Kabarnya Prabowo 'Malas' Nyapres

Oleh : Budi Setiawan

Salah satu petinggi Gerindra, Desmond Mahesa akhirnya buka kartu. Ketua Partai Garuda Merah, Prabowo Subianto tidak berminat nyalon lagi. Ini sudah diperkirakan sejak jauh hari, mengingat sesudah Pilpres 2014, prestasi Gerindra biasa-biasa saja. Malahan banyak bolong-bolongnya yang menggerus citra partai itu dari hari ke hari.

Pak Prabowo adalah seorang jenderal yang pintar dan paham betul situasi lapangan. Sejak kekalahannya di 2014, sumber keuangan Gerindra yang tentu saja sebagian besar berasal dari Pak Probowo terkuras begitu banyak. Pertarungan perebutan gubernur di Jakarta begitu melelahkan dan menguras banyak uang.

Belum lagi pertarungan Pilkada di banyak daerah. Dari 101 Pilkada di 2017, Gerindra menang di 45 wilayah. Keuangan Gerindra juga nampaknya tergerus untuk memenangkan Pilkada di Jawa Barat, ladang suara terbesar dan penting bagi pemilihan parlemen dan presiden.

Jika banyak uang dipakai dan citra Gerindra terkerek tentu tidak masalah. Namun jujur harus diakui, lebih banyak citra buruk ketimbang prestasi Gerindra yang terbaca jelas oleh khalayak. Orang-orang dekat Pak Prabowo gagal melakukan kapitalisasi dukungan dan pencitraan yang seiring sejalan, seperti disiplin partai ala PDIP atau Golkar misalnya.

Kita melihat, kader-kader Gerindra berjalan sendiri-sendiri tanpa perduli omongan itu bermanfaat bagi Gerindra atau tidak. Lihat saja Fadli Zon dan siapa itu—yang kesasar di Semanggi. Ocehan mereka makin hari makin ngawur yang menjadikan wibawa Gerindra sedikit demi sedikit gugur.

Pak Prabowo nampaknya tidak kuasa menahan nafsu “pengen beken” orang-orangnya di lingkaran satu, Celakanya juga, pelintiran soal 2030 Indonesia bakal hancur makin meremukkan citra Gerindra.Padahal jika jernih kita menyimak pidato Pak Prabowo, isu 2030 itu semata untuk memperingatkan kita semua bahwa bangsa ini bisa terpecah belah jika kita semua tidak merawatnya. Namun, politik itu benar-benar ganas sampai bisa melumatkan citra pak Jenderal.

Pak Prabowo belakangan juga kelihatan makin lelah karena mungkin juga faktor usia. Dia memasuki usia 70 tahun yang seharusnya menjalani kehidupan dengan tenang dan santai. Seperti pak Jusuf Kalla, yang nampak menikmati betul jabatannya sebagai wapres.

Karena itu, sudahlah tepat jika Pak Prabowo tidak nyalon lagi. Beliau sudah lelah dan ingin berada dibalik layar saja. Dan memang harus demikian, sikap seorang politisi berjiwa negarawan.

Biarkan orang-orang lingkaran satu itu berjuang sampai babak belur mencari calon Presiden. Dan sudah saatnya mendorong Partai Kaos Sablon untuk berteriak sekeras-kerasnya untuk mendukung siapapun yang akan diusung Gerindra.

Penyumbang kecil itu tidak boleh tengil. Dia harus bekerja keras. Paling tidak jualan kaos dan cangkir buat tambah-tambah dana. Jangan cuma bisanya minta ke Gerindra…

Itu tidak baik…

Sumber : facebook Budi Setiawan

Tuesday, April 10, 2018 - 16:45
Kategori Rubrik: