Kadang Formalitas Bikin Tak Nyaman

ilustrasi
Oleh : Teguh Arifiyadi
Saya tidak menulis soal covid lagi yang saat ini entah sedang bernegosiasi apa dengan tubuh saya.
.
Saya mau menceritakan kenapa sebagian orang menganggap bahwa jabatan itu lebih mengaysikkan dibanding uang. Saya tidak akan menceritakan betapa jabatan memberikan kita wewenang untuk menjadi pengambil keputusan stategis. Itu ketinggian. Saya menceritakan hal remeh temehnya saja.
.
Jadi, pamor jabatan itu (bagi sebagian orang) selain soal gengsi, juga soal betapa gurihnya menikmati hak-hak istimewa yang tidak serta merta bisa dibeli dengan uang. Apa contohnya?
.
Pertama. Plat mobil dinas sebagai senjata 'mengusir' pengendara lain agar memberi jalan.
Plat-plat merah, polisi, dan militer sering kali mendominasi perebutan jalanan Jabodetabek. Tak sungkan mereka menyalakan sirine, pengeras suara, pengawalan khusus, yang sebetulnya (bisa jadi) sebagian besar dari mereka bukan orang yang berhak mendapatkan kesitimewaan di jalan menurut undang-undang. Kalau bukan karena jabatan dan profesi, mana berani. Siapa yang berani menegur mereka?
.
Kedua. Kursi besar empuk di ruang pertemuan!
Baris pertama ruang pertemuan atau ruang acara workshop/seminar selalu diisi oleh deretan kursi besar dan empuk yang dikhususkan bagi pejabat dan tokoh yang diundang. Praktik ini lazim jika itu acara kenegaraan atau gelaran ceramah kiyai kondang. Sayangnya praktik itu hampir selalu ada di acara macam seminar, workshop, bimbingan teknis, bahkan sarasehan. Saya tak persoalkan perihal kursi empuknya, tapi deretan kursi empuk depan itu adalah deretan yang pertama menghilang, izin pamit duluan, dan meninggalkan kemubadziran atas nama jabatan.
.
Ketiga. Ruang kerja yang besar!
Pengalaman saya mengunjungi salah satu pejabat eselon 3 di salah satu dinas di daerah, membuat saya mlongo. Ruangan bu pejabat tersebut luasnya nyaris 100 meter per segi dan diisi dia sendiri. Didukung dengan fasilitas meja kerja selebar meja pingpong, layar TV besar, dan sebuah layar monitor komputer yang tak tahu apakah pernah menyala. Nikmatnya jadi pejabat rasa 'raja' di kantor!
.
Oh iya di kantor, sebagai plt Direktur, ruangan yang diberikan ke saya luasnya sekitar 6x6 meter persegi. Setengahnya adalah ruang rapat. Ruang itupun sampai saat ini belum pernah saya tempati karena menurut saya mubadzir jika hanya saya sendiri dalam ruangan sebesar itu. Kini, ruangan tersebut lebih banyak difungsikan sebagai ruang rapat. Sementara saya masih nyaman di ruang kerja lama saya yang ukurannya 2x2.5 meter.
.
Keempat. Lembar absensi rapat!
Saya selalu heran, kenapa absensi rapat nomor satu harus diisi oleh orang dengan jabatan tertinggi di rapat? Bukankah nomor satu harusnya diisi oleh orang yang pertama kali hadir duluan di ruang rapat? Alasannya katanya adalah untuk menghormati pejabat yang hadir agar nama mereka selalu berada di urutan tertinggi absensi! Sepele. Tapi menunjukan betapa istimewanya jabatan. Padahal ini bukan perkara kesopanan, tapi kebiasaan saja.
.
Kelima. Hari ulang tahun!
Jika kita ASN, ingin hari ulang tahun kita dirayakan secara meriah oleh banyak orang, jadilah pejabat di top atau middle management. Ini bukan prilaku yang salah, berlebihan, apalagi tak pantas. Ini hal yang normal sebetulnya. Ini memang bentuk penghormatan. Tapi tak perlu malu juga kita mengakui bahwa penghormatan ini kita lakukan karena strata jabatan.
.
Saya pribadi orang yang tidak suka protokoler dan nuansa formal-formalan. Tapi terkadang karena tugas jabatan, suka atau tidak ya harus diikuti juga. Itulah mungkin kenapa saya tidak punya potongan jadi pejabat negara. Perihal lima kebiasaan yang saya tulis diatas, saya pastikan, sebisa mungkin saya akan hindari di lingkungan tempat saya bekerja.
.
Bukan karena sok egaliter, memang sayanya saja yang canggung dengan cara-cara seperti itu.
Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyadi
Sunday, January 17, 2021 - 12:45
Kategori Rubrik: