Kader PDIP Soraki Fadli Zon, Isyarat Gerindra 'Kena Gusuran' Ahok

 

REDAKSIINDONESIA - Ada kejadian menarik ketika Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri memperkenalkan tokoh-tokoh yang hadir di Rakernas I PDIP di awal pidatonya. Saat diperkenalkan, Plt Ketua DPR Fadli Zon disoraki oleh para kader PDIP.

Mega membuka pidato politiknya di JI EXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (10/1/2016) dengan menyapa Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Kemudian giliran Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Plt Ketua DPR Fadli Zon.

"Kepada yang mewakili atau sekarang pelaksana tugas DPR RI, Bapak Fadli Zon," kata Mega dari podium. Bukannya tepuk tangan, ternyata justru sorakan yang didapat Fadli. Lebih dari 1.000 kader PDIP kompak menyoraki Fadli.

"Huuuuu...," teriak para kader PDIP ibarat koor.

Fadli tampak hanya tersenyum saat mendapat sambutan seperti itu. Mega lalu melanjutkan memperkenalkan satu per satu tokoh. Hingga tiba saatnya Mega memperkenalkan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama. Pria yang akrab disapa Ahok itu mendapat sambutan meriah.

Para kader PDIP memberikan tepuk tangan cukup lama untuk Ahok. Pria itu pun kemudian sempat berdiri sejenak. Mega lalu melanjutkan pidatonya. Kader-kader PDIP dan para tokoh pun menyimak pidato Mega hingga sekarang.

Menteri-menteri yang hadir adalah Menko PMK Puan Maharani, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menhub Ignasius Jonan, Menteri PU-Pera Basuki Hadimulyono, Menteri PPA Yohana Yembise, Menlu Retno Marsudi, Menhan Ryamizard Ryacudu, Mentan Amran Sulaiman, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkum HAM Yasonna Laoly. Ada pula Seskab Pramono Anung dan KSP Teten Masduki.

Ketua MPR Zulkifli Hasan yang juga merupakan Ketum PAN duduk di sebelah Megawati. Ada pula Ketua DPD Irman Gusman dan plt Ketua DPR Fadli Zon yang merupakan Waketum Gerindra. Hadir juga mantan wapres Try Sutrisno.

Para ketum parpol yang hadir adalah mereka yang mendukung pemerintah yaitu Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Hanura Wiranto, Ketum NasDem Surya Paloh, Ketum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketum PPP hasil Munas Surabaya Romahurmuziy.

Terbayang pastinya bagaimana raut wajah Fadli Zon ketika menerima sorakan tersebut. Namun karena beliau seorang politisi berpengalaman dan bermuka tebal, tentu hal itu tidak membuatnya terbawa perasaan. Bisa dibilang cuma guyonan politik.

"Kalau saya sih wajar saja. Mungkin karena saya suka kritik pemerintah dan pemerintah didukung PDIP. Wajar," jawabnya ketika ditanya insan media.

Meskipun kehadiran Fadli Zon di sana sebagai plt Ketuda DPR, tapi publik juga tahu kalau beliau adalah figur Gerindra paling tersohor dan vokal di DPR. Saking kondangnya, sampai-sampai barangkali sosok Prabowo kalah populer dibandingkan Fadli Zon. Publik juga tahu bahwa kini, Gerindra digadang-gadang menjadi oposisi sendiri di Koalisi Merah Putih. Sedangkan di sisi lain, Ahok sudah berulang kali membuat Gerindra meradang di DKI.

Dari pernyataan resmi tidak lagi bersama Gerindra sampai perseteruannya dengan M. Taufik, politisi Gerindra yang menjabat Wakil Ketua DPRD DKI, terus-menerus membuat Ahok semakin dimusuhi partai berlambang kepala garuda tersebut. Demikian pula menjelang Pilgub DKI 2017, Politisi Gerindra Muhamad Sanusi memberikan peringatan pada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Menurut Sanusi, pria yang karib disapa Ahok itu belum tentu memenangi Pilkada 2017 nanti. Meski sangat populer, Ahok bisa saja terjungkal. Sanusi mencontohkannya dengan kejadian yang menimpa Fauzi Bowo pada 2012 lalu. Saat itu, Foke, sapaan karib Fauzi juga sangat populer karena berstatus petahana. Namun, Foke harus mengakui kehebatan Joko Widodo yang kala itu berpasangan dengan Ahok. Nah, berbekal kejadian itu, Sanusi menilai Ahok belum boleh jemawa.

Apa yang terjadi di Rakernas PDIP menunjukkan betapa Gerindra sesungguhnya sudah kalah dari Ahok, tapi partai besutan Prabowo Subianto itu bisa unggul jika memasang figur cagub yang populer. Tinggal mencari strategi yang pas untuk menumbangkan Ahok. Mungkin Gerindra bisa memasang Fadli Zon daripada harus 'memungut' Risma atau Ridwan Kamil yang sampai kini belum berminat (dan mungkin takkan berminat) untuk maju di Pilgub DKI.

Di sisi lain, kader PDIP coba tampaknya hendak memperkeruh suasana ibarat 'mengadu domba'. Guyonan politik itu sengaja dilontarkan oleh PDIP sebagai partai pemenang pileg 2014 yang tentu tidak akan bergeming saja, pasti akan mencoba mendekati Ahok yang kini bak magnet. Meskipun Pilgub DKI seolah masih jauh, tapi setahun akan berlalu cepat. Baru saja 2016, tiba-tiba sudah 2017. Seluruh parpol pasti mulai berancang-ancang dari sekarang. Publik, khususnya warga DKI yang telah menyerahkan KTP untuk mendukung Ahok, masih berharap bahwa Gubernur Basuki Tjahaja Purnama akan maju lagi sebagai calon independen. Mungkin memang tren kekinian adalah menjadi calon independen ketimbang dari parpol. 

 

Sumber utama: detik.com

Sunday, January 10, 2016 - 12:00
Kategori Rubrik: