Kacung Asing atau Kacung Setan

Oleh: De Fatah

 

Orang-orang dongok militan, berasumsi jika orang bekerja di perusahaan asing atau menjadi buruh migran disebut kacung asing.

Tenaga migrant kita yang bekerja di negara orang tidak asal-asalan. Untuk bekerja disana, mereka diwajibkan memiliki keterampilan, ada standar khusus.

 

 

Tujuan mereka disana bekerja bukan meminta sedekah. Mereka sadar, negara belum mampu mencukupi standar kebutuhan mereka.

Selain menjadi buruh, tidak sedikit saudara kita yang bekerja menjadi tenaga profesional, staf ahli, peneliti, dosen dan seterusnya.

Orang-orang yang bekerja di perusahaan asing juga begitu, kebanyakan mereka lebih kritis terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. Seperti, masalah pajak, upah buruh rendah, pencemaran lingkungan dan sebagainya.

Jangan ragukan nasionalisme mereka, mereka lah yang pasang badan penyemangat jika ada event-event internasional yang melibatkan negara kita, sambil bersorak Indonesia,.. Indonesia,.. Indonesia.

Upah dari jerih payah mereka kirimkan kembali ke Indonesia. Sumbangan remintasi TKI Th 2015 mencapai Rp 140 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dari penerimaan program tax amnesty.

Mereka bukan kacung !, mereka adalah saudara kita, penyumbang terbesar pembangunan kita.

Adapun yang menjadi kacung setan kerjanya bikin fitnah, menebar permusuhan, demo nggak kelar-kelar. Jika terkena kasus hukum, kabur tak pulang-pulang.

Lucunya, banyak yang teriak bela ulama, rupanya yang dibela Rocky Gerung, yang nyata-nyata berbeda agama. Pokoknya siapa saja yang nyinyir dengan pemerintah, mereka bela.

Jadi, siapa yang menjadi kacung setan ? Yang menebar berita bohong, tukang fitnah, memecah belah, hasut dan menebar permusuhan.

 

(Sumber: Facebook DE Fatah)

Sunday, April 22, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: