Kapan ya Jonru Ditangkap?

 

Oleh: Reza a.k.a Fadli Zontor

Siapa sih pengguna internet di Indonesia atau netizen yang tidak mengenal nama Jonru? Bisa dipastikan hampir semua pengguna aktif media-media sosial Indonesia pernah mendengar nama itu. Nama Jonru itu identik dengan PKS, dan bahkan nama Jonru oleh sejumlah netizen diidentikkan dengan kata fitnah. Jonru adalah sinonim dengan fitnah, menurut mereka.

Tentu kita masih ingat pada tahun 2014 saat Pilpres akan dimulai hingga pelantikan Jokowi sebagai Presiden begitu banyak media-media online yang 'bernafaskan' simpatisan PKS, melakukan serangan-serangan negative campaign ke Jokowi. Waktu itu saya sempat membaca sejumlah black campaign maupun negative campaign dari Voa-IslamPKSPiyunganarrahmahDakwatunaRMOL, Kultwit di Chirpstory hingga fan page Jonru. Yang paling terkenal tukang pelintir adalah Jonru sementara yang melakukan black campign itu Voa-Islam.

Masih ingat gambar RIP Jokowi pada Pilpres 2014 kan? Gambar itu berasal dari situs Voa-Islam. Begitu juga sewaktu MK sudah memutuskan Jokowi-JK sebagai pemenang Pemilu dan Tim Transisi Jokowi sedang bekerja mempersiapkan kabinet yang akan dibentuk Jokowi. Eh, tiba-tiba Jonru yang memiliki 600 ribu follower membuat berita heboh. Katanya Jokowi akan menghapus Kementerian Agama. Jonru mengatakan sumber beritanya dari media nasional.

Akhirnya, status dari fan page Jonru itu langsung menyebar ke mana-mana (disebar oleh para follower-nya yang merupakan cyber army PKS), dan kontan menimbulkan kegusaran dari warga NU. marahlah warga Nahdiyin seketika pada tim Transisi Jokowi. Terjadilah saling menyalahkan antara Tim Transisi. Tetapi rupanya semua itu ulah Jonru seorang. Seperti yang sudah-sudah, setiap membuat kehebohan-kehebohan seperti itu, Jonru langsung menghapus status-statusnya dan pura-pura tidak tahu sumber kehebohannya. Sayangnya, beberapa netizen sempat meng-capture status Jonru di mana dikatakan berita bersumber dari media nasional itu bohong. Berita itu ternyata bersumber dari media online simpatisan PKS, yaitu RMOLSumsel (Sumatra selatan). Begitulah gaya Jonru.

Jonru menyatakan Ahok memfitnah Majelis Rasulullah yang ingin mencari uang dengan cara Menggelar Pengajian di Monas. Berbekal sumber berita dari situs Islamedia.id, dengan yakin sekali Jonru melabel Ahok sebagai Pemfitnah. Padahal, kejadian sesungguhnya pada 21 Oktober 2015, Ahok meminta Majelis Rasulullah yang biasa menggelar Pengajian rutinnya di Monas agar memindahkan acara pengajian mereka ke Istiqlal. Namun Majelis tersebut tidak bersedia.

Ahok mendapat informasi bahwa, penolakan itu berkaitan dengan dagangan kaki lima anggota Majelis Pengajian kurang laku kalau acara diadakan di Masjid Istiqlal. Tetapi oleh Jonru berbekal berita situs-situs medioker langsung mengaitkan dengan pernyataan Ahok sebelumnya. “EO-nya pengen dapetin duit dari nyewain lapak,” ujar Ahok di hadapan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menemuinya di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Singapura di Chatsworth Road, Singapura.

Sebenarnya, Ahok berbicara tentang hal lain, yaitu tentang PKL di Monas yang sering berhubungan dengan EO penyelenggara kegiatan masyarakat di Monas (bukan hanya dengan Majelis Rasulullah saja, tapi yang lain juga). Dan ucapan Ahok itu diunggah di Youtube oleh pemilik akun TyoJb. Bayangkan saja Ucapan Ahok disalahartikan dan dipelintir sebegitu rupa.

Begitulah cara Jonru mempelintir ucapan seorang tokoh. Ucapan yang entah kapan (tidak jelas waktu diucapkan dan tidak berhubungan sama sekali dengan momen yang sedang terjadi), tapi oleh Jonru dihubungkan dengan peristiwa yang baru saja terjadi sehingga menimbulkan paradoks dan kontradiksi. Tokoh yang dipelintir ucapannya merugi secara moril dan akan dianggap publik tidak punya integritas.

Yang seperti ini memang termasuk memelintir/memutarbalikkan fakta. Sudah bisa dianggap fitnah tetapi oleh pihak tertentu masih bisa dianggap sebagai negative campaign. Kalau fitnah dan black campaign jelas-jelas bisa dituntut, tapi kalau masih negative campaign belum bisa dituntut. Nah, gambar berikut adalah sebuah meme buatan Jonru yang kemudian dipakai oleh salah satu media untuk mengkritik gaya provokatif Jonru. Tetapi dalam gambar berikut tidak ada pelintirannya sama sekali. Kata-kata yang tertulis memang nyata keluar dari mulut Jonru pada saat momen musibah sedang terjadi.

Lihatlah kesan yang timbul dari gambar di atas. Yang pertama, secara implisit tampak kebencian yang amat sangat dari Jonru kepada Jokowi. Yang kedua, tersirat provokasi mengajak follower-nya agar selalu membenci Jokowi. Saking bencinya, seolah Jonru mengingkari Takdir Tuhan. Padahal, dia mengaku kader terbaik Partai Dakwah. Bagaimana mungkin sebuah bencana kemanusiaan yang merupakan kecelakaan (takdir Tuhan) yang menimbulkan ratusan korban jiwa bisa dijadikan komoditas politik untuk menyerang Jokowi?

Jelas-jelas ada badai yang datang di Mekah sehingga salah satu crane yang kurang kuat kontruksinya menjadi jatuh dan menimpa ratusan Jemaah haji. Bagaimana bisa judulnya menyalahkan Jokowi di mana menurut Jonru gara-gara Jokowi datang ke Arab Saudi maka terjadilah musibah Crane. Tetapi kemudian pada saat Fahri Hamzah dan dua elite PKS bersama Ketua DPR dan Fadli Zon datang ke Mekkah dan bergabung dengan rombongan haji, terjadilah Musibah Mina yang menelan korban jiwa hingga 800 orang, eh Jonru Ginting mendengar kabar itu malah diam-diam saja. Sembunyi dan tidak mau berkomentar apa-apa. Bukankah sungguh pathetic orang seperti itu?

Begitu juga dengan bencana asap di mana Jonru dan kader-kader PKS berlagak menjadi pahlawan. Mereka menyalahkan Jokowi dengan adanya Bencana asap tersebut. Mereka tidak mau tahu bahwa, bencana Asap ini sudah terjadi selama belasan tahun. Sudah terjadi pada masa rezim SBY dan sebelumnya. Tetapi ya begitu menurut mereka, pokoknya semua yang buruk-buruk yang terjadi adalah salah Jokowi. Nah loh. Tak pelak lagi gaya PKS berikut Jonru dan kawan-kawannya tersebut, lama-lama malah dijadikan bahan candaan para netizen di berbagai media sosial. Diputus pacar itu pasti gara-gara Jokowi, Ban motor bocor di jalan itu karena salah Jokowi, dan lain-lain.

Ya begitulah, mereka sudah sangat terkenal dengan kebencian yang setinggi langit. Di mata mereka dari 7 Presiden yang pernah memimpin bangsa ini yang paling banyak kesalahannya adalah Jokowi. Soekarno memimpin Indonesia selama 20 tahun, Soeharto selama 32 tahun dan SBY selama 10 tahun. Kesalahan 3 Presiden itu ternyata masih kalah banyak dari kesalahan-kesalahan Jokowi yang baru 1 tahun memimpin Indonesia. Edan tenan.

Ujaran-ujaran kebencian atau hate speech pun beredar dari markas kepolisian. Tetapi intinya Surat Edaran yang dikeluarkan Kapolri itu dengan maksud untuk memperingatkan pada publik bahwa, semua ucapan yang keluar dari siapa pun orangnya, baik di depan publik langsung ataupun di media sosial yang dibaca oleh publik (banyak orang) seharusnya tidak boleh memprovokasi masyarakat, tidak boleh memfitnah, tidak boleh menjatuhkan martabat orang, tidak boleh merekayasa fakta dan lain-lainnya. Apalagi bila ucapan-ucapan provokasi itu menyinggung SARA (Suku, Ras dan Agama). Ucapan-ucapan yang memprovokasi dan terkait dengan SARA adalah sudah melanggar hukum, sudah melanggar KUHAP dan UU ITE. Tidak perlu delik aduan lagi. Bahkan penegak hukum sudah bisa langsung menangkap yang bersangkutan.

Pada tanggal 14 Oktober Jonru Ginting membaca Twit dari akun Twitter resmi Presiden Joko widodo. kemudian oleh Jonru langsung di-capture kicauan tersebut dan langsung diunggah ke fan page-nya dan diberi keterangan: “SAAT MASJID DIBAKAR JOKOWI DIAM, KETIKA GEREJA ILEGAL DIBAKAR JOKOWI LANGSUNG BERKICAU”. Provokasi ini berhasil mempengaruhi para follower dari fan page Jonru. Tercatat gambar ini langsung di-share/ dibagikan sebanyak 10.141 kali oleh pengguna Facebook.

Dan lihatlah komentar-komentar yang masuk:

  • Zulfikar pengguna Facebook berkomentar: “Mana pendukung Jokowi angkat tangan!” Yang pengen Jokowi Lengser angkat Jempolnya!” dan komentar dari Zulfikar ini di Like 7.581 orang dan dikomentari sebanyak 562 komentar balasan.
  • San Muhammad pengguna Facebook berkomentar: “Hayo Coba Tebak? Siapa yang waktu Kampanye mengemis-ngemis minta suara dari Muslim? Siapa yang waktu kampanye mempolitisasi agama dengan Umroh, Istrinya yang bunglon disuruh berhijab? Siapa yang setelah dia berhasil dengan semua itu lantas memusuhi Muslim? Jawabannya sudah menjadi rahasia umum.” Komentar dari San Muhammad pada foto yang diupload Jonru tersebut mendapat Like sebanyak 3.542 orang dan balasan komentar sebanyak 295 komentar.
  • Abraham Halan pengguna Facebook berkomentar: “Undang ke Istana dong Pembakar Gerejanya. Ajak makan-makan. Nggak Adil nih, Jokodok”. Komentar Abraham Halan yang menyebut Presiden RI sebagai Jokodok ini di Like 848 orang.

Selanjutnya, perhatikan pernyataan Jonru Ginting bahwa Jokowi diam waktu Masjid (Tolikara) dibakar, tapi langsung bersuara keras ketika Gereja dibakar. Ini jelas fitnah karena yang terjadi sesaat peristiwa Pembakaran Masjid di Tolikara, Jokowi langsung mengeluarkan pernyataan Mengutuk Peristiwa itu. "Saya mengutuk keras pembakaran dan tindak kekerasan di Tolikara tersebut," kata Presiden Jokowi melalui akun resminya di Facebook, hari Minggu (19/07) malam. Jelas-jelas Jonru menggunakan hanya 1 Tweet (kicauan di bulan Oktober 2015) untuk menghakimi Jokowi.

Jonru menyembunyikan kicauan Twitter sebelumnya maupun status Facebook resmi Jokowi pada saat peristiwa itu terjadi (Bulan Juli 2015). Dan ini adalah Isu Agama (SARA) yang akhirnya digunakan oleh Jonru untuk menanamkan kebencian para follower-nya kepada Jokowi, apalagi ditambah kata 'Gereja Ilegal'. Betapa marahnya umat Muslim dengan ketidakadilan tersebut. Makanya Komentar kedua di atas dari pengguna Facebook yang bernama San Muhammad mengatakan bahwa: Jokowi dulu mengemis-ngemis minta suara dari muslim (San Muhammad menggunakan kata Muslim).

Selanjutnya San Muhammad mengatakan bahwa, Jokowi sewaktu berkampanye mempolitisasi Agama dengan menjalankan Umroh. Ibu Negara Iriana disebutnya bunglon dan disuruh berhijab oleh Jokowi. Kemudian setelah Jokowi berhasil jadi Presiden ternyata Jokowi memusuhi Muslim!" 

Ini benar-benar Hujat-hujatan yang luar biasa. Jokowi dihujat memusuhi Muslim, Jokowi dibilang Jokodok dan Ibu Negara dibilang bunglon. Bisa terbayang betapa bencinya para follower Jonru Ginting kepada Jokowi dan keluarganya. Mereka dipastikan akan selalu membenci dan membenci Jokowi karena memang setiap hari oleh Jonru Ginting selalu dipovokasi lewat status-status fan page-nya.

Jadi pertanyaannya kemudian: Kapan ya Jonru akan ditangkap?

 
 
Sumber: Kompasiana
Monday, January 11, 2016 - 18:00
Kategori Rubrik: