Kafir Ala Dwi Estiningsih

 

Oleh : Denny Siregar

Membaca bagaimana si Dwi Estiningsih ini menyebut pahlawan yang beragama lain sebagai kafir, membuat dada sesak..

Si Dwi ini contoh produk dogma, dimana konsep kafir atau kufur atau ingkar, disematkan pada mereka yang bukan muslim. Ia sama sekali tidak beragama dengan akal. Karena jika ia berakal, tentu ia akan sulit sekali berkata "kafir" pada agama lain.

Sebenarnya apa sih yang disebut kafir ?

"Janganlah kalian sepeninggalku menjadi kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yg lainnya." Perkataan Nabi Muhammad Saw ini tercatat dalam Hadis Riwayat Bukhari.

Coba perhatikan, apakah Nabi mengatakan ini kepada mereka yang non muslim ? Tentu tidak, karena Nabi menyampaikan ini di hadapan para sahabatnya yang notabene adalah muslim.

Jadi jelas sekali bahwa Nabi khawatir para sahabatnya yang sudah memeluk Islam menjadi kafir ( ingkar ) sepeninggalnya nanti. Kafir dalam artian bukan pindah agama, tetapi kembali ke masa jahiliyah - masa sebelum mereka mengenal Islam - dimana semua perbuatan jahat menjadi benar, seperti contohnya memenggal leher diantara mereka sendiri.

Jadi, secara akal kita bisa melihat bahwa kafir itu sebenarnya lawan kata dari muslim, yang berarti total kepada Tuhan dengan mengikuti petunjuk Nabi-Nya.

Ingkar kepada petunjuk Nabi Muhammad Saw lah yang menjadikan seorang muslim menjadi kafir. Disuruh jangan korupsi, tapi "korupsi dikit, boleh kan ?". Diperintahkan supaya berahlak, eh sweeping sambil teriak2.

Lalu kenapa kafir sekarang ini sering ditinpakan kepada mereka yang beragama lain ?

Ini karena kebanggaan yang dipupuk terus menerus dengan pemahaman atau akal yang lemah. Tidak mampu mencerna agama dengan baik "apa itu agama", sehingga agama dijadikan jubah kebesaran dan bukanlah petunjuk.

Akal yang lemah itulah yang diserap dan diturunkan dari generasi ke generasi. Pokoknya cukup "syahadat" sudah pasti muslim. Kalau cuman syahadat doang, Kanjeng Dimas jagoannya sambil menipu banyak orang. Aa gatot juga bisa sambil pesta seks di depan orang...

Karena terlalu besar anunya - maksudnya kebanggaan pada golongan - maka mereka menolak bahwa seorang yang beragama Islam bisa kafir. Sama seperti si Dwi, dia takut menunjuk dirinya sendiri kafir dan lebih mudah menunjuk orang lain sebagai kafir.

Mereka yang melecehkan jasa pahlawan yang sudah mempertaruhkan hidupnya, jelas kafir karena jauh dari ahlak Nabi Muhammad Saw. Dan si Dwi malah bangga dengan kekafirannya melalui cara mengkafirkan mereka yang sudah membuatnya nyaman hidup di negara ini..

Untuk bro Birgaldo Sinaga, terima kasih sudah mem-polisikan si Dwi Estiningsih. Ini memang harus dilakukan biar dia bisa berfikir tentang kekafirannya sendiri..

Kalau ngga, bisa2 si Dwi ditangkap beramai2 dan di taruh di tengah jalan raya menunggu bus datang sambil teriak2, "Om, tabrak om.."

TELOLELOLET... Brakkkkkk !!**

Sumber : facebook Denny Siregar

Thursday, December 22, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: