Kabut Asap (Dunia) Pendidikan

ilustrasi

Oleh : Yamin El Rust

Kabut asap pada beberapa provinsi di Indonesia sampai menyeberang ke negeri jiran, yg sempat menyepi pada kemarau lalu, sekarang muncul kembali dgn pongahnya. Seakan ia berkata, “Saya sudah tunjukkan potensi come back, tapi kalian terlihat tenang saja. Sekarang rasakan akibatnya. Hahahaha”

Sebenarnya kita tidak tenang saja, perasaan khawatir selalu ada karena pelaku ”land clearing” melalui pembakaran hutan dan lahan masih berkeliaran dgn bebasnya. Seakan para pihak yg berkepentingan menutup mata terhadap perilaku mereka sekarang dan sebelumnya.

Tinggalkan dulu upaya penegakan hukum bagi pelaku pembakaran, kita tengok sejenak akibat langsung yg ditimbulkannya pada kegiatan sehari-hari, misalnya proses belajar-mengajar seperti pada tautan berita.

Alternatif Proses Belajar Mengajar
————————————————-
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dgn kabut asapnya sudah pasti menggangu proses belajar-mengajar di sekolah pada wilayah yg terdampak. Gangguan yg ditimbulkan telah mendorong para pihak yg terkait dan peduli pada dunia pendidikan untuk angkat bicara memberikan pemikiran dan gagasan menyikapi gangguan kabut asap tersebut. Salah satu gagasan yg muncul adalah mengganti waktu kegiatan belajar-mengajar yg hilang dgn belajar di rumah secara online.

Apakah gagasan ini bisa dijalankan pada peserta didik di wilayah yg terdampak karhutla? Bisa saja, namun ada beberapa hal mendasar yg harus diperhatikan sebelum melontarkan gagasan belajar secara online, seperti:
- ketersediaan sambungan listrik;
- ketersediaan koneksi internet yg handal dan murah;
- ketersediaan pc multimedia yg memadai;
- ketersediaan aplikasi belajar online yg sesuai kebutuhan;
- ketersediaan modul ajar sesuai kurikulum versi online;
- ketersediaan pembimbing anak dlm belajar
- dll dsb dst

Diawali oleh kata ‘ketersediaan’ sebagai penekanan bahwa tidak bisa dipastikan semuanya tersedia. Kalaupun tersedia, apakah semua peserta didik pada wilayah terdampak karhutla mampu memenuhinya?

Gagasan ini sendiri tidak jauh berbeda dgn flash disk Kirim Budi yg berisi modul ajar versi offline. Bahkan kalau dicermati, penyedia flash disk Kirim Budi sudah lebih memahami kondisi keseharian peserta didik di daerah tertentu. ( https://www.facebook.com/1502673860/posts/10216037468718510?sfns=mo )

Menyedehanakan Bukan Merumitkan
—————————————————
Seakan menyadari bahwa ‘ketersediaan’ di atas sangat memberatkan, muncul upaya menyederhanakan pelaksanaan gagasan ini dgn menggeser ke bentuk lebih sederhana, yaitu penggunaan aplikasi messenger dan smartphone. Namun demikian, diyakini juga bahwa penyederhanaan ini tetap akan menemui banyak hambatan.

Hambatan pertama jelas tentang pengadaan smartphone. Hambatan kedua berkisar pada efisiensi dan efektifitas penggunaan aplikasi messenger sebagai alat bantu ajar.

Tidakkah penggagas ketahui bahwa smartphone yg harganya sangat mahal bagi sebagian orang tua peserta didik adalah candu — selain pedang bermata dua — yg harus dihindari oleh anak usia sekolah dasar, dan dibatasi pada anak usia sekolah menengah pertama, juga diawasi pada anak sekolah menengah atas?

Mungkin Bill dan Melinda Gates bisa bantu menjawab dgn menjelaskan mengapa mereka tidak memberikan smartphone pada anak mereka sampai usia sekolah menengah atas, meskipun mereka sangat mampu membelikan anak-anak mereka sebuah smartphone termahal setiap jam bukan hanya setiap hari.

Apakah pengagas ide ini juga tidak tahu bahwa aplikasi messenger dalam keseharian yg terkait dunia pendidikan hanya digunakan sebagai penyampai pesan ttg jadwal kegiatan di sekolah, tentang sumbangan, tentang tugas sekolah dll, antara penata didik dan orang tua peserta didik? Sementara peserrta didik sendiri menggunakan aplikasi messenger yg berbeda. Jaka Sembung naik gojek lah.

Silakan tengok sesekali smartphone yg digunakan peserta didik dan temukan bahwa mereka lebih menyukai Line, Wechat, dibandingkan Whatsapp. Kadang dilengkapi pula dgn Snapchat, Tik-tok, Bigo, Whisper, Secret, Tanggo dll yg kerap disalahartikan sebagai messenger dan jarang sekali digunakan oleh orang tua peserta didik dan penata didik.

Sesungguhnya hanya ada satu cara untuk mengatasi gangguan proses belajar-mengajar bagi penata didik dan peserta didik yg terdampak karhutla, yaitu mencegah kebakaran hutan dan lahan. Tidak perlu mengagas hal lain yg menimbulkan kerumitan baru

Sampai di sini seharusnya sudah cukup jelas bahwa proses belajar-mengajar alternatif tidak semudah yg dibayangkan. Kadang gagasan muncul hanya mengacu pada keseharian si penggagas, yg akhirnya tetap hanya menjadi gagasan semata.

Pendidikan (tidak) Termasuk Prioritas?
——————————————-———
Ada satu pertanyaan — agak — penting yg harus didengungkan, yaitu “apakah pendidikan termasuk prioritas dalam penanganan karhutla?”

Jawabannya bisa “ya”, bisa “tidak”.
Ya, karena proses belajar-mengajar harus tetap berjalan meskipun kabut asap semakin menebal.
TIdak, karena dalam kunjungan ke Riau dan rapat “in situ” sore ini, Presiden Joko Widodo tidak mengikutkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Silakan menduga bahwa menterinya sedang ada kegiatan lain yg lebih penting, sehingga baru sempat ikut dalam kunjungan berikutnya ke provinsi lain. Boleh juga menebak bahwa menterinya tidak sepemikiran dgn presidennya.

Oh ya, saya lupa siapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekarang ini, tapi yang pasti bukan Anies lagi. Siapapun dia, dunia pendidikan masih tertutup kabut mungkin juga asap seperti sebelumnya, dan kita benar-benar terlihat tenang menyikapinya.

Sumber :Status Facebook Yamin El Rust

Tuesday, September 17, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: