Kalian Jual Kami Beli, Kalian Diam Kami Hormati

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Sebenarnya sudah sangat jelas ya. Ada maling teriak maling. Ada kelompok orang yang menteror netizen dgn hoax dan menyerang pemerintah dengan fitnah, tapi kelompok itu juga yang teriak2 merasa jadi korban persekusi serta menuduh buzzer sebagai pelaku. Jika jantan, hadapi saja jangan baper. Hukum dagang biasa, bagi siapa yang jual maka akan ada yang beli. Kalau takut ya diam saja.

Bayangkan jika tidak ada suara2 miring yang berisik bikin gaduh dan terus menyerang pemerintah utamanya presiden Jokowi, apakah akan muncul balasan? Jika kaum supen (sumbu pendek) diam maka pendukung Jokowi akan diam, karena mereka bereaksi hanya jika ada yang perlu dikonter. Gak dikonter? Enakan elu, sembur fitnah terus tanpa diberi sanksi.

Ibarat nih ya, sudah susah payah bekerja banting tulang agar bisa membeli rumah dengan sah, namun ketika sudah memiliki rumah tersebut tiba-tiba ada pihak lain yang mengklaim rumah tersebut dan ingin merebutnya. Enak saja! Dianggap rumah itu punya Nenek lu!! Pasti akan dipertahankan meski nyawa taruhannya. Sejengkal tanah pun tidak akan lepas.

Pendukung Jokowi juga demikian, bersusah payah jadikan Jokowi Presiden yang sah. Sekarang mau diturunkan oleh orang begitu saja? Enak banget? Siapa yang tidak merasa terganggu? Siapa yang mau melepas sesuatu yang dulu diperjuangkan dengan berdarah-darah? Jika ingin berkuasa tunggu giliran, tradisikan tidak main serobot begitu.

Pelaku sudah jelas, tidak perlu berkelit di balik agama, mimbar akademik, kebebasan pers bahkan lembaga bantuan hukum abal-abal. Bagaimana bisa tahu pelakunya? Mudah sekali, lihat darimana sumber dananya? Siapa yang menjadi donatur? Dalam dunia politik, tidak ada makan siang yang gratis. Setelah diberi makan, apa yang harus dilakukan?

Lakukan bagaimana agar tujuan si pemberi makan tercapai, yaitu kekuasaan. Bagaimana caranya? Salah satu caranya, cari-cari kesalahan lawan lalu hajar, terus dan terus. Sampai lawan takluk sehingga jalan terbuka lebar buat menuju kursi kekuasaan. Simpel saja. Panggung par petualang dan penghamba kekuasaan kini beramai-ramai tertuju kepada presiden Jokowi.

Mereka tidak ragu menggelontor berapa pun yang dibutuhkan agar Jokowi merasa tidak nyaman memimpin karena berisik dan kegaduhan yang ditimbulkan. Mereka juga tidak ragu berkoalisi dengan siapapun selama musuhnya sama, bukankah tidak ada teman abadi di dunia politik? Setelah kekuasaan tercapai nanti bisa bermusuhan lagi. Koalisi semacam itu tidak berusia lama.

Beramai-ramai menyerang, beramai-ramai mencoba menelikung ingin menjatuhkan. Gila jika pendukung Jokowi hanya diam dan menerima begitu saja, "Monggo silahkan jatuhkan Jokowi dan ambil kursi kekuasaan, kami tidak akan melawan apapun...,'" begitu? Bener gak sih begitu harapan kaum supen kepada pendukung Jokowi? "Semoga gak ada perlawanan dan justru mendukung..."

Gila saja jika memang begitu? Hanya orang gila yang mau dengan suka rela menyerahkan dan melepas sesuatu yang dulu diperjuangkan dengan tidak main-main. Kecuali memang secara hukum sudah ditetapkan terbukti bersalah melanggar konstitusi. Namun jika hanya opini dan asumsi apalagi gosip rumor murahan? Jangan coba-coba.

Kalian berhak teriak maka kami juga punya hak teriak. Kalian diam, kami pun tidak melakukan apa-apa. Tinggal dipilih saja, tidak perlu main drama merasa mendapat perlakuan represif. Pemimpin diktator, otoriter, anti kritik. Sudah lah. Rakyat sudah tahu, semua itu hanya drakor untuk menarik perhatian dan simpatik rakyat saja. Rakyat tidak mudah lagi dibodohi cara-cara licik seperti itu. 

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

Saturday, June 6, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: