Jurnalisme Preman

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Wartawan terima amplop itu udah bukan hal aneh lagi. Dulu, di awal karirku jadi wartawan kaget sih. Gak nyangka, banyak oknumnya.

Bukan terima amplop aja, malah ada yang nekad minta jatah. Datangin pejabat yang pernah jadi narasumbernya, minta beliin tiket pesawat, minta THR jelang lebaran.

Sempat kecewa berat aku. Tapi jadi maklum. Apalagi wartawan di media kecil. Gajinya paling gede UMR, tanpa bonus, sering telat pula ngasihnya. BPJS juga gak ada. Kontrak kerjanya juga gak jelas, jadi kalau sewaktu-waktu kena PHK ya tanpa pesangon.

Jangankan media kecil, media nasional saja ada yang kayak gitu. Gak sebanding dengan risiko kerja.

Kecelakaan di jalan saat memburu TKP, atau kecelakaan di TKP ketika meliput demo dan kerusuhan.

Jam kerja wartawan itu juga 24 jam. Pernah, aku jam 12 malam ditelpon redaktur suruh meliput kejadian perampokan sebuah bank di daerah pinggiran. Menempuh perjalanan lewat hutan.

Banyak yang kayak gitu, lebih dari itu.

Beberapa oknum wartawan memilih usaha sampingan. Membuat media berita juga, cetak maupun online. Aku menyebutnya media preman. Gak semua sih.

Tapi, khusus yang beritanya garang, suka main hantam gosip seputaran pejabat.

Awalnya, tulis berita dugaan kasus yang melibatkan pejabat. Padahal kasusnya masih samar, belum jelas. Informasi didapat dari asumsi. Ada juga dari berkas di kejaksaan yang masih proses.

Setelah berita terbit, datangi si pejabat. Kalau mau namanya dibersihkan, minta sejumlah uang. Setelah itu, terbitlah berita angkat telor si pejabat.

Cara-cara itu kadang juga dipakai media besar di daerah. Karena, oplah penjualan koran cetak gak selalu ramai, iklan dari perusahaan swasta gak selalu banyak, iklan ucapan dari pejabat (ucapan selamat tahun baru, selamat hari raya, belansungkawa dll) gak selalu ada.

Tapi masih untung sih, media mainstream di daerah dapat jatah anggaran dari pemerintah daerah setempat, juga dari tiap instansi, dari DPRD juga.

Semoga Tempo, Viva dan media-media nasional yang pernah terpercaya tidak meniru cara-cara media preman di atas. Meski beberapa tahun terakhir babak belur pemasukannya, efek polarisasi dukungan politik.

Sumber : Status Facebook Nurul Indra
 
Monday, April 6, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: