Kalian Dibully? Lawan

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Baru saja baca postingan di FB, seorang siswI nekad menghabisi dirinya sendiri. Lompat dari lantai 4 sekolahnya. Selain masalah rumah tangga, konon akibat 'pembullyan' di sekolah.

Ada lagi seorang anak perempuan yang terpaksa putus sekolah. Di bully juga. Duduk berdua-an di sadel sepeda motornya, disebut gurunya sebagai 'lonte'. Predikat terus melekat. Nyaris seluruh isi sekolah ikut teriakkan.

Ada juga seorang Anak Perempuan, karena ndak mau pakai jilbab di bully juga. Kali ini oleh 'rohis' sekolahnya.

Mengkhawatirkan tentu saja . . .

Dulu sekali bagi saya, atau bahkan sebagian besar teman2, sekolah adalah rumah kedua. Sangat menyenangkan bisa berkumpul bareng dengan teman se-usia. Belajar, bermain, guyon, bahkan bolos sekolah.

Guru pun demikian. Benar2 bisa di 'Gugu' dan di 'tiRu'. Bisa dijadikan contoh. Nyaris seperti orang tua. Kami nakal dimarahi. Besok sudah lupa. Baik guru maupun kami. Ha-ha hi-hi lagi.

Pagi di'strap' karena mbolos atau ndak buat PR. Siang sudah disuruh beli jajanan di kantin. Sebagian buat kami. Sorenya bungkuk hormat, cium tangan lagi. Selesai . . .

Itu dulu sekali . . .

Sekarang ? Marak pem-bully-an ?

Mungkin bisa 'belajar' dari pengalaman Anak Wedok saya saat masih Sekolah Dasar.

Wadul. Lapor. Tadi di sekolah di bully teman2. Sesama perempuan. Di ajak ke toilet, di ancam, mau dikeroyok. Tiga atau empat temannya.

Saya percaya anak saya ndak akan nakal, yang bisa picu para 'pembully'. Meski begitu saya tanya juga. Mengapa ?

Dia malah ndak tahu. Kemungkinan karena dia ndak mau diajak bermain. Anak Wedok saya ini kadang agak males main sama yang ndak 'cocok'. Agak pilih-pilih . . .

Bangun pagi agak muter2. Malas2an. Karena males sekolah . . .

Saya paksa berangkat. Dia agak takut. Takut dikeroyok lagi. Saya katakan, 'Jangan takut. Lawan !'. Ada tiga teman, jawabnya pelan . . .

"Ah gampang," jawab saya. Berdiri masuk ke kamar. Keluar bawa gunting rambut. Ini gunting 'pusaka' karena termasuk 'bekal' saya waktu berangkat ke Jakarta. Belasan tahun sebelum-nya.

"Bawa gunting ini. Mau ? Berani ?" Anak Wedok mengangguk. Kosong. Mungkin bingung. Tapi saya senang . . .

Sampai di sekolah masuk ruang guru. Gunting rambut masih dalam genggaman tangan kecil-nya. Erat. Wadah plastik yang warna merah, nampak nambah 'seram' penampilan. Guru BP jadi gemeteran. Sama kayak Anak Wedok saya. Takut dan bingung . . .

Proses selanjutnya saya lupa. Yang jelas semua masalah selesai. Anak Wedok tak lagi ada yang mbully. Sampai lulus sekolah aman. Tetep rukun2 saja dengan semua teman. Bahkan bersahabat sampai sekarang . . .

Jadi ? Kalau kalian, anak2 sekolahan, dibully, jangan menyerah dan takut. Lawan !

Datang ke sekolah bawa gunting. Ndak punya gunting bawa pisau. Ndak ada, ya bawa golok. Bawa cangkul juga ndak papa . . .

Pokoknya 'Lawan !'

Kata Arek Suroboyo, 'Tali duk tali layangan. Awak sitok, ilang2an'. Badan cuma satu ya sudah hilang ndak papa !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, January 25, 2020 - 17:30
Kategori Rubrik: