Kampanye Bawa Bawa Islam

Ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Kemarin siang sepulang sekolah, saya berangkat menuju Temanggung untuk mengunjungi rumah saudara, yang kemudian perjalanan saya lanjutkan menuju lokasi Istighosah 5000 Banser. Karena saya tahu Bapak sedang sibuk, maka saya memilih berangkat dengan menaiki bus umum. 
.
Sebuah keberuntungan, seorang penumpang perempuan yang duduk di sebelah saya sangat ramah, ia mengajak berkenalan yang pada akhirnya kami bercerita panjang lebar melepas kegabutan berada di bus. 
.
Setelah sampai di suatu tempat yang saya kenal, ingat betul suatu hari saya menemukan banner politik di sekitaran area tersebut. Dengan sigapnya saya membuka tas kemudian mengambil smartphone. Terfotolah banner tersebut yang agak tertutup oleh banner lainnya. Penumpang sebelah saya heran terhadap apa yang saya lakukan, "Mbak kamu ngapain fotoin banner itu?," tanya nya dengan penasaran. "Itu mbak, kampanye kok bawa Islam segala?" Kataku.
.
Ia sependapat denganku, muak dengan banyaknya kampanye mengatas namakan Islam. Padahal semua itu hanya untuk kepentingan sekelompok orang saja. Pada akhirnya nanti ketika kemauan sekelompok orang tersebut terpenuhi, orang lain sudah tidak dianggap apa-apa lagi.

"Ah males mbak, sekarang itu agama sudah dijadikan alat untuk berpolitik. Sebagai orang desa yang awam, saya sangat prihatin. Banyak yang dibodohi dengan strategi tersebut. Justeru ini yang akan membuat citra Islam buruk di masyarakat, karena politikus banyak menggunakan Islam sebagai lahan kampanye, miris ya mbak?," Sahutnya padaku.
.
Begitulah keadaan Indonesia saat ini. Mau tidak mau, harus kita terima. Namun juga harus kita selamatkan Indonesia dari kepentingan segelintir oknum yang membawa-bawa agama di ranah politiknya, memprovokasi dan mengadu domba satu dengan yang lain untuk saling menghujat, caci-maki dan fitnah demi kepentingan tertentu. Selain itu, memainkan isu agama yang kemudian dikaitkan dengan politik bak jadi makanan sehari-hari segelintir orang di negeri ini. "Yang tidak memilih si-A pasti orang-orang 'Munafik', 'kafir', dsb"
.
Sungguh sebuah taktik yang tidak waras. Politik tidak sehat telah banyak bermain di negeri ini. Tugas kita sebagai generasi muda adalah terus bersikap kritis dan jangan takut dengan ancaman. Seberat-berat ancaman adalah ancaman dari Tuhan jika kita diam saja dengan keburukan yang terjadi di negeri ini.
.
Sekelompok oknum tidak waras itu bak ingin mensuriahkan Indonesia dengan perlahan. Untungnya, Indonesia tidak kurang orang-orang waras, cerdas nun kritis yang peduli dan cinta terhadap negerinya, juga ormas-ormas besar yang selalu ikut andil baik dalam doa maupun tindakan nyata untuk Indonesia.
.
Jangan sesekali coba mensuriahkan Indonesia, bung! Langkahi dulu mayat kami, rakyat yang siap mati demi NKRI!
'Kampanye, kampanye saja. Jangan bawa-bawa agama!'

Salam damai
Damai di bumi damai di hati
(Vinanda febriani). Minggu (02/12/2018).
--------------------------------------------------------------
(Di foto yang nampak warna hijau itu terdapat tulisan: Atas sendiri kalimat Tauhid. Kemudian di bawahnya ada tulisan Muslim Fighter, logo ka'bah yang diampit dua pedang, Gerakan Pemuda Ka'bah dan di bawahnya tulisan 'Satu Komando 2019 Prabowo Presiden')

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Sunday, December 2, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: