Kalis, Afi dan Shoma

Oleh: Niken Satyawati
 

Saya mengenal Kalis Mardiasih di sebuah ruang kelas menulis opini yg digelar media di mana saya pernah bekerja. Saat itu sebenarnya sudah beberapa kali tulisan Kalis dimuat di koran. Entah kenapa dia bergabung di kelas yang didominasi para orangtua itu. Seingat saya hanya dia seorang yg masih berstatus mahasiswa semester awal di antara 20-an peserta.

Di akhir sesi kami minta semua peserta berlatih menuangkan gagasan, mempresentasikan di depan kelas untuk kami evaluasi bersama-sama. Dan karya Kalis sungguh membuat saya dan instruktur lainnya tercengang. Dia menulis opininya tentang nasib orang-orang terlantar dengan racikan dan sentuhan sedemikian rupa. Indah dan sarat nilai humanisme. Saya yakin dia akan menjadi penulis hebat, dan tak perlu lama-lama ternyata prediksi itu tepat. Saya mendapati tulisan-tulisan gadis muda asal Blora ini di mana-mana. Dia produktif dan tulisannya makin hari makin matang. Popularitas Kalis makin menanjak saat dia membuat status sebagai jawaban atas caption IG dari akun seorang ustadz seleb.

 

 

Tulisan Kalis bukan tulisan opini biasa. Tulisan-tulisan Kalis bergaya kolom yang kontemplatif. Saat mojok.co belum kukut, tulisan Kalis adalah yang paling saya paling tunggu. Di media ini tulisan-tulisan Kalis bernuansa satire-sarkas, namun tetap renyah dikunyah. Harus diakui tak banyak penulis yang bisa mengolah kata-kata seperti Kalis melakukannya.

Afi Nihaya Faradisa, siapa yang tak mengenalnya? Sejak tulisannya berjudul "Warisan" membuat akunnya direport sehingga harus tumbang sementara waktu, Afi makin dikenal. Sebelumnya gadis yang baru lulus SMA di pelosok Banyuwangi ini sudah merebut perhatian banyak netizen karena tulisan-tulisan yang dipostingnya begitu indah, sarat pesan yang universal dan menginspirasi. Saya tidak mengenalnya secara personal namun saya menjadi follower di akun Facebook maupun Instagramnya. Saya kagum dan tercengang dengan pemikiran-pemikirannya. Keberpihakannya pada kemanusiaan dan keadilan dalam setiap huruf pada artikelnya begitu kental. Namun ada saja pihak yang tak menyukai dan memandangnya sebagai ancaman, hingga berniat menghabisinya.

Muhammad Shoma adalah murid kelas menulis yang menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di SMP Al Azhar 21 Solobaru. Semula saya tidak percaya ada siswa SMP yang sudah punya pemikiran jauh ke depan, idealis dan kritis, hingga saya bertemu dengan Shoma. Ketika anak seusianya sibuk main bola, yang perempuan masih sibuk membaca buku cerita princess atau lebih meningkat sedikit novel Tere Liye, Shoma sudah selesai membaca buku-buku biografi orang-orang besar di Indonesia dan dunia. Ketila kawan-kawannya menekuni buku pelajaran, dia malah membaca Das Capital. Kecenderungan ini sempat membuat orang-orang sekitarnya khawatir. Tulisan-tulisan Shoma sebagian diposting di Kompasiana. Belum seperti Afi dan Kalis, namun beberapa sempat menjadi headlines di blog keroyokan itu, indikator tulisannya memang berkualitas.

Kalis, Afi dan Shoma adalah tiga anak yang akhir-akhir ini menyita perhatian saya. Kesamaan merka adalah sama-sama kutu buku sejak kecil. Mereka adalah para remaja yang tidak biasa. Mereka sudah dewasa usia muda. Mereka berani menyuarakan pendapat walau harus berhadapan dengan "hakim-hakim" yang terus mengawasi dan siap mengetok palu untuk setiap kata-kata yang mereka tulis. Pribadi yang nir kepentingan namun mencerahkan sekitar, sedihnya malah dianggap sebagai ancaman. Semoga lahir lebih banyak anak-anak seperti mereka di negeri ini. Diberkatikah mereka, para orangtuanya dan bangsa Indonesia karena keberadaan mereka adalah penanda negeri ini masih memiliki harapan.

Kalis, Afi dan Shoma, Allah akan menjaga anak-anak yang baik seperti kalian.

PS: Kalis, Afi dan Shoma,.. Maafkan atas pencolongan foto yg saya lakukan dari Facebok kalian. Tujuh juta salam hormat untuk orangtua kalian.

 

(Sumber: Facebook Niken S)

Wednesday, May 24, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: