Kakak Pembina yang Ajarkan Kebencian

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Rasa pahit espreso yang kuhirup masih menggantung di pangkal lidah. Di sebuah kedai kopi di Bandara. Ketika sebuah tayangan video yang dikirim seorang teman. Isinya anak-anak Pramuka yang diajarkan yel-yel kebencian.

Saya dulu pernah ikut Pramuka. Bukan karena apa-apa. Hanya karena diwajibkan. Tapi, jujur, saya gak betah.

 

Saya gak cocok pelajaran baris berbaris. Jalan saya serantal-seruntul. Gak sesuai irama. Gak bisa ritmis. Semaunya.

Tapi karena diwajibkan ya, saya terpaksa ikut. Walaupun sering dihukum karena bikin kekacauan terus.

Pernah sekali waktu kami kemping di bumi perkemahan. Tidur di tenda. Numpuk kayak ikan asin. Setelah seharian bermain lumpur, mencari jejak dan bermacam kegiatan. Teman-teman saya lelah. Mereka tidur bergeletakan. Seorang kakak pembina ikut tidur juga di tenda kami.

Saya terbangun malam. Semua orang sudah tidur di sekeliling. Iseng banget bangun sendirian ketika semua orang pada tidur.

Mulanya saya buka-buka ransel. Mengambil minyak angin. Saya mengoleskan minyak angin ke telapak tangan teman yang tidur. Lalu saya mengilik lubang hidung teman itu. Tentu saja dia reflek. Menggaruk-garuk hidungnya yang mendadak gatal.

Gak lama, teman saya terbangun. Merasakan hidungnya panas. Sementara saya pura-pura tidur.

Ah, asyiknya jadi Pramuka. 

Mungkin karena udara dingin, teman saya cuma sebentar saja terbangun. Lalu kembali tidur. Ngantuknya tidak bisa dikalahkan oleh hidung yang panas. 

Sebagai Pramuka, tentu saja saya sebel. Gak bisa tidur. Nyari teman buat ngobrol gak ada. Mungkin karena minyak angin yang saya oleskan ke tangannya terlalu sedikit.

Setelah semua tidur lagi, saya bangun lagi. Suasana lumayan serem juga. Apalagi desakan ginjal membuat saya kebelet pipis. Tapi mana berani saya nyeruntul sendirian ke toilet umum. Suasana gelap. Bukan karena saya penakut. Tapi kalau ketemu Kuntilanak, gimana?

Terpaksa saya jalankan keisengan lagi. Kali ini pilihannya kakak pembina. Saya mengoleskan minyak angin di telapak tangannya. Agak banyak sekarang. 

Eh, sebelum saya mengilik hidungnya. Kakak pembima ngulet. Udara memang dingin. Ia malah memasukan tangannya ke dalam celananya. Mungkin mau mencari kehangatan di sana.

Saya kaget. Tercekat dengan perilaku itu. Membayabgkan minyak angin saya melumuri bagian dalam kakak pembina. Setengah ketakutan, saya buru-buru tidur.

Gak lama kakak pembina bangun. Wajahnya agak meringis. Mungkin kepanasan. Ia beranjak.

Buru-buru saya pura-pura terbangun. "Mau kemana, kak?"

"Ke toilet."

"Saya ikut, kak..."

Kayaknya malam itu kakak pembina mengguyur isi celananya untuk menghilangkan panas. Itu saya dengar dari suara air di kamar mandi.

Malam itu, saya punya teman ngobrol di tenda. Kakak pembina tidak tidur lagi. Kami berbincang sampai pagi. Meskipun kakak pembina setiap 10 menit sekali balik ke toilet. Buat mendinginkan suasana.

Itulah asyiknya jadi Pramuka jaman dulu. Kakak pembinanya baik hati. Mau menemani seorang kadet Pramuka yang gak bisa tidur.

Gak seperti zaman sekarang. Kakak pembinanya banyak yang norak. Dulu ketua Kwartir nasionalnya simpatisan HTI. Untung saja sudah diganti. 

Eh, baru kemarin tersebar video kakak pembina yang mengajarkan tepuk Pramuka dengan embel-embel kebencian. Bawa-bawa agama dengan tujuan gak jelas. Ngapain juga ngajarin kayak gitu ke anak-anak. Norak bin gendheng.

Ini Pramuka. Urusannya baris berbaris. Main tali. Sandi morse dan kemping. Gak ada hubungannya dengan agama. Gak usah lebay. Jangan racuni anak-anak dengan otakmu yang seupil berisi kedengkian.

Jika saja saya masih jadi Pramuka dan punya kakak pembina seperti itu. Pasti saat kemping dia sudah saya balurin minyak angin. Yang banyak.

"Lho, yang ngajarin tepok rasis itu kakak pembina cewek, mas," ujar Abu Kumkum.

Hmm... Saya punya banyak boneka ular. Tinggal tungguin saja dia mandi di toilet umum perkemahan. Pas jebar jebur, saya masukan ular-ularan yang saya punya itu. Lewat lubang angin. Biar dia kaget. Lompat dari kamar mandi. Lalu lari keluar. Gak sempat nyambar handuk.

Keriuhan itu juga sekaligus sebagai hadiah dari saya buat kakak pembina saya yang cowok. Yang baik hati itu. Yang mau nemani saya begadang di tenda. Yang malam-malam menderita kepanasan.

"Biar kakak pembinanya yang cowok merasa normal lagi, ya, mas?"

Iya Kum...

(www.ekokuntadhi.id)

Wednesday, January 15, 2020 - 00:30
Kategori Rubrik: