Kadrun Sekadrun-Kadrunnya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Jika dalam Pilpres 2019 kemarin, Jokowi tak dipilih Sri Bintang Pamungkas atau Amien Rais, Gerung, Zon, dan Rizieq serta para golputers, bukan berarti mereka bisa dan boleh menggugurkan data KPU dan keputusan MK. Apalagi mengganti Jokowi dengan yang lain, sebagai Presiden R.I. 2019 - 2024.

Bayangkanlah, Sri Bintang Pamungkas, yang waton sulaya. Tak bisa menerima hasil Pilpres kemarin. Apa yang dilakukan? Ia kampanye untuk menggagalkan pelantikan Jokowi sebagai presiden. Emang siapa dia? Jokowi setidaknya dipilih lebih dari 85,6 juta manusia Indonesia, dari berbagai latar belakang dan status sosial. Mau dibatalin oleh seorang ayah, yang gagal mendidik anak, yang kini di bui lantaran narkoba?

 

Kalau nilai kepantasan hanya diukur keinginan pribadi, meski dengan memperalat agama sebagai legitimasi, siapa yang sebenarnya merupakan bagian soehartoisme? Melanggengkan cara-cara diktator, dengan klaim-klaim anti demokrasi? Mereka yang kalah dalam kontestasi kemudian menolak hasil demokrasi dengan menyalahkan sistem demokrasi, adalah kadrun sekadrun-kadrunnya.

Celakanya, ketika mencoba proporsional, tapi jika berbau membela Jokowi, spontan dituding buzzer istana. Bayaran pula. Bukan hanya yang anti Jokowi, media yang konon keren kayak Tempo, hanya mengistilahkan sebutan ‘buzzer Istana’. Tempo sama sekali abai adanya buzzer HTI, buzzer Prabowo, buzzer anti Jokowi, buzzer PKS, dan buzzer lainnya. Tapi karena Tempo, kita diem. Nanti dituding tak menghargai karya jurnalistik nan sastrawi. Mengutip sumber dari luar, nggak tahunya data bertolakan dengan framing yang mau dibangun. Ufs, jangan ngritik media, nanti kamu dibully.

Demokrasi memang sebuah keriuhan, kecerewetan. Tapi apakah itu sesuatu yang membanggakan, jika kemudian berjalan seenaknya sendiri? Tak berlaku disiplin dalam menghargai sistem hukum yang melingkupi? Demokrasi kita hanya mengenai hak dan kebebasan untuk saling mempengaruhi. Minimnya penegakan dalam sistem dan mekanisme, membuat demokrasi tidak produktif. Hanya kegaduhan belaka.

Sekarang dibilang era ‘matinya kepakaran’, para mainstream mulai tersingkirkan oleh hadirnya berbagai merk smartphone berjumlah 371,4 juta untuk 267 juta penduduk Indonesia. Salah siapa? Kalau partai politik, dunia kampus, kalangan agama, berhasil mendidik bangsa Indonesia menjadi manusia yang baik dan benar, dengan daya literasi memadai, Indonesia sudah berjaya tanpa harus menghina-dina Jokowi.

Kita tak sadar dunia berubah. Modernisme dan demokrasi juga gagap secara teoritik. At present the peace of the world has been preserved not by statesmen, but by capitalists, sabda Benjamin Disraeli seratus tahun lampau. Saat ini perdamaian dunia telah dilestarikan bukan oleh negarawan, tetapi oleh kapitalis. Karena menurut sejarawan Amerika, Will Dunant, “Seorang negarawan tak mampu menjadi seorang moralis!”

Kita lebih senang bertengkar. Padahal nggak mutu babar-blas. 

 

(Sunardian Wirodono)

Saturday, October 12, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: