Kami Tetap Bersamamu

Oleh: Wahyu Sutono

 

Tak perduli aku dikatakan buzer oleh mereka yang kebelinger. Pun masabodo disebutnya membabi buta oleh mereka yang justru taqlid buta. Juga tak ku hiraukan disebutnya tak kritis oleh mereka yang berjiwa skeptis.

Walau pendukungnya tinggal setengah pun, aku adalah salah satunya. Atau tinggal 10 orang sekali pun, aku tetap salah satunya. Bahkan andai pun habis, biarkan aku sendiri saja yang akan lantang mendukungnya.

 

Pilihanku adalah murni untuk NKRI, dan bukan semata orang, jabatan, partai atau golongan tertentu. Pilihanku disebabkan pengabdiannya yang begitu luhur bagi bangsanya. Itu yang membuatku teguh hingga kelak amanah yang diembannya harus diserahkan kepada penerusnya pada tahun 2024 mendatang.

Aku belum pernah mengenalnya secara langsung. Bahkan sekedar melihat dari kejauhan pun hanya lewat media. Tapi pilihanku tetap orang yang sudah selesai dengan dirinya. Orang yang telah tegar dengan caci maki tanpa solusi. Orang yang hanya libur sebulan sekali, dan menyisakan 2-3 jam sehari untuk tidur, karena mengurusi negeri ini.

Ia terbang ke seluruh penjuru tanah air untuk memastikan pembangunan ini berjalan sesuai program. Toh itu pun masih disebutnya sebagai pencitraan. Tapi itu jadi kunci bagi diriku, bahwa ketika dirinya dihinakan oleh para pendengkinya, disitulah aku semakin mengerti, bahwa negeri para bedebah ini tak menyukai orang jujur, dan mereka terganggu zona nyamannya. Mereka sulit korupsi, dan mereka tak bebas bermain kongkalingkong lagi.

Lalu apa keuntungan bagi diriku? Tidak ada sama sekali, selain agar kelak anak cucu cicitku bisa merasakan perubahan dan kemajuan negeri ini yang telah puluhan tahun tertinggal oleh negara-negara lainnya. Selama puluhan tahun itu pula kekayaan bumi pertiwi dijarah para perampok berdasi bersama koleganya yang berasal dari luar negeri.

Kini saat orang kurus ini sibuk mengurusi bangsanya yang tengah dilanda musibah pun, para pendengki itu makin sibuk kasak kusuk ingin menjatuhkan dengan cara yang licik penuh tipu daya yang mengatasnamakan rakyat. Akhirnya para pemuja yang lugu-lugu itu pun makin terbius begitu bebas mengumbar ujaran kebencian, hinaan, dan hoax, seolah mereka sudah tak bernurani lagi.

Mereka seperti memancing di air keruh penuh nista, tak perduli lagi dengan musuh bersama yang bernama Corona hingga membuat rakyat banyak yang merana. Bahkan mereka ingin menyudutkan orang kurus ini dengan isu murahan seolah ia lamban seperti keong, amatiran, dan gagal dipercaya lagi oleh rakyatnya, walau entah rakyat mana yang mereka maksud. Rakyat berdasi yang hobby berpuisi? Atau rakyat yang suka kolusi, korupsi, dan mengais rezeki dari gratifikasi?

Mereka seolah lupa bahwa negara sebesar Tiongkok sekali pun yang kini paling maju perdagangannya harus mengunci satu kota industri. Italia yang kota-kotanya indah dengan prestasi olahraganya menjulang tinggi pun terancam bangkrut hingga presidennya pun menangis merasa tak berdaya. Lalu negara adidaya seperti Amerika pun mencatatkan diri sebagai negara super power yang warganya meninggal terbanyak di dunia, hingga warganya yang berada di Indonesia enggan pulang karena dicekam rasa takut. Begitu pun negara-negara Islam di Timur Tengah keadaannya sama saja, bahkan ibadah umroh pun harus ditunda hingga si corona sirna.

Itu semua karena serangan pandemi Covid-19 yang tak pilih bulu sebagai penghancur nyawa dan ekonomi dunia. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Si kurus ini tidak mau gegabah walau digempur berbagai seruan dan desakan politik. Ia masih memikirkan rakyat dengan segala konsekuensinya. Ia harus berimbang berfikir antara perang dengan virus corona, virus politik busuk, dan wabah kemiskinan yang bisa melanda negeri ini. Ia sangat hati-hati sekali hingga menggelontorkan ratusan triliun rupiah bagi bangsanya.

Ia tak perduli sikapnya itu tak populis bagi oposan dan para pemujanya. Ia abaikan semua caci maki yang di alamatkan pada dirinya. Ia pun abaikan para politisi busuk yang beretorika seolah paling benar adanya. Ia pun tutup telinga bagi pendukungnya yang kini merasa paling kritis dan sok paling tahu. Lalu aku pun hanya bisa bertanya: "Apa yang sudah mereka berikan untuk bangsa dan negaranya, selain rewel dan kebanyakan BACOT?"

Pak Presiden, apa pun langkahmu, kami tetap bersamamu, dan tetap membangun semangat kebersamaan untuk sehat lahir dan batin. Kami paham engkau tak sempurna, karena engkau pun manusia biasa seperti kami. Tapi setidaknya Indonesia pernah melahirkan putra terbaik untuk memimpin negeri ini, tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Bung Karno sang Proklamator, Gusdur sang ulama yang pluralis, dan eyang Habibie sang guru bangsa. Pada akhirnya, suatu ketika aku akan memelukmu, seraya berbisik: "Pakde, engkau lah negarawan sejati yang dipuji dunia, tapi disia-sia sebagian rakyatnya yang bodoh."

Hormat wong cilik dari pinggiran kota..

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Thursday, April 9, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: