Kampanye Indonesia Terserah dan Sains yang Tak Lagi Jujur

Oleh: Setyo Hajar Dewantoro

 

Apakah segala hal yang mengatasnamakan sains harus selalu dipercaya karena pasti benar? Jangan culun. 

Jika seorang saintis jujur pun, dia tetap bisa salah. Pembuktian yang dilakukan seorang saintis atas hipotesanya tetap dibatasi oleh fakta yang terobservasi, dan sangat tergantung pada kejernihan dalam membuat analisa Observasi empirik tidak bisa sepenuhnya menyingkap realitas yang kompleks. Setiap saintis juga dimungkinkan hanya melihat sisi tertentu dari realitas. Sehingga temuan dan teori saintis bisa saling berbeda. Kepada pernyataan sains yang dilandasi kejujuran ilmiah pun kita harus hati-hati gak gampang percaya. 

 

Terlebih, faktanya, sains bisa dimanipulasi ketika ada kepentingan politik ekonomi yang harus dimenangkan. Kebenaran saintifik bisa dipesan dengan harga yang pas, memenuhi keinginan pihak tertentu meski itu merugikan banyak orang Dan ini sering terjadi. Kebenaran atas nama sains yang disebarluaskan lewat media, seringkali adalah hoax. Saintis juga bisa menebar ilusi saat mereka sendiri jadi paranoid karena pikirannya telah turut termanipulasi. Menjadi konyol kalau kita asal percaya. 

Sains memang bisa mengungkap kebenaran, tapi tetap terbatas. Tak perlu jauh-jauh, sains belum bisa mengungkap bahwa jiwa itu benar-benar ada. Yang mengungkap tentang jiwa dan fenomenanya sebagai realitas non empirik akan dianggap tengah menyatakan pseudo sains. 

Dalam kasus isu pandemi di negara ini, betapa banyak mereka yang bicara atas nama sains, bahkan masuk kategori saintis, ternyata salah prediksi, dan juga menawarkan strategi antisipasi yang salah. Mereka mengungkap hal yang menakutkan, akan ada banyak yang mati bergelimpangan karena terkena Corona, maka harus lock down dan seterusnya. Mereka salah, benar-benar salah. 

Rakyat Indonesia banyak yang tak patuh pada PSBB, banyak juga yang sudah kadung mudik, nyatanya ya semua tidak seperti dibayangkan oleh kaum paranoid atau punya hidden agenda itu. Sungguh celaka negeri ini jika kebijakannya dibuat mengikuti saran mereka. Beruntung kewarasan ada di jantung kekuasaan Republik ini. 

Ada yang masih berilusi, kasus covid di Indonesia tidak parah karena jumlah test masih sedikit. Begini ya om dan tante, peningkatan jumlah tes dengan metode apapun hanya memungkinkan penambahan jumlah kasus positif bukan menambah jumlah kasus kematian. Yang pasti, yang meninggal dan dikaitkan dengan covid sangat sedikit dibandingkan populasi, jauh dari prediksi para "ahli", dan sudah pasti mereka itu tidak meninggal murni karena terpapar virus yang dianggap sebagai covid 

Tentu saja ada ilmuwan yang mengungkap kebenaran. Tapi suara mereka dibuat kecil, coba diredam, karena tak sesuai dengan kepentingan politik ekonomi yang dominan. Contohnya ya ahli virus Moh. Indro Cahyono yang sangat tidak didukung media, dan diserang habis-habisan di medsos padahal pendapatnya relatif realistis. 

Saya dari dulu bilang, virus yang menyerbu Indonesia, apapun itu jenisnya - yang pasti berbeda dengan yang di China, di Italia dan AS, tidak terlalu bahaya, jadi hadapi dengan wajar seperti menghadapi penyakit lain. Jangan membuat lumpuh negara. Cuma saya bukan ilmuwan, saya guru meditasi. Gak banyak yang percaya. Maka saya melakukan manuver lain untuk membantu penyelamatan negara dan membuktikan pernyataan saya dulu itu benar. 

Sekarang, sadarlah bahwa kita sudah melewati masa krisis. Biarlah orang mulai bebas dan menghidupkan ekonomi. Yang pada belanja baju, yang memadati bandara, biarlah. Jangan dinyinyiri dan Anda sumpahi. Mereka telah membantu negara pulih secara ekonomi. Kalau mau mengingatkan soal protokol kesehatan bolehlah, tapi jangan tarik lagi ke situasi yang melumpuhkan ekonomi dan membawa kesengsaraan bagi banyak orang 

Jika ada dokter yang mulai kampanye " Terserah", ya silakan. Anda sedang membodohi diri sendiri, karena nyatanya nyawa Anda itu lebih terancam saat menangani HIV/Aids, demam berdarah, TBC, dan lain-lain. Apa yang Anda sebut sebagai covid ini tak membayakan nyawa Anda, kecuali Anda punya sakit berat duluan. 

Jika ada dokter yang mogok, mohon pemerintah biarkan para pasien itu saya yang tangani. Sediakan tempat perawatan, panggil para peracik jamu atau ramuan herbal nusantara, biar saya sembuhkan sambil saya ajari meditasi. Biar para dokter yang gak mau merawat itu pada rebahan di rumah. 

Jayalah Indonesia!

 

(Sumber: Facebook Setyo Hajar Dewantoro)

Tuesday, May 19, 2020 - 04:45
Kategori Rubrik: