Jurus Dewa Mabuk Prabowo

Ilustrasi

Oleh : Adinda

Berbagai pernyataan kontroversial Capres Gerindra 2 bulan belakangan ini sepertinya bukan karena ketidaktahuan atau salah data. Melainkan strategi yang diterapkan Dewan Penasehat Partai Gerindra memang seperti itu. Jadi jangan kaget jika sampai menjelang hari coblosan Pemilu April 2019 kontroversi pernyataan Prabowo terus terjadi. Entah penasehat politik darimana yang dipakainya tetapi strategi ini seperti mencontoh apa yang dilakukan di Amerika Serikat. Untuk mengobrak abrik elektabilitas petahana.

Sejak melontarkan ilusi Negara Indonesia Bubar 2030, secara berturut-turut apa yang dikemukakannya menjadi riuh. Bukan hanya di media mainstream namun juga di media sosial. Ada pernyataan 99 persen kondisi rakyat miskin, tampang Boyolali tak pantas masuk hotel mewah, penolakan pinjaman yang diajukan di Bank Indonesia, Lulusan SMA hanya jadi tukang ojek dan berbagai pernyataan lainnya. Lantas mengapa jurus dewa mabuk itu diterapkan? Ada beberapa analisis yang bisa kita kupas untuk mengetahui motifnya.

  1. Menggerogoti elektabilitas petahana. Ekses ini diharapkan muncul dikalangan pendukungnya untuk mempercayai apa yang diungkapkannya. Hal itu menstigma bahwa pemerintah telah gagal membangun Negara
  2. Membingungkan swing voters. Bagi pemilih yang masih ragu-ragu, lontaran prabowo ini diharapkan bisa membuat pemilih yang belum memutuskan pilihan akan mempertanyakan atau melanjutkan lontaran Prabowo ke pendukung petahana.
  3. Menyibukkan pendukung petahana membuat lucu-lucuan pernyataan Prabowo. Upaya itu akan mengalihkan pendukung untuk tidak sempat membagikan apa saja keberhasilan petahana.

Potret ini menggambarkan bahwa ajang Pilpres sebagai perwujudan demokrasi Indonesia bukan semakin maju. Selain kabar bohong, fitnah, hoax, ternyata ada capres dan parpol yang tidak benar-benar ingin mendewasakan demokrasi kita. Sebagian kecil elit partai ada yang memang tidak serius memberikan pendidikan politik yang makin dewasa. Sungguh upaya yang menyedihkan melihat perkembangan demokrasi yang selayaknya kita menjadi Negara yang elegan dalam penyelenggaraan demokrasi.

Bentuk ketidakseriusan kubu Prabowo ditambah dengan topik-topik yang rentan konflik. Mereka menyertakan isu-isu agama, perpecahan, adu domba, fitnah dan lainnya. Sebut saja tentang bendera tauhid, penangkapan otak admin medsos yang mengelola akun penyebar fitnah (Saracen, MCA, SR23/suara rakyat 23, Jonru dll), demo 212, 411 dan lain sebagainya. Padahal Indonesia berpeluang menjadi negara demokrasi yang bisa berkembang jauh lebih cepat dibanding negara lain. Jadi, apakah kita akan mendukung Capres yang menggunakan jurus

Monday, November 26, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: