Kami Satu Keluarga Besar Memilih Jokowi

 
Oleh: Erizeli Bandaro
Ibu saya almamater Pondok Pesantren Diniyah Putri, Aisyiah. Walau ibu saya anaknya banyak namun dia tetaplah aktifis Aisyiah. DIsamping sebagai pengurus Aisyiah, dia juga sebagai ustadzah. Ibu saya sering berdakwah di majels taklim. Itu kegiatan regulernya. Menurutnya kalau berdakwah di Masjid dan majelis taklim, itu memberikan ilmu orang yang mau belajar dan mau mendengar. Itu engga sulit. Semua orang bisa. Tetapi hal yang sulit adalah bagaimana menyampaikan ajaran agama kepada orang yang tidak mau mendengar, orang yang lupa akan kasih sayang Tuhan, orang yang lupa bersabar. Karenanya dia juga punya kegiatan rutin lainnya. Apa itu.? Berdakwah di tempat lokalisasi pelacuran, di penjara dan di Rumah sakit. Untuk kegiatan itu semua dia tidak dapat bayaran.
 
Ibu saya bisa diterima oleh penghuni lokalisasi pelacuran dan penghuni penjara. Bahkan kehadiran ibu saya selalu di nanti mereka. Mengapa ? Tidak ada sekalipun ibu saya menghujat mereka atau merendahkan mereka karena perbuatan mereka. Berkali kali ibu saya mengingatkan kepada mereka bahwa Allah sangat sayang kepada mereka. Sebesar apapun dosa mereka, ampunan Allah jauh lebih besar. Banyak diantara mereka menangis setelah mendengar kotbah ibu saya. Dan ibu saya tanpa sungkan memeluk mereka. Banyak diantara mereka tobat karena itu. Dia juga datang ke Penjara wanita itu menguatkan mereka kembali ke jalan Tuhan. Mendatangi rumah sakit untuk menghibur hati sisakit untuk bersabar. Penyakit itu adalah pesan cinta dari Tuhan.
Ibu saya pasih bahasa Arab dan bisa bahasa inggris. Dari kecil Saya belajar agama dan bahasa inggris dari Ibu saya. Beliau melek politik dan penggemar baca buku. Sejak tahun 2014, 7 orang saudara saya adalah pemilih Jokowi. Apakah ibu saya memprovokasi kami secara langsung agar memilih Jokowi. Tidak. Dari kecil kami didik dengan agama yang ketat. Lantas mengapa kami tidak terprovokasi dengan ustad lainnya agar ikut membenci Jokowi ? Karena pendidikan agama yang diajarkan oleh Ibu saya bukanlah gaya pendidikan dokrin radikal tetapi pendidikan cinta. Saya ingat, waktu kecil sebelum berangkat tidur ibu saya bercerita tetap kehidupan Rasul. Itu kisah hikmah. Agar kami bisa bersabar dalam situasi apapun. Menemukan hikmah dalam setiap peristiwa. Kalau belajar ngaji, setiap penggalan ayat, beliau akan jelaskan tafsir Al Quran itu dengan kisah hikmah. Setiap pertanyaan selalu jawabnya berujung kepada kasih sayang Allah.
(Sumber: FB Diskusi dengan Babo)
Monday, July 13, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: