Jusuf Kalla Politikus Lihai yang Pandai Bangu Opini

ilustrasi
Oleh : Tito Gatsu
Sebelumnya perlu Saya jelaskan terlebih dahulu bahwa tulisan ini semata-mata kritik Saya Terhadap Jusuf Kalla , jika ada pihak yang tersinggung Terhadap Saya , Saya Mohon Maaf sebelumnya tapi semua yang Saya tulis adalah fakta dan Saya Punya bukti dari Jejak digital
Indonesia ini semenjak reformasi memang penuh dagelan dan sandiwara , kenapa demikian ?
Karena Orde Baru dibangun dengan kebohongan yang luar biasa masif . Semua istilah akan satu bentuk istilah dan ideologipun bisa berubah arti
Saya tidaklah terkejut ketika Jusuf Kalla mensalah artikan mengenai radikalisme ,
JK adalah seorang politisi senior yang pandai bermain strategi dan memutar balikan sebuah kata-kata atau istilah yang seharusnya tidak boleh dirubah.
Saya mengutip dari Majalah Gatra tanggal 12 desember 2019 :
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar istilah radikalisme tidak harus dipahami secara negatif. Menurut JK, radikalisme positif lahirkan era Reformasi dan Orde Baru.
Hal ini disampaikan JK saat memberi sambutan dalam pengukuhan Haedar Nashir sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (12/12).
Di pengukuhan ini, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menyampaikan pidato “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi” yang membahas soal radikalisme.
“Kita semua sepaham, apa yang disampaikan Profesor Haedar tadi adalah hal penting yang sampai sekarang menjadi bagian dari pembicaraan di masyarakat yaitu radikalisme,” katanya.
JK menilai materi pidato Haedar itu upaya untuk memberikan pemahaman tentang radikalisme. Namun ia menyatakan tidak semua yang berhubungan dengan radikalisme itu negatif. Menurut JK, ada radikalisme yang bersifat positif untuk mengubah sesuatu ke arah positif.
Menurutnya, jika itu terjadi di pemerintahan, perubahan secara cepat dan tegas saat era Reformasi dan Orde Baru bisa disebut juga dianggap sebagai buah dari radikalisme.
“Reformasi adalah (bentuk) radikalisme. Kita di sini karena Reformasi. Orde Baru juga (bentuk) radikalisme dari Orde Lama,” katanya.
Di akhir sambutannya, JK menyatakan pidato Haedar dapat menjadi bagian pemikiran ihwal moderasi kebangsaan dan keagamaan demi kebaikan Indonesia.
Usai acara, Haedar menyatakan sebenarnya Indonesia dengan Pancasila telah menjadi jalan tengah dari semua ideologi ekstrem. Untuk itulah, ia meminta langkah-langkah deradikalisasi menjadi usaha awal atas upaya moderasi keindonesiaa dan moderasi Islam.
“Tapi kalau kita lalai, saya khawatir deradikalisasi akan menjadi kontraproduktif dan selalu akan menjadi kontroversi,” ucapnya.
Menurutnya, jalan moderasi sudah diterapkan di banyak tempat dan mampu menghadapi berbagai bentuk radikalisme yang mengarah ke kekerasan dan ekstremisme.
Dengan melibatkan kekuatan warga dan negara sebagai institusi hukum, Haedar yakin radikalisme bisa ditangani bersama. Sekarang ini radikalisme dalam berpikir dan tindakan ekstrim meluas ke kehidupan sosial, ekonomi, hukum, bahkan politik.
“Pasca-Reformasi, Indonesia mengalami proses panjang radikalisme. Jadi saat ini kita mengalami keambiguan pada istilah radikalisme dan deradikalisasi, saya menawarkan jalan moderasi dan saya yakin kita bisa,” katanya.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma'arif mengapresiasi pidato Haedar. “ Radikialisme negatif harus ditindak entah dari siapapun dan dari manapun,” ucapnya.
Nah disini Kita bisa melihat berbeda pendapat mengenai radikalisme antara Jusuf Kalla dan Haidar Nasir .
JK mengatakan Reformasi adalah bentuk radikalisme Itu jelas sebuah pernyataan sumir atau bisa disalah artikan sebagai penipuan yang terselubung dan ada makna yang dikaburkan , justru reformasi adalah langkah yang dilakukan mahasiswa pada tahun 1998 untuk membubarkan radikalisme atau lebih tepat Fasisme yang dilakukan pemerintah Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto.
Fasisme adalah hasil dari sebuah radikalisme Gerakan fasis termasuk adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Dalam ideologi fasis, massa tak boleh mempunyai identitas yang beragam dan wajib seragam. Individualitas hilang karena kebhinekaan dilarang, hancurnya identitas individu berdampak massa mengambang yang dipimpin oleh pemimpin karismatik dengan kekuasaan absolut. (Wikipedia)
Justru apa yang dikatakan Ketua PP Muhammadiyah Profesor Haedar Nasir lah yang benar bahwa Pasca-Reformasi, Indonesia mengalami proses panjang radikalisme. Jadi saat ini kita mengalami keambiguan pada istilah radikalisme dan deradikalisasi, saya menawarkan jalan moderasi . Ok mari Kita bahas :
Kata moderasi berasal dari Bahasa Latin Moderâtio, yang berarti kesedangan (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Kata itu juga berarti penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan). ... Menurut para pakar bahasa Arab, kata wasath itu juga memiliki arti yang sama “segala yang baik sesuai dengan objeknya”. atau dengan istilah para ulama NU adalah wasathiyah islamiyah yang artinya Kita kembali ke Akhlak diri sendiri, menghargai sesama manusia dan mendahulukan kualitas Akhlak diri sendiri terlebih dahulu Baru merobah orang lain. Hal ini sangat Sejalan dengan prnsip demokrasi dan deradikalisasi sebagai ideologi Negara Republik Indonesia dan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nah sekarang Kita coba mengartikan kata radikalisme , menurut kamis besar bahasa Indonesia radikalisme/ra·di·kal·is·me/ adalah 1 . paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik. Artinya radikalisme adalah sebuah gerakan yang menginginkan perubahan sosial secara damrastis dan ekstrim , Saya tak perlu lagi menjelaskan yang akan dilakukan oleh HRS dan para pengikutnya atau bagaimana bila terjadi Indonesia menjadi negara Khilafah karena sudah jelas akan terjadi perubahan yang ekstrim pada sistem sosial dan pemerintahan , jadi sangat berbeda antara istilah radikalisme, reformasi dan moderasi .
Pak JK malahan menuduh pemerintahan Orde lama yang dipimpin Bung Karno adalah radikalisme ...Hmmm sebuah pernyataan yang sangat sembrono dan sembarangan Bung Karno jauh lebih demokratis daripada Soeharto dimana semua aspirasi bahkan Komunisme diakomodir dalam konsep sistem pemerintahan yang dinamakan Nasakom, sedangkan Orde Baru memiliki sistem pemerintahan dimana kekuasaan mutlak berada ditangan Presiden yang anti perbedaan dan Fasis walaupun selalu menampilkan seolah-olah demokratis.
Saya tidak faham dengan jalan pikiran Jusuf Kalla yang pandai memutar balikan kata padahal dia Punya team yang hebat padahal Setelah tidak jadi Waprespun punya juru bicara apakah apa yang dikatakan bertujuan membodohi rakyat Indonesia atau memang tidak faham Keduanya sama-sama mencerminkan ketidak beresan tapi entahlah bisa saja sebagai manusia Saya salah dan Saya memang orang bodoh yang cuma rakyat jelata.
Kemudian ada satu pengakuan bahwa dia adalah seseeorang yang pernah menipu Gus Dur , Saya kutip dari Buku karya Ansori Saleh :
Mungkin usaha untuk membersihkan namanya dari peristiwa ketika dia dipecat menjadi mentri di era Presiden Abdurahman Wahid.
"Gus Dur doyan sekali memecat menteri. Setiap dua bulan sekali memecat menteri. Sebenarnya waktu itu saya mau dipecat dua kali. Tapi, saya berhasil selamat," ujar JK dalam buku Mata Batin Gus Dur karya Imam Anshori Saleh (2017).
Waktu itu, pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI selama dua periode ini dipanggil Gus Dur. Posisinya tengah melawat ke luar negeri dan Gus Dur memintanya segera kembali ke Tanah Air. JK berpikir pasti ada masalah yang gawat.
"Anda sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi. Anda pergi ke luar negeri tanpa izin," kenang JK mengutip ucapan Gus Dur.
Mendengar itu, JK langsung memutar otak agar posisinya aman. Tiba-tiba terlintas ide untuk menjawab Gus Dur. Ia mengambil sebuah kertas kosong di dekatnya.
Dengan percaya diri, JK menyerahkan kertas itu kepada Gus Dur. "Ini ada surat izin dari Setneg," jelas JK. JK memanfaatkan kondisi atasannya saat itu yang tidak melihat. Di kesempatan pertama ini JK selamat. Namun, sebulan kemudian Gus Dur memanggilnya kembali untuk menghadap. "Dan, kali itu saya dipecat betulan," kata JK.
Gus Dur resmi memecat JK sebagai Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan pada April 2000. Bersama JK, Menteri Negara BUMN Laksama Sukardi mengalami nasib yang sama.
Sejak saat itulah hubungan Gus Dur dengan Partai Golkar dan PDI-P memburuk karena dua menteri tersebut adalah pucuk pimpinan partai tersebut.
Saya menampilkan menulis artikel ini hanya menginginkan Indonesia memiliki Pemimpin yang benar benar jujur dan tidak pandai membodohi rakyat karena Saya Sudah sangat muak dengan permainan kata dan tipu-tipu para politisi di Indonesia .
Salam Kedaulatan Rakyat
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.
Monday, February 15, 2021 - 09:15
Kategori Rubrik: