Kafir?

Oleh: Abdul Ghaffar Karim
 

"Setelah konsolidasi dengan umat siap, beliau (Rizieq) akan pulang, biar yang jemput banyak di bandara, semoga sampai lumpuh", begitu kata pengacara Rizieq Shihab.

Inilah contoh cara berpikir yang menabrak dan mengingkari ajaran Islam. Salah satu essensi agama adalah ketertiban dan keteraturan. Al Qur'an menegaskannya dalam perintah: "Taatlah pada Allah, dan taatlah pada Rasul-Nya, dan pada pengelola urusan (ulil amri) di antara kalian." (4:59)

 

 

Ketaatan pada mereka yang memegang kendali atas urusan-urusan publik (ulil amri) adalah perintah Allah. Para mufassir berbeda pandangan tentang apakah ulil amri ini orang atau lembaga. Namun mereka mensepakati bahwa yang dimaksud amr dalam kata itu adalah semua kepentingan publik yang bersifat positif.

Karenanya, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah mengatakan bahwa ulil amri bisa termasuk polisi yang mengatur ketertiban lalu lintas. Terlepas dari banyaknya keluhan soal integritas aparat kepolisian di jalan raya, namun fungsi utama mereka adalah mengatur ketertiban. Mentaati ketertiban yang diatur oleh polisi di jalan raya adalah bagian dari keberagamaan yang essensial.

Dengan logika yang sama, ketaatan pada lampu lalu lintas sebenarnya adalah essensi dari keberislaman dalam praktek. Jika Anda merasa seorang Muslim, apalagi sedang megenakan atribut yang diasosiasikan dengan keislaman (seperti jilbab), pastikan Anda tak melanggar lampu lalu lintas dan marka jalan.

Nah, kembali ke ajakan pengacara Rizieq Shihab untuk melumpuhkan bandara. Bagi saya, inilah contoh ajakan untuk melawan perintah Al Qur'an dalam praktek. Ajakan untuk merusak kelancaran urusan bersama adalah ajakan untuk mengingkari perintah Allah dalam Al Qur'an agar kita mentaati ketertiban.

Kini kita tahu, bahwa kelompok yang rajin menuduh orang lain sebagai kafir itu justru sedang menganjurkan kekafiran dalam prakteknya.

 

(Sumber: Facebook)

Wednesday, May 31, 2017 - 10:00
Kategori Rubrik: