Kampanye Anti Mudik Jogja

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Ini sebuah video kampanye tentang "tunda mudik" yang resmi diproduksi Humas Pemprov DIY. Sudah banyak banyak video komikal atau satir sejenis. Namun semua settingannya selalu personal dan bertedensi lelucon, yang sialnya gak lucu. Karena memperolokkan mbah2 yang sudah sepuh. Bahwa pemerintah daerah kemudian mengeluarkan video sejenis, dengan setting keluarga kusir andong juga biasa2 saja. Tak ada yang terlalu menarik secara filmis. Terlalu tampak pesanan, dan tak ada "sedikit kerja keras". Apa ya perlu? Saya kira tetap ada manfaatnya....

Namun adakah pertanyaan kenapa andong masih lestari di Jogja sampai hari ini? Karena tradisi? Simbol kota budaya? Bagian dari keunikan pariwisata kota? Semuanya boleh2 saja. Tapi sejauh yang saya tahu, sisi fungsionalnya sebagai alat transportasi yang melayani sektor rumah tangga nyaris sudah lama lenyap. Tak banyak lagi, ibu2 pedagang dari berbagai daerah dari penjuru peri-peri, satelit kota ini menggunakan jasanya. Semuanya, kalau tidak sudah punya kendaraan sendiri-- mobil atau motor-- ada moda transportasi publik lain yang lebih murah, praktis, cepat, dan tak berbatas waktu.

Untunglah di luar sektor wisata nostalgia, juga banyak moment lain yang menyelamatkan. Kirab apa saja tentu saja. Apakah itu bagian dari carnaval (baca: pawai) yang di masa normal, tampaknya tak ada kota di seluruh dunia yang serajin Jogja. Nyaris setiap event apa pun di-carnival-kan. Baik itu seni, budaya, sosial, politik, agama, apa pun.... Juga menjangkau wisuda anak TK, atau SD. Wisuda kok TK? Tapi itulah tradisi "sekolah sebagai bisnis" yang sudah ditanamkan sejak anak kita mengecap apa itu bangku sekolah....

Di luar itu semua, bagian yang tidak banyak publik tahu. Bahwa seberapa pun jumlah andong yang tersisa di Jogja saat ini. Nyaris 90% kudanya adalah milik satu orang yang sama. Inilah sistem ekonomi-sosialis yang aneh di bidang bisnis ini. Adalah seorang juragan daging kuda bernama Pak Bardi. Seorang haji yang berasal dari Segoroyoso. Sebuah wilayah di Timur Kabupaten Bantul yang memang sejak zaman dahulu terkenal dengan kuliner sate kuda. Tak jauh daerah daerah ini, di masa awal Mataram Islam. Sebuah situs bernama Kerta, pernah dijadikan ibukota Mataram Islam di masa puncak kebesarannya saat diperintah Sultan Agung.

Ialah juragan yang meminjami kuda para pemilik andong. Kepada dirinyalah, nyaris semua pemlik kuda balap atau bukan, mengafkir kuda yang dianggapnya sudah tak layak lagi dipelihara. Karena tidak aneh, bila kita melihat terkadang ada andong yang memiliki kuda gagah yang mahal atau sebaliknya kuda tua yang sudah loyo. Pak Bardi akan merotasi kuda2 itu tergantung kebutuhan pasar daging dan barangkali keseimbangan stock kuda yang dimilikinya. Dan tentu saja semua pinjaman itu gratis, dan setiap saat bisa diganti sesuai kebutuhan Pak Kusir.

Secara kalkulasi sederhana, tampak kedua pihak diuntungkan. Pak juragan tidak perlu ribet memelihara dan memberi makan kudanya. Pak Kusir tidak perlu repot membeli kuda yang tentu sangat mahal. Akibatnya andong tetap bisa lestari hadir sebagai salah satu simbol kota budaya ini. Win win solustion yang saya pikir khas orang Jawa, yang memang sejak dulu mengadopsi sistem bagi hasil secara adil. Seorang teman, yang ahli ekonomi syariah, dalam jualannya selalu bilang bahwa syariah itu tak beda dengan sistem maro, mertelu dst dalam kultur Jawa. Prinsip adil sejak dalam pikiran hingga penerapan....

Lepas dari apakah sistem yang sama bisa diterapkan dalam berbisnis di bidang2 yang lain. Hanya Bossman Mardigu, si pebisnis gimmick itu yang (mungkin) bisa menjawab. Yang jelas sesuai semangat video di bawah ini. Ora usah ketemu dhisik, gak usah saling bertemu dulu. Walau konon sampai akhir zaman sekalipun Covid-19 tak akan pernah hilang. Tapi setidaknya semangat "tidak pernah hilang" itu harusnya tetap dijaga juga dengan persahabatan, persaudaraan, dan peri-kemanusiaan.

Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan. Rahayu ingkang tinemu, sambada ingkang sinedya, jumbuh ingkang ginayuh.
.
.Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Sunday, May 24, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: