Kala Beragama Tanpa Akal Sehat

ilustrasi

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Jika beragama tanpa diiringi akal sehat maka akan cenderung menghasilkan pengikut yang kurang lebih mirip dengan sekawanan bebek tengil (ini saudaranya bebek bengil). Agama memang butuh akal sehat. Jika tidak, maka ia hanya memproduksi gerombolan fanatik koclok dan pengkhayal tingkat demit.

Misalnya saja begini. Teks “Barang siapa yang barangnya meniru barang suatu kaum….” selalu direproduksi, dilafalkan berulang-ulang, dan bahkan dijadikan sebagai alat kampanye dan propaganda murahan oleh jamaah kadruniyah wal asfaliyah untuk kepentingan sempit mereka dan antek-anteknya. Tapi karena teks itu dibaca tanpa nalar, maka yang terjadi justru kerancuan, kelucuan, dan kewaguan.

Pertanyaannya: apakah ada makhluk di dunia ini yang tidak meniru orang lain (mungkin Tarzan adalah pengecualian xixixi)? Memangnya ada produk-produk kebudayaan yang benar-benar eksklusif dan asli milik - dan hanya dipraktikan oleh - komunitas tertentu? Lebih spesifik lagi: memangnya ada “barang-barang” yang 100% Islami (properti umat Islam) itu?

Contohnya begini cung:

Perempuan yang berjilbab dan berhijab itu sebenarnya meniru umat mana? Karena ada cukup banyak umat agama yang mempraktikkan jilbab dan hijab ini, bukan hanya kaum Muslim saja tapi juga Yahudi, Kristen, Yazidi, Druz, Yarsanisme, dlsb.

Terus, lebih khusus lagi, perempuan yang berjilbab dan berhijab serba hitam itu sebenarnya meniru umat agama mana? Karena kelompok Kristen ortodoks dan Yahudi ortodoks juga memakai pakaian serupa. Kaum Yahudi ultraortodoks di Israel, Yaman, Ethiopia dan lainnya juga memakai cadar hitam penutup muka dan bahkan mengklaim itu “pakaian mereka”.

Lalu, Muslim yang bergamis atau berjubah itu meniru umat mana atau umat agama apa? Karena banyak sekali umat agama di Timur Tengah, bukan Muslim saja, yang juga bergamis. Bahkan, bukankah Biksu Tong Sam Chong juga bergamis?

Kemudian berjenggot itu meniru siapa? Bukankah banyak sekali umat non-Muslim, baik yang relijiyes maupun “seluler”, yang berjenggot.

Berikutnya lagi: apakah kalau lelaki berjas dan berdasi itu meniru “tapir”? Mengingat banyak sekali umat Islam, baik di Barat maupun non-Barat, yang berjas dan berdasi?

Dan masih banyak lagi contohnya.

Karena itu, marilah jadi umat beragama yang berakal sehat-waras karena hanya dengan ini agama bisa tetap menarik dan “sekseh sukeseh” di mata umatnya. Tuhan sudah buatkan kamuh akal-pikiran (mudah-mudahan begitu), maka harus dipakai dengan baik. Sayang sekali kan sayang kalau nggak dipakai? Kaaannnn

Sumber : Status Facebook Sumanto Al Qurtuby

Friday, October 18, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: