where’s your boss ? Kami harus bertanya semuanya.

- Evolusi Komunis Deng.
Mr Yi ( boss nya Daisy ) menjelaskan dengan perlahan, bagaimana setiap bulan dengan bantuan Alibaba yang di support pemerintah mampu meningkatkan penjualannya menjadi 45 Miliar per bulan. Produk Mr Yi berharga 100 Juta. Jadi kan nggak masalah membayar 6 juta /pegawai baru, 20 juta untuk tukang las, beserta managemen. Oh ya semua produsen ada. Jadi tinggal Ngrakit aja.

Lalu bagaimana berproduksi 450 unit perbulan ? Mr Yi bilang sistem produksi kita mengadopsi produksi “9-15” detik setiap perakitan mesin. Ini sistem produksi perakitan ban berjalan model Ford atau Honda di Jepang. Kalau di Jepang menggunakan konveyor , kita China cukup meja saja. Kalau produsen pasti tahu lah...( Inbox kalau gak tahu ).

Jadi jangan heran kalau korek api bisa sangat murah di China. Ini semua di ajarkan oleh pelatihan UKM milik Partai/Pemerintah di China. Jadi semua produsen mempunyai Ilmu yang seragam. Oooo...
Modal ? gimana Mister ? Khan pembayaran Ali pay atau ekspor itu kontan, dan pinjaman bunga Bank hanya 5 %. Coba cek Interest rate deposito per lima tahun ? ujar Mr Yi, Bank pun diatur oleh Partai. Adik saya menyahut “5% ??? Damn Kapitalis!! ” dan seluruh ruang pun tertawa ...

Bagaimana soal pajak ? Mr Yi bilang , Partai ( dia gak bilang pemerintah) sudah membantu dia sebagai pengusaha, baik melalui Alibaba / Pameran. Apa susahnya berbagi ?. Selama perusahaannya jalan, Laba ada, Keluarga berkecukupan. What else ? Yo iyalah...45 Miliar perbulan. Luas pabrik Mr Yi 3.000 M. Wedus luh mister... 

Lalu Mr Yi balik bertanya ke kita, Kalau kalian membayar buruh hanya “segitu” .Itu yang dianggap exploitasi, bagaimana mereka mau bekerja giat kalau taraf hidup mereka belum sejahtera ? Itulah intisari ajaran Kamerad Deng, Dulu kuminis adalah sama rata sama derajat, Tapi sama sama miskin. Ditangan Kamerad Deng , Prinsip itu diubah menjadi Sama Kaya, Sama bahagia. Aseeem..

Kalian punya sumber daya yang melimpah, Upah murah, Internet melimpah. Apa yang membuat kalian belum maju ? Kalian sibuk saling menyalahkan tapi lupa esensi bekerja sama. Matek aku...
Ludahpun jadi sulit kutelan.

- Ingat pepatah Deng katanya. 
“It doesn't matter if a cat is black or white, so long as it catches mice”. Simpelnya sih "gak penting KUMINIS atau KAPITALIS", Asal dia bisa memajukan komunitas. Bagaimana kamu disebut Kucing kalo kamu tidak bisa mengejar tikus? malah makan wiskhas...? *dasar kuminis tua, bener juga ...ujarku dalam hati.

Lalu “Poverty is not socialism, To be rich is glorious”. Jadi jangan miskin dong, Maksudnya jangan miskin ilmu, miskin harta. Kalo bisa sama kaya, Kaya sih boleh boleh saja, Tapi jangan mencurangi. Kalau mencurangi sistem di China, Siap siaplah tampil di Teve sambil di Eksekusi. Wuaaaduuhh..

Eh.. Mr Yi ini dulu aktivis Tiananmen juga, Walau tak langsung. Ada banyak kesalahan informasi tentang kejadian sebenarnya. “I already knew Mr Yi “ Ujarku sok ngerti...Mr Yi pun mengangguk angguk, Sedang temen temen malah tanya, piye piye ? ( gimana , Gimana? Saya jawab di rumah saja).

Saya tdk bisa menjelaskan pemikiran seorang Mr Yi secara utuh disini, Kepanjangen. Yang pasti saya tahu. Kuminis, telah memakai baju kapitalis. Semangat Symbian tetap berperang dengan Android + IOS melalui Lenovo. Its a long.. long proxy war. Kita ? kita hanya penonton saja. Ilmu yang luar biasa Mister Yi, 3 Jam yang berguna.

Wait our call ya mister..... Kita buy lhoo..

Nug-Kangen China

Sumber : Status Facebook Nugroho Fahrul

Tuesday, October 10, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: