Kampanye Rasis Anti Kebhinekaan Anies

Ilustrasi

Oleh Penrad Siagian

Jokowi memang hebat, selalu selangkah lebih maju bahkan lebih. Kala anak-anak negeri terhisab oleh “anggunnya” tampilan Anies di ruang kebhinnekaan dan demokrasi, Jokowi memecat Anies untuk memaksanya membuka selubung wajah sesungguhnya sehingga semua akhirnya terpana, mengenal siapa sesungguhnya Anies.

Bukan lagi rahasia, dengan menyatakan sepakat dengan tujuan FPI dan Rizieq, Anies adalah seorang calon gubernur yang anti kebhinnekaan, berpaham syariah dan khilafah dan diskriminatif.

Kata-kata: “kopiah pilih kopiah, hentikan dan pulangkan petahana”, adalah demagogi Anies menyebar kebencian dan menumbuhkan fanatisme yg memakai basis agama. Agama di manipulasi sekaligus di politisasi demi mencapai hasrat berkuasa. Demagogi Anies beresiko memecah belah anak bangsa dan mengingkari kebhinnekaan yang adalah kodrat Ke Indonesiaan.

Dan lagi-lagi, kampanye diskriminatif berbasis SARA keluar dari paslon Gubernur DKI no-3 ini. Menjadikan isu beda agama adalah penggiringan (pembodohan?) publik menjadi irrasional-emosional dan makna demokrasi direduksi dan tunduk pada pemikiran-pemikiran primordial dan otoriter. Dan pada akhirnya akan melahirkan pemimpin yang rasis.

Tentu mempertimbangkan agama dalam memilih pemimpin bukan hal yang salah. Namun, jika pertimbangan agama menggeser ukuran-ukuran rasional secara menyeluruh, demokrasi akan gagal menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Akhirnya, untuk Anies, Pilihan politik tdk harus mengorbankan integritas. Ruang Politik bukan sekedar ruang oportunisme. Ruang politik adalah ruang mengada bagi diri dan pilihan politik adalah cermin integritas diri.

Sumber : JakartaAssoy

Saturday, February 11, 2017 - 16:30
Kategori Rubrik: