Kala Ahok Di Sayang dan Di Goyang

Oleh : Ben Ibratama

Sejak beredarnya potongan video mengenai ucapan Ahok di kepulauan seribu mengenai surat Al-Maidah ayat 51 beberapa waktu lalu sampai hari terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat dan menjadi topik pilihan di berbagai media.

Tak ada habisnya, seiring dengan pro dan kontra yang terus bergejolak. Ada yang berpendapat kita sudahi saja karena Ahok telah minta maaf dan menjelaskan maksud dari ucapannya tersebut, dan ada juga yang ingin kasus ini harus diproses secara hukum dan Ahok harus dibui.

Berbagai spekulasi terus bermunculan, ada yang menaggapinya dengan santai, dan ada pula yang secara tegas dan keras kalau hal ini tidak bisa dibiarkan karena menistakan agama. Bisa dibilang ada dua kubu, ada dua sudut pandang dalam menyikapi perkara ucapan Ahok ini. Suka tidak suka itu realita.

Sehubungan dengan momentum menjelang Pilkada DKI yang akan diselenggarakan tahun depan dan telah memasuki musim kampanye kasus yang menyandung Ahok ini belum juga tuntas. Gelombang protes terus berdatangan khususnya dari pihak yang memiliki anggapan kalau  Ahok sudah  menistakan agama dalam hal ini adalah agama Islam. Berbagai aksi telah dilakukan seperti unjuk rasa secara massal.

Unjuk rasa yang pertama sudah dilaksanakan sebagai bentuk protes dari pihak yang tidak senang dengan ucapan dan sikap Ahok. Bukan hanya sampai disitu, unjuk rasa yang kedua akan segera dilaksanakan pada tanggal 4 November 2016, sebagai ungkapan kekecewaan karena lambannya penanganan kasus Ahok dengan jumlah massa yang kemugkinan lebih banyak dari aksi yang kemarin.

Nah, saya tidak akan  menjelaskan kasus Ahok secara detail karena para pembaca tentu sudah sangat paham sekali duduk perkaranya, karena saya rasa hampir tidak ada media yang tidak membahas kasus yang menimpa Ahok ini. Kasus yang  bergulir ini sangat menarik untuk dibahas dari berbagai perspektif. Pada kesempatan ini saya mencoba untuk melihat dari perspektif psikologi massa.

Kalau kita berbicara mengenai psikologi massa tentu ini berkaitan erat dengan prilaku yang dilakukan oleh sekelompok orang secara bersama-sama atau kolektif (collective bahaviour) karena memiliki ketertarikan terhadap suatu isu atau kasus tertentu dalam hal ini adalah isu dan kasus penistaan agama yang dilakukakan oleh Ahok. Munculnya berbagai aksi dan gelombang protes hari ini menurut hemat saya ditunjang dengan kondisi pembentuk prilaku massa.

Prilaku massa ini merupakan gejala psikologis massa yang tampak, bisa diamati. Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terbentuknya prilaku massa dalam hal ini ada dua yaitu Structure Strains dan General Beliefes.

Structure Strains adalah perilaku massa yang muncul secara tersruktur dalam menyikapi berbagai hal dalam hal ini adalah pihak yang melakukan protes melalui aksi demo. Sementara General Beliefes adalah prilaku massa yang muncul karena ada berbagai interpretasi mengenai suatu hal dalam hal ini  adalah kasus penistaan agama oleh Ahok.

Berdasarkan fenomena akhir-akhir ini mengenai kasus Ahok saya memiliki pandangan bahwa apa yang dilakukan oleh pihak yang kontra terhadap Ahok karena  mereka berada  dalam kondisi Structure Strains, berbagai aksi yang muncul karena ada kekuatan secara terstruktur yang meggerakan sehingga menjadi sebuah aksi yaitu melakukan orasi atau demo.

Sementara pihak yang pro terhadap Ahok berada dalam kondisi General Beliefes karena ada interpretasi yang lain yang harus dipertimbangkan.

Kasus yang melanda Ahok ini sangat menarik sehubungan dengan majunya Ahok dalam kontestasi Pilkada DKI, hentakan politik yang luar biasa mengakibatkan masyarakat terbagai menjadi dua kubu, kubu yang pro dan kubu yang kontra. Tidak ada yang salah dengan sikap masyarakat kita dalam menyikapi kasus ini, namun spekulasi mengenai pelemahan Ahok sebagai petahana cukup kuat meskipun ada beberapa pihak yang membantahnya.

Dalam kontestasi politiki apalagi sekelas kepala daerah ibu kota negara tentu prilaku goyang- menggoyang khususnya lawan politik menjadi tradisi alamiah demi memenangkan pertarungan, bahkan goyang gergaji Dewi Persik pun wajib untuk dilakukan agar mematahkan dan menjatuhkan lawan poltik. Tidak buruk, asalkan masih menjunjung etika dan dilakukan secara bermartabat.

Dalam hal ini saya memiliki asumsi bahwa pihak  yang kontra terhadap Ahok bukan hanya sebagai kondisi alamiah  dari psikologi massa tapi sudah terkontaminasi dengan kepentingan elit politik meskipun hal ini masih debatable.

Kalau kandidat terlalu lama digoyang justru bisa menjadi bumerang untuk pelakunya. Berharap memunculkan sentimen negatif tehadap lawan politik tapi justru panen simpati karena intensitas yang cenderung berisi keburukan tentang lawan politik dapat memperkuat kesan bahwa ada  kekuatan lawan yang ikut berkontribusi, justru hal ini menjadikan lawan politik semakin disayang oleh publik karena menciptakan kesan yang tidak baik.

Sebuah fenomena dan realita sosial yang unik ketika Ahok dihadapakan dengan kasus yang paling sensitif untuk dibahas di Republik ini yaitu kasus agama, antara hati nurani dan logika, antara manfaat dan mudharat menjadi beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan sebelum bersikap. Saya berharap beberapa elemen di atas harus murni dikedepankan, jangan terkontaminasi dengan kepentingan.

Tapi saya rasa untuk melepaskan fenomena Ahok ini dari ketertkaitannya dengan skenario politik yang sudah disetting susah untuk dibantah meskipun sudah ada yang menjelaskan, kalau hal ini tidak ada kaitannya dengan politik. Ya, kalau tidak percaya tanyalah pada rumput yang bergoyang.

Banyak hal yang menarik dari kasus Ahok ini ketika ketika sebagian pihak bersikap menentang Ahok tapi disisi lain masih banyak juga yang bersimpati dan peduli terhadap Ahok, yang justru tidak mempermasalahkan kasus Ahok dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Fakta hari ini adalah kita bisa melihat bagaimana Ahok masih disayang publik karena kerja dan pribadinya, disisi lain kita bisa melihat bagaimana Ahok digoyang publik karena kerja dan pribadinya. Walaupun Ahok tersandung dengan dugaan kasus penistaan agama islam, tapi  fenomena di lapangan justru menunjukan bahwa simpatisan Ahok juga banyak yang beragama islam dan bersimpati kepadanya. Suatu hal unik yang menarik ditelisik lebih jauh. **

Sumber : Qureta.com

Tuesday, November 1, 2016 - 16:30
Kategori Rubrik: