Kamu Kafir, Aku Bukan

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Saya sedang baca buku lama yang saya 'temukan' lagi. Ada di jok kursi belakang mobil. Agaknya Nyonya sedang membaca. Namun belum rampung.

Dicetak tahun 2005, dan saya beli tanggal 13 April 2006. Saya selalu mwncatat tanggal dan harga buku.

Judulnya 'Logika Agama' karya Quraish Shihab. Ditulis saat beliau masih kuliah di Al Azhar Kairo. Tahun 1966. Sangat lama memang. Dan beliau waktu iru masih berusia 24 tahun-an. Aslinya berbahasa Arab, pakai huruf Arab juga.

Jadi, kalau ketemu 'dokumen' aslinya mesti puyeng. Pokok bahasan-nya pun ikut bikin pening juga. Saya 'dulu' pernah baca buku ini. Namun ketika 'nemu' dan 'baca' lagi, rasa pening kembali muncul . . .

Dengan buku ini, 'cuma' 200-an halaman, saya bisa paham sekaligus takjub, pada Abi-nya mBak Najwa Shihab. Jika pada usia muda sudah mampu hasilkan tulisan seperti ini, ndak heran jika sekarang 'jadi' sehebat itu . . .

Mungkin nanti, baru saya nulis tentang buku ini, saya belum 'selesai' juga membaca ulang lagi.

Baru beberapa halaman setelah 'Mukadimah', mata 'terantuk' pada catatan kaki. Cukup panjang. Muncul pada saat beliau uraikan tentang 'Perubahan dan Evolusi'.

Bab ini berbentuk percakapan antara Beliau dengan Guru-nya yang beliau sebut dengan 'Maulãya'.

Membahas tentang Islam yang 'berkembang'. Mereka berdua sedang berdiskusi tentang makna 'berkembang'. 'Tathawwur', 'numuww', 'taghayyur', atau 'mutathawwir' . . .

Jika disebut 'mutathawwir, artinya Islam 'berkembang'. Itu artinya seperti 'Sophisme'. Filsafat yang digunakan oleh para 'Sofi', hidup di jaman Yunani, yang katanya ahli berpidato, muter-muter seakan bener.

Konsekwensi-nya berarti tak ada nilai atau ajaran yang 'tetap' dalam suatu agama, termasuk Islam.

Nah, di bawah kalimat2 percakapan itu Abah Quraish Shihab, bubuhkan 'catatan kaki'. Akan saya tulis persis. Agar tak salah 'tafsir', dan bisa bebas menafsirkan.

Dahulu, di Yunani, pada masa Socrates, ada sekelompok sophism yang juga merasa diri mereka menggunakan akal. Ucapan mereka terdengar pertama kali logis, tetapi sebenarnya memiliki kelemahan yang menjadikan ucapan itu tidak benar. Konon salah seorang sophist melihat pemuda lalu berkata kepadanya :

"Maukah kubuktikan kepadamu dengan akal, bahwa engkau adalah keledai ?"

"Cobalah ! Aku akan mendengarnya," kata si pemuda.

"Bukankah aku bukan engkau, dan engkaupun bukan aku ?"

"Iya benar," jawab si pemuda.

'Aku bukanlah seekor keledai," kata si pengguna 'akal'nya itu.

"Engkau benar. Tidak diragukan. Engkau bukanlah keledai," kata anak muda itu.

"Nah, karena aku bukan engkau, dan aku bukan keledai, jika demikian engkaulah yang keledai,"

Demikian gambaran ekstrem dari seseorang yang merasa menggunakan akalnya menuduh orang lain keledai, bahkan boleh jadi lebih tepat bila sang penuduh itulah yang dinamakan keledai.

Ada yang merasa sekelompok dengan kaum Sophi ? Silakan kita tanya pada diri sendiri. Atau baca2 juga di medsos. Atau juga dengar dan lihat ceramah2 di mesjid atau majelis2 taklim.

Semoga saja ndak ada . . .
Tapi kalau yang 'ndak merasa', ya banyak . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Thursday, December 5, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: