Kaos Palu Arit dan Strategi Budaya yang Blas Nggak Taktis

Oleh: Iqbal Aji Daryono

Ini poto anak Walhi yang kemarin bikin ribut itu. Sengaja saya ganti es krim biar saya nggak katut dituduh menyebar-nyebarkan logo PKI hahahaha. Bukan gimana-gimana. Capek aja.

Sekitaran Pilpres dua tahun lalu, saya pun pernah mengalami jadi seleb dadakan gini. Pasti banyak yang masih ingat.

Ceritanya, pas hari coblosan, di depan konsulat RI Perth ada aksi para aktivis Papua Merdeka. Sudah pasti, naluri chibi-chibi saya muncul. Saya ajaklah salah satu di antaranya buat poto berdua sama saya. Lalu saya aplod di dinding Fesbuk.

Dengan sigap seseorang mengcapture foto saya itu, dan menyebarkannya berlambar framing bahwa para pendukung Jokowi lekat dengan kepentingan asing. Salah satu kepentingan asing tersebut adalah melepaskan Papua dari NKRI.

Maka, ngetoplah wajah saya. Ada ribuan akun medsos yang ngretwit, ngrepost, dan sebagainya, memposisikan foto saya sebagai bukti bahwa Jokowi akan memecah belah NKRI. Akun prabower-garis-keras Wawat Kurniawan termasuk salah satu yang paling getol menyebarluaskan foto saya itu ahahahai 

Nah, apakah saya mendukung Papua Merdeka? Tidak. Tapi apa itu artinya saya blas nggak simpati sama mereka? Tidak juga. Ada bertumpuk fakta yang menyebabkan rakyat Papua pantas sakit hati kepada Indonesia-Jawa, sebagaimana dulu orang Aceh merasakannya. Saya merasa pantas berbela rasa.

En toh, sekarang terbukti Jokowi tidak memerdekakan Papua. Boro-boro kasih merdeka, lha wong proyek sawah raksasa yang berbasis industri di Merauke itu justru semakin menancapkan cakar negara (dan cakar pemodal) ke leher rakyat Papua kok. Harusnya para prabower mendukung proyek Jokowi itu tuh hiahaha 

***
Sori, ngelantur. Sebenarnya saya cuma mau ngomong, chibi-chibi ala anak Walhi ini memang riskan di zaman medsos. Rawan dibikin lebai, dan nggak taktis secara politis.

Lha nggak lebai gimana? Wong itu kaos cuma oleh-oleh dari Vietnam, bukan disablon khusus oleh PKI Baru. Persis kasus Anindya Putri waktu itu. Repotnya, Komintern pada masanya memang salah dalam strategi branding. Harusnya simbol partai komunis di tiap negara dibikin beda-beda. Jadinya sekarang orang bisa membedakan antara simbol PKI dan PKV (Partai Komunis Vietnam).

Saya juga punya lho, kaos gambar palu arit ginian. Dulu saya beli di Ho Chi Minh City waktu traveling seorang diri, persis sebelum peluncuran buku Out of the Truck Box saya di Jakarta. Nah, pas saya sampai di kota Hoi An, saya pakailah itu kaos keliling kota. Sambil pakai caping, tentu saja, biar mirip serdadu Vietkong.

Malang sekali, boro-boro tampil revolusioner, orang-orang malah pada melirik saya dengan tatapan "idih". Tak berapa lama saya pun sadar, cuma turis pekok yang pakai kaos palu arit di sebuah negara komunis. Itu tak bedanya kamu di tahun 1997 jalan-jalan di Kemang atau di Malioboro sambil pakai kaos Golkar, kan? Ngoahahaha. Jijay.

Sudah, sudah. Buat saya, gegayaan pakai kaos palu arit di ruang publik tuh tetap norak. Mau diklaim sebagai semacam budaya tanding toh nyatanya nggak efektif. Bagaimanapun kita mesti paham, trauma atas sisi kelam konflik setengah abad silam masih terlalu kental. Alih-alih menyajikan perimbangan wacana, yang muncul malah resistensi yang terlalu membabi-buta.

Yang saya dukung total adalah permintaan maaf negara kepada keluarga korban kejahatan (oleh negara juga) di tahun 1965-1966. Bukan permintaan maaf negara pada PKI. Bedakan itu. Apalagi sedangkal mengampanyekan fashion yang bau-bau komunis.

Kalo cuma gegayaan pakai kaos komunis sih nggak ada tujuannya, selain cuma childish dan caper saja hehe. Lebih jauh lagi, yang macam gitu malah akan semakin mengacaukan kejernihan pandangan publik tentang perbedaan antara "melawan impunitas atas kejahatan kemanusiaan" dengan "mengampanyekan komunisme".

Sekali lagi biar tambah jelas: "melawan impunitas atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh negara" sama sekali tidak sama dengan "mengampanyekan komunisme".

Dan karena publik kita masih minim pemahaman soal itu, kedua hal yang sangat berbeda tersebut rentan rancu campur aduk. Repotnya, salah satu yang bikin rancu justru malah aktipis-aktipis gatel yang merasa keren show off pakai kaos palu arit hehehe.

Ya nggak? Ya nggak? Enggak? Yowis karepmu. Rasah nesu lho. Malem Jumat ki, Ndhes.

 
(Sumber: Facebook Iqbal Aji D)
Friday, May 13, 2016 - 00:45
Kategori Rubrik: