Kapan Mereka Berhenti Fitnah Pemerintah

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Pada dasarnya pelaku teror itu bisa dibuktikan, 100%, penganut teologi (akidah) dan amali (fikih) Hambali yang direduksi oleh Ibn Taimiyah yang sudah sudah direduksi lagi oleh Muhammad bin Abdul Wahab maupun yang sudah direduksi oleh Muhammad Abduh.

Saya kira saya tidak perlu menyebut satu persatu karena saya yakin Anda sudah tahu ormas mana saja yang menganut ideologi itu. Dari mereka jarang yang berhasil melintasi batas fundamentalisme agama. Kita hanya tahu, dari yang sedikit, Buya Syafii Maarif yang melewati batas itu.

Selebihnya mereka merasa terwakili dengan aksi teror itu, seperti saya tulis sebelumnya, banyak sekali agamawan yang menganggap membunuh kafir-musyrikin, sayangnya muslim seperti kita juga dimasukan dalam kategori itu, adalah fardu kifayah.

Sehingga ketika ada aksi teror jauh dari lubuk hati, mereka merasa terwakili dan aksi teroris itu mengugurkan kewajiban kolektif mereka.

Aksi teror kepada kepolisian juga mereka anggap sebagai kewajiban kolektif, disatu sisi kelompok ini, termasuk tokoh elitnya, menganggap pemerintahan yang sah hanya khilafah dan NKRI diterima karena darurat saja, disisi lain juga ketika ada kursi empuk mereka ambil, mereka mau menjadi ketua MPR RI, KPK, dan jabatan lainnya.

Anda tidak percaya? Cek saja kapan ormas-ormas ini secara organisasi resmi menerima pancasila sebagai dasar negara. Walaupun demikian faktanya banyak anggota organisasinya yang menganggap pancasila adalah thagut. Itu tadi, tidak heran, akhirnya baik secara stuktural maupun kultural mereka mengamini aksi teror itu. Baik awam maupun elit ormasnya.

Anda bisa cek, hanya kelompok nasionalis dan ormas hijau yang ribut mengecam aksi teror dan melakukan gerakan deradikalisasi secara konsisten dan simultan, sementara warga dan elit ormas lainnya ketika ada aksi teror mengecam, menuduh pemerintah dan secara terang-terangan menunjukan dukungan dan rasa simpati kepada pelaku teror dan keluarganya. Yang terakhir ini seperti poto copyan khawarij era Imam Ali bin Abi Thalib.

Coba cek respon AR, HN, DS, atau ini Busyro Muqodas? Ada yang pura-pura tuli dan buta, tidak mendengar dan tidak melihat adanya peristiwa teror, ada yang tidak bisa lagi menyembunyikan kedengkiannya pada Negara dan pernyataannya selalu simpatik dan mensuport aksi-aksi teror.

Disatu sisi ajaran mereka menyuburkan terorisme disisi lain pernyataan mereka selalu membela teroris. Klop. Jadi seharusnya negara, pemerintah, tahu harus menggandeng siapa dalam membabat habis radikalisme dan terorisme di republik ini.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Friday, November 15, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: