Kahiyang-Bobby, Perkawinan Abad Ini

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Kali keduanya Pak Jokowi presiden RI mantu, tidak ada gegap gempita saat beliau melangsungkan pernikahan anak sulungnya Gibran, hanya saat itu kesederhanaan sudah melekat dalam prosesi acara pernikahan yg kebetulan besannya tidak jauh dari rumah Pak Jokowi, rumah sederhana besannya hanya dicat agar kelihatan bersih, saksi pernikahanpun cuma ketua RT setempat. Beliau tidak memakai istana, kali ini juga dia pesta di kampungnya.

Kali ini auranya lebih terasa nusantara dan sederhana, mendapat mantu suku Mandailing masih satu kasta dengan suku Batak, menandakan bahwa Pak Jokowi dan keluarga tidak memandang kesukuan sebagai bentuk keharusan, karena memang demikianlah yg harus dijalankan. Dari perjalanan hidupnya yg sangat sederhana, bermukim dalam lingkup kemiskinan walau beliau selalu berkata bahwa kemiskinannya saat kecil adalah sebuah kemewahan karena dia bisa sekolah dan 3 kali sehari makan atas usaha orang tuanya yg selalu menekankan bahwa miskin bukan untuk diratapi, tapi harus bangkit untuk keluar dari jeratan yg berkepanjangan. Bekal itulah yg membuat dirinya mendidik anak-anaknya menjadi berlaku egaliter dan bersahaja. Keluarga ini tidak kemaruk jabatan, harta, kedudukan, keangkuhan dan membuat kasta berkuasa, mentang-mentang jadi penguasa.

 

 

Solo seperti menabur aroma sakral menyambut pesta rakyat, Pak Jokowi yg mantu, tukang becak dan seluruh warga Solo yg bernafsu, aura positif dan rasa bangga yg begitu membuncah membuat haru biru menjadi satu dalam kebanggaan termasuk rakyat Indonesia. Presiden lugu yg terus dijadikan seteru kaum pemburu hantu berjalan pelan tapi pasti bahwa tugas, hidup, tanggung jawab penuh amanah harus dituntaskan dgn khusnul khatimah, tentu didalamnya termasuk menikahkan buah hatinya. Satu hari sebelum acara berjalan dia sempatkan pidato ditengah hutan Madiun, bicara soal lingkungan yg berkelanjutan, begitu konsennya seorang pemimpin kepada tugas-tugasnya, pemimpin yg selalu di maki-maki Amien Rais, sekaligus di kangeni, dicemburui Fadli Zon dan Fahri Hamzah, sampai-sampai Jokowi korek kupingpun mereka mau tau yg keluar apa, sangking pengen taunya, sampai ketahuan guobloknya.

Acara yg dilangsungkan dengan adat Jawa, ribuan undangan berdatangan baik yg diundang maupun yg maksa datang, sampai ada yg ngomel karena tak diundang, mukanya jadi gelap karena kalap. Kesederhanaannya begitu terlihat, diadakan di gedung milik mereka sendiri, catering dari anaknya sendiri, panitia juga Gibran yg ngurusi. Mas kawin 80 gram emas, bukan 89 milyar seperti anak konglomerat, saking merakyatnya sampai robongan menteri dan Bu Mega makan bakso di warung pinggir jalan, ini mau karena malu atau dipaksa agar berprilaku seolah-olah.... tapi apapun itu Jokowi punya kontribusi, selalu ada efek positif pada setiap geraknya, baik saat dia ketawa, sampai mantupun dia membuat lingkungan harus sederhana, luar biasa...

Acara ini akan dicatat, bukan dicacat, sebagai perkawinan luar biasa di Indonesia, penuh kesederhanaan, melibatkan rakyat, tidak berlebihan, dan berjalan tanpa dibuat-buat karena pesanan. Semoga kesederhanaan ini menjadi tauladan bagi semua insan Indonesia, khususnya yg salah gaya. Catat ya, pesta tidak perlu nunjukin kalau anda kaya raya yg penting anak cucunya jadi apa. Sebuah perkawinan tidak harus mengedepankan kemewahan, yang penting esensinya bahwa rumah tangga harus terjaga, anak-anak terdidik agar kelak tidak jadi pemalak.

Selamat berkeluarga nusantara Pak Jokowi, kami bangga padamu, semoga Kahiyang, Ayu luar dalam, dan Boby bisa menjadi suami panutan. Horas, matur nuwun.

Friday, November 10, 2017 - 19:15
Kategori Rubrik: